Semarang, KABARFREKUENSI.COM-UIN Walisongo Semarang menggelar prosesi wisuda pada Sabtu (7/2/2026) di
Auditorium II Kampus III. Sebanyak 1.277 wisudawan secara resmi lulus dalam jenjang
wisuda, Doktor (S3), Magister (S2), dan Sarjana (S1). Prosesi wisuda tersebut
berlangsung tertib dan menjadi penanda kelulusan bagi para mahasiswa.
Di antara deretan wajah bahagia para wisudawan, ada sebuah kisah perjuangan
yang datang dari Indonesia bagian timur. Ia Muhammad Ryan Riyadhi Noreng, atau biasa
dipanggil Ryan merupakan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi
salah satu lulusan yang menempuh perjalanan jauh meninggalkan kampung halaman
demi menimba ilmu di UIN Walisongo Semarang.
Mahasiswa angkatan 2021 Fakultas Sains dan Teknologi, Program Studi
Pendidikan Biologi tersebut mengungkapkan bahwa keputusannya berkuliah di UIN
Walisongo merupakan langkah besar dalam hidupnya. Kampus ini ia pandang sebagai
jalan baru yang membawanya berani merantau jauh dari keluarga demi masa depan
yang lebih baik.
“Saya memang ingin mencari perguruan
tinggi di tanah Jawa karena di Nusa Tenggara Timur masih terbilang terbatas.
Banyak orang dari daerah saya merantau ke Jawa untuk mencari ilmu, namun
kebanyakan memilih Malang dan Yogyakarta. Saya ingin mengambil jalan yang
berbeda dan tertarik untuk berbaur dengan masyarakat Semarang, sehingga
akhirnya memutuskan berkuliah di UIN Walisongo Semarang,” jelasnya.
Ryan mengaku fase adaptasi saat
merantau pernah ia rasakan sejak sebelum berkuliah di UIN Walisongo Semarang.
Ia menyebut pernah menempuh pendidikan sebagai santri di salah satu desa di
Jawa Timur.
“Tantangan yang paling terasa saya
alami ketika pertama kali merantau. Saat itu saya mondok di salah satu desa di
Jawa Timur. Memang saya cukup terkejut dengan kultur budaya dan Bahasa yang
cukup berbeda. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Ryan relatif lebih siap saat beradaptasi dengan
lingkungan kampus UIN Walisongo. Ia menilai aturan dan budaya akademik yang
berlaku dapat ia pahami dengan cukup cepat, sehingga proses penyesuaian yang
dijalani tidak terlalu berat.
Namun, perjalanan akademiknya tidak sepenuhnya berjalan mulus. Tantangan
terbesar justru ia rasakan saat memasuki tahap akhir perkuliahan. Di saat
sebagian mahasiswa dapat berfokus penuh pada penyusunan skripsi, Ryan memilih
bekerja paruh waktu untuk menambah penghasilan. Di tengah proses tersebut, ia
juga diuji oleh kabar tidak mengenakkan dari kampung halamannya, ketika orang
tuanya mengalami sakit cukup serius.
Meski dihadapkan pada cobaan yang berat, semangat Ryan
tidak pernah padam. Ia terus berupaya menyelesaikan kewajiban akademiknya
hingga akhirnya berhasil menuntaskan studi dan kini resmi menyandang gelar
sarjana.
“Intinya tetap semangat dan selalu ingat orang tua. Mereka melepas kita untuk merantau dengan pertimbangan yang tidak mudah, terlebih ketika harus keluar dari daerah,” pesan Ryan untuk para mahasiswa, khususnya perantau.
Kabar: Nabil Azfa Azzubair (Kru Magang LPM Frekuensi 25)
Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi 23)

0 Komentar