Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Pernahkah kita menyadari betapa sepinya perpustakaan hari ini sementara kedai kopi selalu penuh sesak oleh wajah-wajah tertunduk menatap layar? Coba perhatikan sekeliling saat sedang menunggu kereta atau duduk di ruang tunggu. Rasanya hampir mustahil menemukan seseorang yang asyik membolak-balik halaman buku. Semua orang tampak terhipnotis oleh guliran tanpa akhir dari media sosial yang menawarkan kepuasan instan dalam hitungan detik saja, sebuah fenomena yang diam-diam merampas kebiasaan membaca kita secara brutal.
Kadang saya merasa trenyuh melihat pergeseran minat ini, apalagi sejak ponsel pintar merajai setiap sudut kehidupan masyarakat kita, dari desa hingga kota metropolis. Gawai ini memang membawa banyak kemudahan praktis, tapi di saat bersamaan ia menjelma menjadi semacam pembunuh berdarah dingin bagi daya fokus manusia.
Kita perlahan kehilangan kemampuan untuk duduk tenang dan mencerna teks panjang yang mendalam. Otak kita sudah terlampau terbiasa disuapi oleh potongan video pendek. Algoritma media sosial sengaja dirancang untuk meretas hormon dopamin kita sehingga membaca buku tebal terasa seperti sebuah siksaan membosankan.
Imbas dari krisis fokus ini terlalu ambigu kentara jika kita sengaja melipir sedikit ke lapak buku independen atau festival literasi yang belakangan sering banting harga gila-gilaan. Buku sastra, novel hingga kumpulan puisi yang dulunya dijunjung tinggi sebagai jendela peradaban, kini kerap diobral sangat murah, bak kacang goreng, seolah-olah telah kehilangan nilai magisnya. Miris rasanya melihat karya luar biasa yang ditulis dengan cucuran keringat harus turun harga secara tajam. Semua ini terjadi hanya demi memancing minat segelintir pembeli yang kian langka di pasaran bebas.
Bagi mereka yang masih bertahan bergelut di dunia kepenulisan, situasi ini sering kali terasa seperti berteriak di tengah ruang hampa yang kedap suara. Bayangkan saja jerih payah memeras otak berbulan-bulan kadang hanya dihargai dengan angka royalti yang sama sekali tidak masuk akal untuk sekadar bertahan hidup. Kondisi pasar yang lesu darah ini pelan-pelan membunuh semangat para kreator lokal kita. Imbasnya, banyak talenta hebat yang akhirnya memilih mundur teratur dan beralih ke profesi lain yang lebih menjanjikan secara finansial.
Bahkan belum lama ini kita semua disuguhi kenyataan yang amat sangat pahit dengan tutupnya secara massal gerai-gerai “Toko Buku Gunung Agung” di berbagai pelosok daerah. Peristiwa menyesakkan dada tersebut menjadi tamparan keras bahwa industri perbukuan kita sedang kembang kempis berjuang mencari nafas di tengah gempuran digitalisasi. Tutupnya toko buku legendaris yang menemani masa kecil banyak orang itu bukanlah sekadar perkara bisnis yang gagal beradaptasi semata. Kejadian itu bukan sebuah monumen keruntuhan minat baca yang terjadi tepat di depan hidung kita sendiri.
Ironisnya para pemangku kebijakan alias pemerintah seolah-olah masih memandang sebelah mata terhadap krisis literasi ini seakan-akan ini hanyalah angin lalu belaka Isu. menurunnya minat baca sangat jarang dibahas dalam debat politik karena mungkin dianggap tidak cukup seksi untuk mendulang suara pemilih massal, mereka terlalu sibuk menguras anggaran untuk membangun infrastruktur fisik berupa jembatan beton dan jalan tol. Tentu saja sekarang yang sedang ramai karena menguras banyak sekali anggaran negara dan pajak rakyat yaitu program MBG.
Namun, anehnya mereka melupakan pembangunan infrastruktur pikiran masyarakat yang sejatinya jauh lebih krusial bagi fondasi masa depan.
Padahal, kalau kita mau duduk sejenak dan menatap masa depan secara jujur, dampak dari rendahnya tingkat literasi ini akan sangat mengerikan bagi generasi penerus nanti. Masyarakat awam yang tidak terbiasa membaca secara komprehensif akan sangat mudah dimanipulasi oleh informasi hoaks atau propaganda karena hilangnya pisau nalar kritis.
Coba bayangkan betapa kacaunya sebuah negara besar yang penduduknya lebih gampang terpicu emosi oleh sebaris judul berita provokatif. Jauh lebih mudah marah ketimbang meluangkan waktu membaca isi artikelnya secara utuh hingga tuntas.
Untuk menguatkan kekhawatiran yang bukan sekadar isapan jempol ini, kita bisa merujuk pada temuan riset bergengsi dari Laporan PISA oleh OECD yang hasilnya selalu bikin kita mengurut dada. Data dari studi internasional tersebut secara konsisten menempatkan kemampuan membaca dan literasi anak-anak Indonesia di urutan bawah, di papan bawah klasemen global. Fakta dari riset tersebut seakan menelanjangi sistem kita. Hal ini mengonfirmasi bahwa darurat membaca adalah krisis nyata yang membutuhkan campur tangan revolusioner secepatnya.
Kesalahan fatal lainnya adalah stigma di masyarakat yang sering kali melabeli orang yang hobi membaca sebagai individu yang aneh atau kurang pergaulan. Stereotip usang semacam ini secara tidak langsung ikut andil dalam menyurutkan niat anak muda yang sebenarnya punya ketertarikan untuk mulai mengeksplorasi dunia sastra. Kita harus segera merombak pola pikir kerdil ini dan mulai mengampanyekan wacana baru bahwa membaca adalah sebuah aktivitas yang keren serta menjadi kunci pembuka menuju wawasan tanpa batas yang tak ternilai harganya.
Lantas, sebagai orang biasa yang sadar dan prihatin, apa sih langkah paling sederhana yang bisa kita mulai dari kamar sendiri untuk menghidupkan kembali nyala literasi ini? Cara paling masuk akal tentu saja dengan mulai memaksa diri menyisihkan waktu setidaknya dua puluh menit sebelum tidur untuk membaca lembaran novel beraliran realisme atau sekadar kumpulan esai pendek. Kita juga bisa mulai menyisihkan sedikit uang jajan untuk membeli karya digital lewat ponsel pintar seperti e-book atau membeli buku novel murah di mal dan toko buku terdekat.
Selain menjadi konsumen pasif, kita juga bisa mencoba melangkah lebih jauh dengan menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah penolakan terhadap arus pendangkalan pikiran massal. Mengikuti semacam kelas Writing as Refusal bisa jadi langkah awal, lalu cobalah tuangkan keresahan sosial di kepala ke dalam bentuk bait puisi dan beranikan diri mengirimkannya ke meja redaksi media online maupun offline yang mau menerima karya tulis kita.
Proses mencari diksi dan riset kecil-kecilan ini secara otomatis akan memaksa kita membaca lebih rakus lagi. Dengan begitu, mesin literasi di dalam diri kita perlahan akan kembali memanas dan hidup.
Jangan pernah ragu juga untuk sesekali ikut serta dalam ajang perlombaan menulis puisi yang kerap diselenggarakan oleh berbagai yayasan ternama seperti “Denny JA Foundation” menang atau kalah itu urusan belakangan karena yang terpenting adalah keberanian kita untuk berpartisipasi menjaga ekosistem kreatif agar tetap berdenyut kencang, berada di tengah orang yang memiliki frekuensi yang sama terhadap kata kata akan memberikan suntikan semangat luar biasa Sebuah kekuatan untuk terus berkarya gigih di tengah zaman yang serba instan dan memabukkan ini.
Kita benar-benar tidak butuh panggung yang megah atau jabatan mentereng di Kementerian Pendidikan untuk bisa menularkan virus kebaikan membaca ini ke lingkungan sekitar. Mulailah dengan langkah sesederhana membagikan draf tulisan kepada kawan tongkrongan atau berinisiatif memberikan kado ulang tahun berupa buku bacaan berkualitas kepada kerabat terdekat.
Langkah-langkah kecil yang mungkin terlihat sepele semacam inilah pemicu utamanya. Bila dilakukan secara kolektif, nantinya hal tersebut akan menjelma menjadi gelombang perubahan raksasa untuk melawan hegemoni layar gawai yang kian meresahkan. Semoga saja kelak di masa depan yang tidak terlalu jauh kita masih diberi kesempatan untuk melihat antrian panjang anak muda yang antusias membedah buku di perpustakaan kota. Bukan sekadar antrean panjang orang-orang yang rela menginap demi memburu diskon ponsel pintar keluaran terbaru yang gengsinya hanya bertahan sebentar saja. Mari kita rebut kembali ruang imajinasi kita yang sempat terampas oleh cahaya biru layar itu.
mari secara bersama-sama buktikan dengan lantang bahwa napas budaya literasi di negeri kepulauan ini belumlah benar-benar berhenti berhembus.
Kabar: Jovi Fernando Setiawan
Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi 23)

0 Komentar