Rusmadi: Kerusakan Lahan Basah Karena Kesalahan Cara Pandang

(Foto/ Ery)

Semarang, KABARFREKUENSI.COM – “The Essense of Wetland For Sustainable Development Goals” menjadi tema Seminar Nasional yang diselenggarakan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia (IKAHIMBI) Sabtu, (03/02). Seminar yang berlangsung di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo mengundang antusiasme peserta yang hadir.  Terlihat dari keriuhan tepuk tangan para peserta seminar saat pembicara selesai memaparkan materi seminarnya.
Dalam momentum tersebut, pembicara yang hadir yaitu Jafron Wasiq Hidayat sebagai pembicara pertama yang memaparkan tentang konsep rehabilitasi danau yang melibatkan peran masyarakat, dan Rusmadi sebagai pembicara kedua dengan memaparkan tentang pentingnya menjaga eksistensi lahan basah demi kehidupan yang lebih baik.
Jafron yang merupakan dosen di Universitas Diponegoro mempresentasikan penelitiannya terkait penerapan Sawah Eco-sorban dalam rangka rehabilitasi danau berbasis masyarakat. Dalam penelitiannya tersebut, ia menjelaskan pengaruh aktifitas manusia terhadap perubahan Danau Rawa Pening yang ada di Kabupaten Semarang. Ia menyebutkan mahalnya biaya untuk merehabilitasi rawa dari kerusakan bila menggunakan teknologi dengan pembiayaan dari beberapa pihak seperti pemerintah dan swasta. Solusi yang ia tawarkan adalah konsep yang memberdayakan masyarakat sekitar rawa. “Saya mengusulkan rancangan yang bernama Sawah Eco-sorban,” katanya.
Konsep sawah Eco-sorban yang memanfaatkan makhluk hidup, seperti padi untuk menyerap nutrisi terlarut dalam air sebelum masuk kedalam perairan yang lebih besar menurutnya dapat menjadi solusi rehabilitasi danau. Konsep tersebut juga menekan biaya yang harus ditanggung bila menggunakan teknologi tinggi. Namun meski demikian, ia menyatakan terdapat tantangan dalam melaksanakan konsep tersebut. “Secara social menggiring masyarakat untuk melakukan pertanian Eco-sorban itu tidak mudah,ungkap Jafron.
Rusmadi selaku pembicara kedua mengatakan, terjadinya kerusakan lahan basah itu karena kesalahan cara pandang manusia terhadap lahan tersebut. Menurutnya, sebuah kota haruslah didesain sesuai dengan cara kerja alam. “Kota itu harus Design by nature, jangan melawan kehendak alam,tegasnya.

Lebih lanjut Rusmadi yang juga dosen Biologi UIN Walisongo menyebutkan pentingnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan lahan basah.“Konservasi harus ada di alam pikiran kita,” jelasnya. (Kabar/ Ery)