Gusdur Pemersatu Perbedaan

(Foto/ Puji)

Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Komunitas Gusdurian Semarang mengadakan acara untuk memperingati hari ulang tahun ke-77 Gusdur atau K.H. Abdurrahman Wahid. Acara berjudul “Malam Peringatan Hari Lahir Gusdur ke-77 Tahun” ini diikuti puluhan gusdurian dari berbagai lintas agama. Bertemakan “Merawat Kebangsaan Melindungi Keragaman”, Acara ini diselenggarakan pada Minggu (6/8)  pukul 18.30 WIB di Gedung Merby Centre.

Acara utama yakni diskusi bersama enam narasumber dari berbagai lintas agama dimoderatori oleh Muhammad Husni Mushonifin. Mengundang enam narasumber yakni Rama Budi (Katholik), Kyai Khoirul Anwar (Islam), Pendeta Arianto Nugroho (Kristen), Pendeta Susilo (Protestan), Kwa Tong Hai (Tionghoa) serta Pendeta Agus ( Budha), Mereka menyampaikan bagaimana peran pentingnya sosok Gusdur bagi Indonesia.

Arianto Nugroho mengungkapkan bahwa perayaan Imlek tidak akan pernah ada tanpa adanya Gusdur. Pada saat Gusdur menjabat menjadi presiden, Beliau tidak melarang adanya perayaan Imlek, ini menandakan sifat toleran yang dimiliki oleh presiden Indonesia ke-4 itu. Tak hanya itu, menurut Khoirul Anwar, Gusdur merupakan juru kedamaian. Hal ini dikarenakan menjaga kedamaian merupakan ajaran agama Islam. “Menurut Hukum Islam, Menjaga kedamaian adalah farhu kifayah” Ungkap Anwar.


Salah seorang pengisi acara yang membacakan puisi, Kelana mengatakan “Gusdur adalah sosok multidimensi, tidak bisa memaknai beliau dari satu pandangan, Selain itu beliau merupakan sosok yang maju pemikirannya”. Ketua Cabang PMII Semarang, Muhammad Zuhri berharap generasi penerus mengamalkan pemikiran Gusdur, tidak hanya sebatas membacanya buku tentangnya saja. (Kabar/ Puji)