Perjanjian di Samarra

Ilustrasi/ google.com

 Sang Narator adalah Malaikat Maut
Alkisah ada seorang saudagar di Bagdad yang mengutus abdinya ke pasar untuk membeli perbekalan dan sesaat ketika abdi itu kembali, pucat dan ketakutan, dan berkata, “Tuan, baru saja ketika aku berada di pasar, aku berdesakan dengan seorang wanita di keramaian, dan ketika aku berbalik, yang kulihat adalah Malaikat Maut yang mendesakku tadi. Ia menatapku dan memberi isyarat mengancam.” “Sekarang, pinjami aku kudamu, lalu aku akan pergi dari kota ini dan menghindari takdirku. Aku akan pergi ke Samarra dan di sana Malaikat Maut itu tak akan menemukanku. Saudagar tersebut meminjamkan kudanya, lalu pelayan itu menungganginya dan ia meraih pacu di sisi-sisinya, dan ia pergi secepat kuda itu berderap. Kemudian pergilah sang saudagar ke pasar dan ia melihat wanita itu berdiri di tengah kerumunan dan ia mendekatinya sambil berkata, “Mengapa kau memberi isyarat ancaman kepada abdiku sewaktu kau bertemu dengannya pagi ini?” “Itu bukanlah isyarat ancaman,” lanjutnya, “itu hanya sebuah kejutan awal. Aku takjub melihatnya di Bagdad, karena aku punya janji dengannya malam ini di Samarra.

Catatan:
Cerita ini diterjemahkan oleh Maria Ulfah dan Mu'ammar Rahma Qadafi sebagai penyelaras aksara dari judul The Appointment in Samarra yang dikisahkan ulang oleh W. Somerset Maugham [1933].