Sumber Dokumentasi: Shutterstock

Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Langit pagi itu terasa dingin pada hari pertama aku bertemu kalian, orang-orang yang nantinya akan mengisi banyak kisah dalam perjalanan hidup sebagai mahasiswa. Suara keyboard laptop yang saling bersahutan terdengar begitu asing bagiku, seorang anak daerah yang tumbuh jauh dari hiruk pikuk kemajuan teknologi. Cahaya layar proyektor yang terang, ditambah suara beberapa orang yang berusaha menjelaskan materi di depan kelas, sempat membuat mentalku goyah ketika pertama kali terlibat di dalamnya.

Namun, di balik semua rasa canggung itu, tersimpan sebuah budaya, kebanggaan, dan tanggung jawab yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan kami sebagai mahasiswa Teknologi Informasi.

Program studi Teknologi Informasi memiliki budaya yang unik dibandingkan jurusan lainnya. Budaya itu terbentuk dari kebiasaan belajar, pola pertemanan, hingga cara kami menghadapi masalah maupun keberhasilan. Kami terbiasa menghadapi tugas dengan berbagai tingkat kesulitannya. Bahkan ada satu kalimat yang sudah menjadi rahasia umum di antara kami: "Setiap dosen memiliki ciri khas sendiri dalam membentuk suasana kelas."

Diskusi kecil sering terjadi di sudut kelas, lorong kampus, bahkan hingga Warung Kopi Makmur yang buka dua puluh empat jam. Aroma kopi hitam yang bercampur dengan suara gelas yang saling beradu menjadi saksi panjangnya obrolan kami. Terkadang pembahasan tugas berubah menjadi cerita kehidupan, candaan, bahkan kisah-kisah religi yang membuat suasana semakin hangat. Momen sederhana seperti itulah yang perlahan menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.

Di balik rasa lelah dan tekanan tugas yang datang silih berganti, selalu ada kebanggaan besar ketika kami berkumpul bersama. "Tugas satu, tugas dua, apalah semua itu. Hari ini milik kita." Mungkin kalimat itulah yang diam-diam kami sepakati bersama. Kebersamaan itu semakin terasa ketika kami bersama-sama membawa nama Teknologi Informasi di Gedung Serbaguna kampus, saat tidak ada lagi batas angkatan, organisasi, ataupun latar belakang yang ada hanyalah satu identitas: TIFOSI, TI FAMILIGA.

Kebanggaan juga muncul karena mampu bertahan dalam proses pembelajaran yang tidak mudah. Dari budaya itulah lahir tradisi arak-arakan yang selalu membangkitkan semangat. Suara perkusi yang menggema, teriakan yel-yel yang bersahutan, dan kibaran banner di tengah ramainya keluarga yang datang menjemput keberhasilan anak-anak mereka menciptakan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Meskipun bukan kami aktor utama pada hari itu, rasa bangga itu tetap nyata adanya. Seolah langit pun ikut mendukung bahwa kami adalah bagian dari sesuatu yang besar. Kadang malam terasa begitu panjang menjelang acara besar tersebut, mata terasa berat karena kurang tidur sementara tugas kuliah tetap harus diselesaikan untuk hari berikutnya. Namun anehnya, rasa lelah itu terasa menyenangkan ketika dijalani bersama.

Tanggung jawab untuk bertahan dan lulus dari mata kuliah yang terkenal sulit sering kali menjadi alasan mengapa budaya berkumpul itu lahir dengan sendirinya. Kami sadar bahwa menjaga nama baik jurusan bukan hanya tentang menang dalam perlombaan atau tampil saat acara kampus, tetapi juga tentang bagaimana kami mampu bertahan dalam proses belajar yang berat. Karena itulah warung kopi yang buka dua puluh empat jam menjadi seperti rumah kedua bagi sebagian dari kami.

Di bawah cahaya lampu yang mulai redup menjelang tengah malam, suara ketikan laptop dan obrolan pelan mengenai coding, jaringan, atau revisi tugas terdengar saling bersahutan. Aroma kopi pahit dan pedasnya ayam geprek depan Pasar Ngaliyan menemani mata yang mulai berat karena kurang tidur. Kadang ada yang mengeluh karena programnya error, ada yang tertawa karena akhirnya menemukan solusi, dan ada pula yang hanya diam menatap layar sambil mencoba memahami materi yang terasa begitu rumit.

Namun dari meja-meja kecil itulah tumbuh rasa tanggung jawab yang perlahan membentuk budaya kami. Tidak ada yang ingin tertinggal sendiri, tidak ada yang rela melihat temannya gagal memahami materi atau mengulang mata kuliah sendirian. Kami belajar bahwa mempertahankan reputasi Teknologi Informasi bukan hanya tugas satu atau dua orang, melainkan perjuangan bersama yang dibangun dari malam-malam panjang, diskusi sederhana, dan rasa lelah yang dinikmati bersama.

Di sisi lain, budaya belajar mandiri yang menjadi ciri khas mahasiswa TI perlahan mulai mengubah kebiasaan kami. Perkembangan teknologi membuat diskusi kecil yang dulu sering terjadi secara langsung kini bergeser ke grup WhatsApp. Warung kopi yang dulu ramai oleh suara diskusi, tawa, dan bunyi ketikan laptop perlahan mulai kehilangan suasananya, dan tanpa disadari beberapa kebiasaan yang dulu terasa hangat mulai memudar sedikit demi sedikit.

Pergeseran menuju interaksi digital itulah yang membuatku teringat pada pemikiran Melville J. Herskovits tentang budaya sebagai sesuatu yang superorganic, sesuatu yang diwariskan dan mampu bertahan melampaui individu yang menjalaninya (Herskovits, 1948). Dari situlah keresahan itu muncul dalam pikiranku. Jika kebersamaan yang dulu dibangun lewat pertemuan langsung perlahan menghilang, apakah budaya yang telah kami bangun ini benar-benar mampu bertahan untuk generasi berikutnya? Ataukah semua ini nantinya hanya akan menjadi cerita lama yang tersisa seperti dongeng tanpa bukti nyata?

Entahlah. Saat ini aku sendiri masih dipusingkan oleh berbagai tanggung jawab sebagai mahasiswa yang telah memasuki tahap akhir. Namun satu hal yang pasti, culture, pride, dan tanggung jawab adalah tiga hal yang saling berkaitan dalam kehidupan mahasiswa Teknologi Informasi. Budaya belajar dan kerja sama membentuk kami menjadi pribadi yang lebih kuat, sementara kebanggaan dan tanggung jawab mengajarkan kami arti perjuangan yang sebenarnya.

Akhir kata,

"Thanks God, I'm TI Boys."

Daftar Pustaka

Herskovits, M. J. (1948). Man and his works: The science of cultural anthropology. Alfred A. Knopf. 

Kabar: 

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)