Hujan turun pelan, seperti bisikan rahasia yang tidak ingin didengar siapa
pun.
Di bawah langit yang kelabu, Rania berdiri sendirian di halte kecil, menatap
titik-titik air yang jatuh di ujung sepatunya.
Di tangannya, ponsel itu masih terbuka pada satu nama: Arka.
Sudah berbulan-bulan, nama itu tidak lagi muncul di layar. Tidak lagi
menanyakan, “Kau sudah makan?” atau “Kau
masih suka menatap senja sendirian?”
Langit sore ini tampak sama seperti hari itu hari ketika Arka pergi tanpa banyak kata.
Rania menarik napas panjang. Udara terasa seperti kenangan yang menolak
menguap.
“Aku masih di sini, Arka,” gumamnya pelan.
“Masih di bawah langit yang sama, meski langitnya tak lagi menyebut namamu.”
Malam datang perlahan. Kota Semarang menyala dengan lampu-lampu yang
menggantikan bintang. Rania duduk di balkon kos, menatap langit yang entah
milik siapa.
Ia membuka buku catatan lusuh yang dulu sering mereka tulisi bersama. Di
halaman ketiga, ada tulisan tangan Arka:
“Kalau suatu hari aku pergi, jangan cari aku di darat atau laut.
Carilah di langit, karena di sanalah aku akan menetap.”
Rania tersenyum getir. “Kau benar-benar menepati kata-katamu, ya?”
Suara ketukan di pintu memecah lamunannya. Dina, teman sekamarnya, muncul
dengan wajah khawatir.
“Masih belum bisa tidur?” tanya Dina.
“Belum,” jawab Rania lirih.
“Kau memikirkannya lagi?”
Rania terdiam sejenak, lalu menatap hujan. “Aku tidak memikirkannya, Din. Aku
hanya sedang berusaha melupakan sesuatu yang bahkan masih hidup di udara yang
kuhirup.”
Dina menatapnya dalam diam. Ada sesuatu di mata Rania yang selalu tampak
menahan hujan seolah setiap air mata sudah dilatih untuk tidak jatuh.
Keesokan harinya, Rania pergi ke taman kampus. Tempat itu dulu saksi banyak
percakapan antara dia dan Arka.
Mereka bertemu di sana dua tahun lalu saat
Rania jatuh cinta pada suara, bukan rupa.
Arka, mahasiswa seni musik yang selalu membawa gitar ke mana pun ia pergi.
Ia duduk di bawah pohon flamboyan, menyanyikan lagu-lagu yang bahkan tak punya
judul.
“Lagu itu tentang siapa?” tanya Rania saat pertama kali menghampirinya.
“Tentang seseorang yang belum kukenal,” jawab Arka sambil tersenyum.
“Dan sekarang?”
“Sekarang... mungkin tentangmu.”
Rania tertawa waktu itu, tanpa tahu bahwa kalimat sederhana itu akan menjadi
asal mula luka panjang.
Musim berganti.
Cinta mereka tumbuh seperti bunga liar
tak butuh banyak kata, hanya kehadiran.
Namun, sesuatu berubah di bulan-bulan terakhir.
Arka mulai sering hilang kabar, datang hanya dengan kalimat singkat:
“Aku sibuk.”
“Nanti aku jelaskan.”
“Kau percayakan saja padaku.”
Rania mencoba percaya, sampai suatu sore, kabar itu datang bukan dari Arka, tapi dari seorang teman
fakultas.
Arka… meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan ke Jogja.
Ia sedang menuju tempat audisi musik yang sudah lama ia impikan.
Rania tidak menangis hari itu. Ia hanya duduk di tepi jendela, menatap
langit yang terasa menutup diri.
Langit yang dulu menjadi saksi tawa mereka, kini seperti menolak menyebut
namanya lagi.
Tiga bulan berlalu.
Rania masih rutin mengunjungi taman flamboyan. Ia membawa buku catatan itu,
duduk di bawah pohon yang sama, berbicara pada udara seolah Arka masih di sana.
“Kau tahu, aku masih mendengarmu di antara dedaunan,” katanya pelan.
“Lucu, ya? Dulu aku takut kehilangan, sekarang aku malah berbicara dengan
kehilangan itu sendiri.”
Seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Rania menoleh. Seorang laki-laki berdiri di sana wajahnya asing, tapi matanya
membawa kehangatan yang aneh.
“Kau Rania, kan?”
“Iya… maaf, kita kenal?”
“Aku Dira. Teman satu band Arka. Aku pernah lihat kamu waktu dia tampil di kafe
kampus.”
Nama itu membuat jantungnya berhenti sejenak
Arka.
“Arka pernah menitipkan sesuatu untukmu,” lanjut Dira sambil mengeluarkan
sebuah flashdisk kecil dari kantong jaketnya. “Dia sempat
bilang kalau... kalau sesuatu terjadi, aku harus menyerahkan ini ke kamu.”
Rania memegang benda itu dengan tangan bergetar.
Dunia seolah berhenti berputar.
Malam itu, Rania menyalakan laptopnya.
File di dalam flashdisk hanya satu: LangitYangTakLagiMenyebutNamamu.mp3.
Ketika ia menekan play, suara Arka memenuhi
ruangan.
Bukan lagu yang sempurna suaranya serak, petikan gitarnya kadang goyah tapi setiap nada seolah tahu ke mana harus
pulang.
“Jika suatu hari langit tak lagi menyebut namamu,
biarlah aku yang memanggilnya lewat nada.
Jika langkahmu kehilangan arah,
dengarkan lagu ini, dan aku akan jadi rumahmu.”
Air mata Rania akhirnya jatuh juga.
Ia menutup wajahnya, membiarkan tangis itu mengalir tanpa malu.
Dina memeluknya dari belakang, tanpa bertanya apa pun.
Hari-hari berikutnya, Rania mulai menulis lagi.
Ia menulis bukan untuk melupakan, tapi untuk menghidupkan kembali yang telah
tiada.
Ia menulis puisi, surat, dan catatan pendek dengan kalimat pembuka yang sama:
“Kepada Arka, di langit yang tak lagi menyebut namamu.”
Suatu sore, Dira datang lagi. Ia duduk di sebelah Rania di taman flamboyan.
“Aku sering dengar lagu Arka di kampus akhir-akhir ini,” katanya.
“Beberapa anak band nyanyikan ulang. Lagu itu viral di media sosial.”
“Lagu yang dari flashdisk itu?” tanya Rania.
“Iya. Judulnya indah sekali.”
“Langit yang Tak Lagi Menyebut Namamu,” Rania berbisik.
“Iya. Kau tahu, aku pikir lagu itu tentang kehilangan ibunya, tapi setelah
dengar liriknya… kurasa itu tentang kamu.”
Rania tersenyum samar. “Mungkin. Tapi lagu itu juga tentang dirinya sendiri
tentang seseorang yang tahu bagaimana rasanya tidak disebut lagi oleh langit.”
Beberapa minggu kemudian, kampus mengadakan malam penghargaan seni.
Dira meminta Rania datang, karena mereka akan membawakan lagu Arka di panggung
utama.
Saat giliran band itu tampil, ruangan mendadak hening.
Dira mengambil mikrofon dan berkata,
“Lagu ini ditulis oleh teman kami yang sudah berpulang. Tapi karyanya tetap
hidup, dan mungkin… langit malam ini akan menyebut namanya sekali lagi.”
Lalu nada-nada itu mengalun.
Rania menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. Tapi di antara nada-nada itu, ia
merasakan sesuatu seperti kehadiran yang
tidak bisa dijelaskan.
Mungkin, hanya mungkin, langit malam itu benar-benar menyebut nama Arka
lagi.
Selepas acara, Rania berjalan sendirian melewati taman flamboyan. Angin
malam berembus lembut, membawa bau tanah basah dan kenangan lama.
“Kau dengar itu, Arka?” bisiknya.
“Lagumu masih hidup. Dan aku… aku belajar hidup tanpamu.”
Dari balik langit yang pekat, seolah ada suara samar bukan nyata, tapi juga bukan bayangan.
“Aku selalu di sini, Ran. Bahkan ketika langit tak lagi menyebut namaku.”
Rania tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyumnya terasa
tulus.
Ia menatap bintang yang malu-malu muncul di sela awan.
“Aku tahu,” katanya.
“Karena setiap kali aku menulis, setiap kali aku memejam, aku masih mendengar
gitarmu di antara napas hujan.”
Beberapa tahun berlalu.
Rania kini menjadi penulis muda yang karyanya banyak dibaca.
Buku pertamanya berjudul “Langit yang Tak Lagi Menyebut Namamu”,
kumpulan kisah pendek tentang kehilangan, musik, dan cinta yang tak selesai.
Di halaman persembahan, hanya ada satu kalimat:
Untuk seseorang yang pernah membuat langit berhenti sejenak Arka.
Pada hari peluncuran bukunya, langit sore berwarna jingga pucat. Rania
berdiri di depan podium, tangan dingin, tapi suaranya tenang.
“Banyak orang bilang, waktu menyembuhkan segalanya,” ucapnya.
“Tapi aku rasa tidak. Waktu hanya mengajarkan kita cara berdamai dengan luka.
Dan langit… hanya menunggu sampai kita berani menatapnya lagi.”
Dari barisan kursi penonton, Dina tersenyum haru. Dira menatap langit di
luar jendela, seolah mengucap sesuatu yang tidak terdengar.
Setelah acara selesai, Rania berjalan sendirian ke luar gedung.
Hujan turun pelan, lagi-lagi seperti dulu
lembut dan penuh rahasia.
Ia membuka payung, menatap ke atas, dan berkata lirih:
“Terima kasih, Arka. Karena pernah menulis lagu untukku.
Sekarang, biarlah aku menulis langit untukmu.”
Langit sore itu begitu damai. Tak ada petir, tak ada badai.
Hanya hujan yang jatuh dengan lembut seperti bisikan dari seseorang yang dulu
pernah berjanji:
“Jika aku pergi, carilah aku di langit.”
Dan Rania tahu, di antara setiap tetes hujan, di antara setiap bait yang ia
tulis, Arka tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berubah menjadi nada yang terus hidup, bahkan ketika langit tak lagi menyebut namanya.
Karya: Siti Qummariyah (Kru LPM Frekuensi 23)
Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)

0 Komentar