Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Langit pagi itu
terasa dingin pada hari pertama aku bertemu kalian, orang-orang yang nantinya
akan mengisi banyak kisah dalam perjalanan hidup sebagai mahasiswa. Suara
keyboard laptop yang saling bersahutan terdengar begitu asing bagiku, seorang
anak daerah yang tumbuh jauh dari hiruk pikuk kemajuan teknologi. Cahaya layar
proyektor yang terang, ditambah suara beberapa orang yang berusaha menjelaskan
materi di depan kelas, sempat membuat mentalku goyah ketika pertama kali
terlibat di dalamnya.
Namun, di balik
semua rasa canggung itu, tersimpan sebuah budaya, kebanggaan, dan tanggung
jawab yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan kami sebagai mahasiswa
Teknologi Informasi.
Program studi
Teknologi Informasi memiliki budaya yang unik dibandingkan jurusan lainnya.
Budaya itu terbentuk dari kebiasaan belajar, pola pertemanan, hingga cara kami
menghadapi masalah maupun keberhasilan. Kami terbiasa menghadapi tugas dengan
berbagai tingkat kesulitannya. Bahkan ada satu kalimat yang sudah menjadi
rahasia umum di antara kami: "Setiap dosen memiliki ciri khas sendiri
dalam membentuk suasana kelas."
Diskusi kecil
sering terjadi di sudut kelas, lorong kampus, bahkan hingga Warung Kopi Makmur
yang buka dua puluh empat jam. Aroma kopi hitam yang bercampur dengan suara
gelas yang saling beradu menjadi saksi panjangnya obrolan kami. Terkadang
pembahasan tugas berubah menjadi cerita kehidupan, candaan, bahkan kisah-kisah
religi yang membuat suasana semakin hangat. Momen sederhana seperti itulah yang
perlahan menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.
Di balik rasa
lelah dan tekanan tugas yang datang silih berganti, selalu ada kebanggaan besar
ketika kami berkumpul bersama. "Tugas satu, tugas dua, apalah semua itu.
Hari ini milik kita." Mungkin kalimat itulah yang diam-diam kami sepakati
bersama. Kebersamaan itu semakin terasa ketika kami bersama-sama membawa nama
Teknologi Informasi di Gedung Serbaguna kampus, saat tidak ada lagi batas
angkatan, organisasi, ataupun latar belakang yang ada hanyalah satu identitas: TIFOSI,
TI FAMILIGA.
Kebanggaan juga
muncul karena mampu bertahan dalam proses pembelajaran yang tidak mudah. Dari
budaya itulah lahir tradisi arak-arakan yang selalu membangkitkan semangat.
Suara perkusi yang menggema, teriakan yel-yel yang bersahutan, dan kibaran
banner di tengah ramainya keluarga yang datang menjemput keberhasilan anak-anak
mereka menciptakan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Meskipun bukan
kami aktor utama pada hari itu, rasa bangga itu tetap nyata adanya. Seolah
langit pun ikut mendukung bahwa kami adalah bagian dari sesuatu yang besar.
Kadang malam terasa begitu panjang menjelang acara besar tersebut, mata terasa
berat karena kurang tidur sementara tugas kuliah tetap harus diselesaikan untuk
hari berikutnya. Namun anehnya, rasa lelah itu terasa menyenangkan ketika
dijalani bersama.
Tanggung jawab
untuk bertahan dan lulus dari mata kuliah yang terkenal sulit sering kali
menjadi alasan mengapa budaya berkumpul itu lahir dengan sendirinya. Kami sadar
bahwa menjaga nama baik jurusan bukan hanya tentang menang dalam perlombaan
atau tampil saat acara kampus, tetapi juga tentang bagaimana kami mampu
bertahan dalam proses belajar yang berat. Karena itulah warung kopi yang buka
dua puluh empat jam menjadi seperti rumah kedua bagi sebagian dari kami.
Di bawah cahaya
lampu yang mulai redup menjelang tengah malam, suara ketikan laptop dan obrolan
pelan mengenai coding, jaringan, atau revisi tugas terdengar saling bersahutan.
Aroma kopi pahit dan pedasnya ayam geprek depan Pasar Ngaliyan menemani mata yang
mulai berat karena kurang tidur. Kadang ada yang mengeluh karena programnya
error, ada yang tertawa karena akhirnya menemukan solusi, dan ada pula yang
hanya diam menatap layar sambil mencoba memahami materi yang terasa begitu
rumit.
Namun dari
meja-meja kecil itulah tumbuh rasa tanggung jawab yang perlahan membentuk
budaya kami. Tidak ada yang ingin tertinggal sendiri, tidak ada yang rela
melihat temannya gagal memahami materi atau mengulang mata kuliah sendirian.
Kami belajar bahwa mempertahankan reputasi Teknologi Informasi bukan hanya
tugas satu atau dua orang, melainkan perjuangan bersama yang dibangun dari
malam-malam panjang, diskusi sederhana, dan rasa lelah yang dinikmati bersama.
Di sisi lain,
budaya belajar mandiri yang menjadi ciri khas mahasiswa TI perlahan mulai
mengubah kebiasaan kami. Perkembangan teknologi membuat diskusi kecil yang dulu
sering terjadi secara langsung kini bergeser ke grup WhatsApp. Warung kopi yang
dulu ramai oleh suara diskusi, tawa, dan bunyi ketikan laptop perlahan mulai
kehilangan suasananya, dan tanpa disadari beberapa kebiasaan yang dulu terasa
hangat mulai memudar sedikit demi sedikit.
Pergeseran menuju
interaksi digital itulah yang membuatku teringat pada pemikiran Melville J.
Herskovits tentang budaya sebagai sesuatu yang superorganic, sesuatu
yang diwariskan dan mampu bertahan melampaui individu yang menjalaninya
(Herskovits, 1948). Dari situlah keresahan itu muncul dalam pikiranku. Jika
kebersamaan yang dulu dibangun lewat pertemuan langsung perlahan menghilang, apakah
budaya yang telah kami bangun ini benar-benar mampu bertahan untuk generasi
berikutnya? Ataukah semua ini nantinya hanya akan menjadi cerita lama yang
tersisa seperti dongeng tanpa bukti nyata?
Entahlah. Saat
ini aku sendiri masih dipusingkan oleh berbagai tanggung jawab sebagai
mahasiswa yang telah memasuki tahap akhir. Namun satu hal yang pasti, culture,
pride, dan tanggung jawab adalah tiga hal yang saling berkaitan dalam
kehidupan mahasiswa Teknologi Informasi. Budaya belajar dan kerja sama membentuk
kami menjadi pribadi yang lebih kuat, sementara kebanggaan dan tanggung jawab
mengajarkan kami arti perjuangan yang sebenarnya.
Akhir kata,
"Thanks God,
I'm TI Boys."
Daftar Pustaka
Herskovits, M. J.
(1948). Man and his works: The science of cultural anthropology. Alfred
A. Knopf.
Kabar:
Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)

0 Komentar