Isu Keagamaan dalam Bid’ah Cinta

(Foto: Kabar/ Majid)

Semarang, KABARFREKUENSI.COM
– Ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas memenuhi Audit 2 kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (2/3). Dalam suasana ruangan yang panas, mereka menunggu kehadiran para tamu dari Jakarta yang merupakan creator film Bid’ah Cinta.  Pukul 10.15 WIB, Nurman Hakim (Sutradara), Ben Shohib (Penulis Naskah) dan Yoga Pratama (Pemeran Zaki) memasuki ruangan dan memulai Talkshow film Bid’ah Cinta.

Acara tersebut diselenggarakan oleh DEMA Fakultas Ushuludin dan Humaniora (FUHUM). Kaninga Pictures menggaet DEMA FUHUM untuk melaksanakan acara Talkshow Film Bid’ah Cinta dengan tema “Satu Agama, Beda Perspektif, Memotret Cara Pandang Beragama Masyarakat Melalui Sebuah Film.” Promo film serupa juga diadakan di UIN Sunan Gunung Jati, Bandung dan juga akan dilaksanakan di perguruan tinggi lainnya, khususnya perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Awalnya, panitia merasa khawatir apabila tidak ada audiens yang datang. Pasalnya acara ini dilaksanakan pada jam perkuliahan. Afifuddin, Panitia Pelaksana, mengungkapkan bahwa pamflet yang disebar hanya melalui sosial media saja. Namun, kekhawatiran mahasiswa Akidah Filsafat Semester 4 itu terjawab dikarenakan peserta yang mengikuti acara ini diluar target perkiraannya. “Kami tidak mengira peserta yang datang bisa sebanyak ini,” ungkap Afif.

Maraknya Isu Keagamaan

Film ini bercerita tentang kisah cinta antara dua sejoli, Kamal (Dimas Aditya) dan Khalida (Ayushita). Mereka lahir dari dua keluarga yang berbeda pandangan tentang Islam, Islam Puritan dan Tradisional. Perbedaan pandangan ini mendatangkan dampak pada kedua sejoli itu.

Dalam isu keagamaan yang sedang marak saat ini, Nurman Hakim selaku Sutradara mengungkapkan bahwa film ini tidak ada kaitannya dengan isu agama yang ada. “Film ini diproduksi 2 tahun lalu, jadi tentu tidak ada hubungannya dengan isu agama yang beredar saat ini,” tegas Nurman.

Nurman menambahkan adapun isu perbedaan madhab dan intoleransi pasti akan selalu ada. Oleh karena itu film ini lebih fokus pada bagaimana mengubah cara pandang masyarakat agar lebih toleran terhadap perbedaan. Alumni pondok Futuhiyyah itu juga menekankan, Bid’ah cinta ingin mengenalkan bahwa Islam itu harmonis dan cinta dapat meluruhkan segala perbedaan. (Kabar/ Furqon)