Bunga di Gurun Sahara

Ilustrasi : Google.com
Oleh: Binti Mutammimah*

Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Sebuah kasih yang tak seorang pun dapat menggantikannya. Sebuah kasih yang asalnya dari jiwa terdalam, untuk kita anak-anak surga, sebagai pembimbing kelak di kemudian hari. Berjalan meratap kosongnya koridor, memikirkan sekembalinya dari gurun sahara, kesanggupannya menjadi bunga, sambil memandangi sebuah gambar tanpa warna.
Ada seorang lelaki yang sangat mirip denganmu di foto dalam dompet itu, tengah menggendong seorang bayi mungil. Lelaki itu, usianya tiga puluh lima tahun, tersenyum, dan tampak gagah dengan kemeja yang warnanya tak begitu jelas. Matanya tampak berkaca-kaca penuh haru dan harap. Tapi di balik itu, seperti ada kekhawatiran yang tertahan.
Lelaki itu ayahmu, sembilan belas tahun yang lalu. Ia ingin menyambut kehadiran adikmu. Ya, bayi mungil itu tentu saja adalah adik bungsumu. Hari itu, semestinya ayahmu ada di sana menemani detik-detik perjuangan kekasihnya melahirkan adikmu. Sayangnya, ada tugas yang tak dapat digantikan. Setelah selesai, ia terburu-buru menuju Puskesmas tempat bidan desa, adikmu akan dilahirkan. Ia tiba dengan baju yang basah karena keringat dan nafas yang tersengal-sengal.
Kisah cinta mereka adalah kisah cinta biasa. Ayahmu adalah seorang petani yang sawahnya tidak terlalu luas, sebagian hasil panen disimpan untuk makan sehari-hari, sebagian lagi dijual untuk membeli bahan makanan lain. Dan ibumu, ia seorang perias pengantin yang cukup terkenal namun penghasilannya tak seberapa. Sementara itu, sebenarnya ibumu bukanlah istri pertama ayahmu.
Allah mempersatukan mereka berdua, hingga sampailah mereka di titik ini. Salah satu titik dalam garis hidup yang mereka tunggu-tunggu. Kadar penantian mereka akan kehadiran seorang putri sudah mencapai tahap gawat. Akhirnya, setelah lebih kurang sepuluh tahun mereka menanti, dikabulkan juga doa-doa mereka di setiap malam panjang yang mereka lewati setiap hari: adikmu hadir disana, sebagai janin kecil yang diperkirakan oleh seorang dukun beranak berjenis kelamin perempuan, sangat dinantikan.
Sepuluh tahun.
Manusia mana di muka bumi ini yang merindukan seseorang sepuluh tahun lamanya, lantas merasa biasa saja ketika akhirnya bisa berjumpa dengan yang dirindukan itu? Begitu pula ayah dan ibumu. Kamu barangkali bisa membayangkannya kerinduan itu, tapi tak benar-benar bisa merasakannya.
Di tengah kekhusukan ia berdoa, terdengar suara tangis yang nyaring. Pintu terbuka, seorang perawat keluar dengan bayi mungil di tangannya. Dengan ekspresi penuh rasa bersalah menyerahkan bayi itu, seorang puteri cantik dengan hidung orang Indonesia yang cenderung pesek. Ayahmu senang bukan kepalang ia bersimpuh mengucap syukur. Putri yang dalam benaknya kelak akan merawat mereka ketika tua kelak. Tetanggamu yang bekerja sebagai wartawan dan ikut menantikan kehadiran adikmu langsung mengabadikan momen itu.
 Beberapa saat kemudian, detik-detik melambat. Sepaket dengan kalimat bidan yang diucapkan terbata-bata mengubah ekspresi wajah ayahmu dalam sekejap.
“Mohon maaf, pak," katanya sambil tertunduk, “Takdir Tuhan berkata lain, istri bapak berhasil melahirkan putri bapak dengan susah payah, namun mengalami pendarahan dan tak bisa diselamatkan.”
Ayahmu tersendak, tubuhnya gemetar. Matanya penuh dengan air mata yang tak dapat dibendung. Adikmu lantas diserahkan kembali ke pangkuan perawat. Ia berlari memeluk tubuh ibumu yang dingin tak bernyawa. Beberapa menit kemudian ia tak sadarkan diri. Kehilangan gairah dan semangat hidup untuk kali kedua bukanlah hal yang mudah.
Cukup lama ayahmu berbaring tak sadarkan diri. Kamu yang saat itu masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak tak mengerti apa yang terjadi. Rumahmu ramai, kakakmu yang sudah duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar menangis di pangkuan pamanmu. Adik lelakimu yang berusia tiga tahun digendong oleh Bude Warti, tetangga sebelah rumahmu dan adik bayimu aman bersama dengan bidan desa.
Allah menciptakan manusia untuk diuji: apakah akan tunduk kepada-Nya atau justru membangkang dengan dada membusung sambil terus berjalan menjauh dari-Nya.
Beberapa hari setelah peristiwa kelahiran yang penuh dengan darah dan air mata, ayahmu mulai tenang. Adikmu dibawa pulang ke rumah. Dibantu dengan Bik Sri, adik kandung ayahmu, kamu dan ketiga saudaramu diasuh dengan penuh kasih sayang.
Dua tahun sudah Bik Sri membantu mengurusmu dan ketiga saudaramu, hingga ia memutuskan untuk kembali lagi ke kampungnya dan hanya sekali dalam dua bulan ia berkunjung. Hal ini membuatmu dan kakakmu tumbuh menjadi mandiri. Sepulang sekolah kamu dan kakakmu bergantian mengurus kedua adikmu serta mengembala kerbau. Bahkan di usiamu yang masih belia kamu sudah bisa ngeliwet nasi, karena ayahmu tak sempat. Bersyukur kamu memiliki tetangga seperti Bude Warti yang bisa dimintai tolong untuk memasakkan sayur atau lauk untuk kalian makan.
Dua kali ditinggal oleh sang kekasih untuk selamanya membuatnya menjadi seorang pria berwatak dingin dan acuh, termasuk denganmu dan ketiga saudaramu. Kamu tumbuh sebagai anak yang kekurangan kasih sayang. Dalam benak ayahmu hanya ada kalimat “yang penting aku sudah menepati janjiku untuk membesarkan anak-anak” tanpa memikirkan bahwa kalian juga memerlukan kasih sayang dan perhatian.
Kamu beranjak dewasa, adik bayi mungilmu tumbuh menjadi gadis cantik yang sama sepertimu, penuh kemandirian. Membagi waktu untuk mengasuh adik dan mengembala kerbau, membuatmu kehilangan banyak waktu untuk mengulang pelajaran di rumah. Meski kamu bukan siswa yang pandai setidaknya kamu masih memiliki kemauan untuk belajar dan membantu adikmu belajar.
Hari itu tanggal 21 Desember. Adik perempuanmu menghampirimu, ia bertanya tentang ibu. Lantas kamu hitam, bak tangki air yang berlubang di dasarnya dan kamu mencoba menambalnya lagi dengan kertas tipis.
            Dengan terbata-bata kau bertanya,
            “kenapa dek, kok tiba-tiba tanya tentang ibu?”
Adikmu bercerita, bahwa guru Bahasa Indonesia memberi tugas untuk membuat puisi tentang ibu. Dan setiap siswa wajib membacakan puisinya di atas panggung didampingi oleh ibu masing-masing.
Kamu sela jawaban adikmu dalam rintihan, kehangatan pilu mengalir di pipimu. Adikmu terdiam memandangi wajahmu yang mememarah dengan pipi yang basah. Puisi untuk ibu? Bagaimana mungkin? Batinmu saat itu. Wajahnya saja dia hanya tahu dari foto, yang tak begitu jelas. Jangankan dia, kamu pun sudah lupa bagaimana wajah ibu. Membaca puisi didampingi ibu? Lelucon apalagi itu. Dukun mana yang harus kamu kunjungi dan dimintai tolong untuk menghidupkan kembali ibumu beberapa menit saja demi adikmu?
Saat itu kamu membenci waktu, dan merasa Allah terlalu tega terhadapmu karena ia telah mengambil ibumu. Hampir lima menit kamu menangis, lalu kamu hapus air matamu.
“Kita ke makam ibu yuk.” Ajakmu. Ucapanmu mengejutkan. Hampir sepuluh tahun kamu menutupi semuanya dan bertindak seolah semua baik-baik saja, namun hari itu kamu bertindak sabagaimana mestinya.
22 Desember, hari ibu. Ya, seharusnya ibu yang berdiri di samping adikmu bukan kamu, kakaknya. Tapi bagi adikmu itu sudah lebih dari cukup.

            Ibuku adalah kakakku
            Kakak memang tak pernah menyusuiku
            Kakak juga bukan ayahku
            Kakak juga tak membesarkanku.

            Tapi setiap pagi
            Kakak selalu menyiapkan sarapan untukku
            Mengajariku membaca dan berdoa

            Ibuku adalah kakakku
            Dia yang mengasuhku dengan kasih sayang
            Dia bagai bunga di tengah gersangnya gurun sahara

            Ibuku adalah kakakku
            Digandengnya tanganku
            Bersama kami akan pergi menyusul ibu
            Di surga nanti

Puisi singkat namun mengharukan. Guru-guru dan wali murid yang datang bertepuk tangan, sebagian lagi sibuk menyeka air mata.
*
Sifat acuh dan keras kepala ayahmu masih terus berlanjut sampai kamu lulus dari bangku sekolah menengah atas. Kemauanmu untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi ditolak mentah-mentah oleh ayahmu. Baginya sekolah sampai menengah atas itu sudah luar biasa, dibandingkan teman-teman seusiamu yang hanya lulus SMP atau bahkan SD.
Dengan tekat yang bulat dan nekat, kamu jual kerbau milik ayahmu. Kamu berangkat ke Yogyakarta, tanpa berpamitan langsung dengan ayahmu. Kamu hanya menuliskan surat berisi permintaan maaf dan doa restu, kamu juga berjanji akan menjadi orang sukses yang lebih baik dari ayahmu. Surat itu kamu titipkan adik perempuanmu yang tak berhenti mengalir air matanya.
Tujuh puluh dua jam perjalanan dari desamu menuju ke Yogyakarta, tanpa tujuan yang pasti. Kamu bersinggah di Masjid As-Salam, desa Sutopadan, kelurahan Kasian, Bantul, Yogyakarta, dekat kampusmu. Di sana kamu dipertemukan dengan seorang pria seumuran dengan ayahmu. Bapak Sabar, yang memberimu izin untuk menjadi takmir masjid.
Hidup alakadarnya, kiriman uang tak tentu datang, kamu terus berusaha untuk kuliah. Bekerja serabutan kesana-kemari, mengerjakan apa saja yang bisa kamu kerjakan untuk biaya kuliah. Semangatmu tak pernah padam karena janji yang kamu buat selalu kau ingat.
***
Hari itu kamu diwisuda. Jalanan sempit sesak dipenuhi dengan kendaraan orang tua para wisudawan-wisudawati, meski orang tuamu tak termasuk di antara mereka. Ketika yang lain didampingi oleh orang tua dan keluarga, kamu hanya didampingi oleh selembar kertas, foto ayah dan adik bungsumu sembilan belas tahun yang lalu. Sembilan semester kau tempuh untuk mendapatkan gelar S.Ag dengan indeks prestasi hanya 2,75 setidaknya kamu sudah berhasil melewati rintangan-rintangan itu.
Setelah empat setengah tahun kau merantau, tibalah saat itu kau kembali ke kampung halamanmu dengan rasa bahagia dan bangga karena telah berhasil menepati janjimu kepada ayahmu.
Kamu percepat langkahmu agar segera menemui adik dan ayahmu. Namun, seketika langkahmu justru melambat ketika sudah hampir sampai di halaman rumah. Rumahmu ramai.
Kamu teringat akan peristiwa enam belas tahun yang lalu, yang tampak samar di ingatanmu. Peristiwa ketika rumahmu ramai dan penuh dengan airmata. Langkahmu terhenti, hati begitu penuh dengan ketakutan seolah tanpa harapan. Pipimu mulai basah, becek karena air mata. Setelah hampir satu menit kau berhenti dan berpikir, lantas segera kau lari menuju rumah tanpa menghiraukan tas bawaanmu.
Dengan airmata yang belum terbendung kamu masuk ke dalam rumah. Ya, peristiwa enam belas tahun yang lalu kembali terulang. Kau peluk ayahmu dengan erat sambil menangis tersendu-sendu, hingga kau merasa lega. Rumahmu ramai dan penuh air mata.
Namun, kali ini air mata haru dan kebahagiaan. Setelah enam belas tahun, akhirnya ayahmu yang dingin dan keras kepala menemukan kehangatannya, yang melembutkan kembali hatinya. Ayahmu menikahi seorang janda. Yang kelak kau panggil ibu. Meski kau sempat merasa kecewa karena ayahmu tak memberimu kabar akan pernikahannya, kamu tetap merasa bahagia dan bersyukur karena Allah telah mengembalikan ayahmu seperti dahulu, dan adik perempuanmu kini sudah lulus dari sekolah menengah atas dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri terbaik di pulau sumatera. Tentu, dengan restu dari ayahmu.
Yakinlah bahwa segala bentuk ketertekanan yang menderamu, adalah cara Tuhan untuk membuatmu lebih kuat. Memaksamu untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada, karena setiap kita memiliki benih untuk menjadi hebat. Jadi, melangkahlah.



*)Kru Magang LPM Frekuensi
Prodi Pend. Kimia
Angkatan 2017