Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Tidak semua kesepian
datang ketika seseorang benar-benar sendirian.
Ada kesepian yang
tumbuh di tengah keramaian, ketika begitu banyak suara terdengar, tetapi tidak
satu pun terasa memanggil namamu.
Dan ada kesepian yang lebih sunyi ketika kau pulang, membuka pintu kamar, lalu menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang menunggumu.
Begitulah hidup yang dijalani Nara.
Setiap sore, ia selalu pulang melalui jalan yang sama. Langkahnya pelan, tas menggantung di bahu, sementara matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tua.
Orang-orang berjalan
melewatinya.
Ada yang tertawa bersama teman.
Ada yang sibuk
menelepon keluarganya.
Ada pula yang
berlari kecil mengejar seseorang yang menunggunya di ujung jalan.
Nara hanya berjalan.
Sendiri.
Sesampainya di rumah, ia membuka pintu dengan kunci yang sudah lama terasa dingin di tangannya.
“Pulang,” ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Tentu saja tidak
ada.
Rumah itu memang
hanya mengenal suara Nara.
Ia meletakkan tas di
kursi, mengganti pakaian, lalu duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar
pada ranjang.
Hari kembali selesai.
Namun entah mengapa, ia merasa dirinya tidak pernah benar-benar sampai ke mana-mana.
Sudah bertahun-tahun
ia hidup dengan cara seperti itu.
Belajar sendiri.
Menangis sendiri.
Bangun dari keterpurukan sendiri.
Bahkan ketika hatinya ingin sekali berkata, “Aku tidak sanggup,” tidak ada bahu yang bisa ia datangi.
Tidak ada tempat
untuk mengetuk.
Tidak ada nama yang
bisa dipanggil ketika malam terlalu panjang.
Hanya dirinya.
Dan Tuhan.
Malam itu hujan turun deras.
Nara berdiri di depan jendela. Ia memandangi air yang berkejaran di kaca, lalu menghela napas panjang.
“Aku capek, Tuhan.”
Untuk beberapa detik
ia terdiam.
Kemudian ia tersenyum getir.
“Maafkan aku.”
Ia duduk di samping jendela.
“Maaf karena akhir-akhir ini aku sering berharap bisa menghilang dari semua ini.”
Air matanya jatuh tanpa diminta.
“Bukan karena aku tidak bersyukur.”
Ia menundukkan kepala.
“Aku hanya tidak tahu harus bagaimana lagi.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada keajaiban.
Hanya suara hujan
yang semakin deras.
Nara mengusap air matanya dan tertawa kecil.
“Lucu, ya, Tuhan?”
“Bahkan untuk mengadu saja aku tidak punya siapa-siapa.”
Ia menatap langit yang gelap.
“Tapi aku masih punya Engkau.”
Malam semakin larut.
Nara mengambil
mukena yang tergantung di belakang pintu.
Ia membentangkan
sajadah di lantai yang dingin.
Tidak ada doa
panjang malam itu.
Tidak ada kata-kata indah.
Ia hanya duduk setelah salat dan menengadahkan kedua tangan.
“Tuhan…”
Suaranya bergetar.
“Kalau Engkau masih mendengarkanku, aku tidak meminta hidupku menjadi mudah.”
Ia berhenti sejenak.
“Ajari aku menjalaninya.”
Air mata kembali mengalir.
“Kalau memang tidak ada manusia yang bisa menjadi tempatku pulang, jadikan hatiku cukup kuat untuk pulang kepada-Mu.”
Malam itu, Nara
menangis lama.
Bukan karena
tiba-tiba semua lukanya sembuh.
Bukan karena persoalannya selesai.
Tetapi karena untuk
pertama kalinya, ia berhenti memaksa dirinya terlihat baik-baik saja di hadapan
Tuhan.
Ia mengakui semuanya.
Tentang rasa sepi.
Tentang kecewa.
Tentang hari-hari
yang terasa terlalu berat.
Tentang keinginannya untuk berhenti sebentar dari dunia yang terus menuntutnya kuat.
Dan setelah semua kata habis, Nara hanya berbisik,
“Maafkan hambamu, Tuhan.”
“Barangkali aku terlalu lama mencari manusia untuk menyelamatkanku, sampai lupa bahwa Engkau tidak pernah benar-benar meninggalkanku.”
Tidak ada suara dari
langit.
Tetapi entah
mengapa, malam itu terasa berbeda.
Hujan mulai mereda.
Dari balik jendela,
udara setelah hujan masuk perlahan.
Nara menarik napas
dalam-dalam.
Untuk pertama
kalinya setelah sekian lama, ia tidak memikirkan bagaimana hari esok harus sempurna.
Ia hanya ingin melewati malam ini.
Satu malam.
Satu pagi.
Satu hari.
Pelan-pelan.
Keesokan paginya, matahari masuk melalui celah tirai.
Nara terbangun
dengan mata sembap.
Ia duduk di tepi
ranjang dan memandang kamar yang sama.
Kamar yang semalam menjadi
saksi tangisnya.
Tidak ada yang
berubah.
Dindingnya masih
sama.
Masalahnya masih
ada.
Kesunyian masih
tinggal di rumah itu.
Namun ada sesuatu
yang berubah dalam diri Nara.
Ia mulai memahami
bahwa mungkin hidup tidak selalu meminta seseorang untuk berlari.
Terkadang hidup hanya meminta kita untuk tetap berjalan.
Walau perlahan.
Walau dengan air
mata.
Walau hanya ditemani
doa.
Hari itu, Nara
membuka jendela.
Udara pagi menyentuh
wajahnya.
Ia menatap langit cukup lama.
“Terima kasih, Tuhan.”
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Aku masih di sini.”
Bukan karena ia
sudah menemukan seseorang.
Bukan karena hidup
mendadak menjadi indah.
Tetapi karena ia
mulai mengerti bahwa kesendirian tidak selalu berarti ditinggalkan.
Ada malam-malam
ketika manusia tidak menemukan siapa pun untuk digenggam.
Namun masih ada
Tuhan yang selalu bisa dipanggil.
Dan mungkin, untuk
sementara waktu, itu sudah cukup.
Nara kemudian
berjalan keluar dari kamarnya.
Hari baru
menunggunya.
Ia belum tahu akan
seperti apa.
Mungkin akan kembali
melelahkan.
Mungkin akan ada tangis lagi.
Mungkin akan ada
hari ketika ia kembali bertanya, mengapa harus dirinya yang menjalani semua
ini.
Tetapi kali ini, ia memiliki satu kalimat untuk diingat:
“Aku tidak harus tahu bagaimana seluruh hidup ini akan berakhir. Aku hanya perlu percaya bahwa Tuhan masih menuntunku melewati hari ini.”
Dan ketika langkahnya sampai di depan pintu, Nara berbisik sekali lagi,
“Maafkan hambamu, Tuhan.”
“Jika suatu hari aku kembali ingin menghilang, ingatkan aku bahwa mungkin yang sebenarnya kubutuhkan bukanlah pergi dari dunia, melainkan menemukan kembali jalan untuk pulang kepada-Mu.”
Lalu ia melangkah.
Sendiri.
Tetapi tidak lagi merasa benar-benar sendirian.
Karya: Siti Qummariyah (Kru LPM Frekuensi 23)
Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)
0 Komentar