Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Di sore hari
yang hampir gelap itu, Vanessa berdiri di dekat pusara ibunya. Langit perlahan
berubah menjadi jingga tua, sebelum akhirnya warna itu tenggelam bersama
matahari yang hampir tak terlihat. Angin berembus pelan, menggoyangkan beberapa
helai rambut yang jatuh di wajahnya.
Vanessa masih
mengenakan baju hitam pemberian ibunya.
Baju itu
sedikit kebesaran di tubuhnya. Ibunya pernah memberikannya beberapa bulan lalu
sambil tertawa kecil.
"Kalau nanti sudah besar, pakai baju
ini, ya. Biar kelihatan cantik."
Saat itu
Vanessa hanya tertawa dan mengangguk. Kini, ia justru
berharap bisa mengembalikan baju itu kepada ibunya. Vanessa menatap gundukan tanah di hadapannya. Kedua
tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Emangnya
kalau Ibu tidur ditumpukin tanah begini, Ibu bakal bahagia?”
Suara Vanessa
terdengar lirih, tetapi cukup jelas di antara sunyi pemakaman.
Akbar yang
berdiri di sampingnya langsung menutup mulut Vanessa.
“Emang sopan
bilang kayak begitu?!” bisiknya dengan suara bergetar. “Kita lagi di kuburan,
Vanessa!”
Vanessa
melepaskan tangan kakaknya dengan kasar.
“Kenapa?”
Akbar
terdiam.
“Kenapa sih
Ibu harus pergi duluan?”
Suara Vanessa
mulai pecah.
“Kenapa harus
Ibu?”
Air matanya
jatuh satu per satu, tetapi ia tidak menghapusnya.
“Semua orang
bilang Ibu sudah nggak sakit lagi. Semua orang bilang Ibu sudah tenang.” Vanesa
menunjuk pusara di hadapannya. “Tapi siapa yang bilang Ibu bakal baik-baik aja
tanpa kita?”
Akbar
menundukkan kepala.
Ia tahu. Ia juga
ingin menanyakan hal yang sama. Hanya saja,
sejak pemakaman beberapa hari lalu, ia belajar bahwa ada pertanyaan yang tidak
memiliki jawaban. Vanessa menarik napas
panjang, tetapi tangisnya semakin menjadi.
“Kenapa Tuhan
serindu itu sama Ibu?”
Akbar
menggigit bibirnya.
“Vanessa…”
“Ibu jahat!”
Kalimat itu
keluar begitu saja.
Akbar menatap
adiknya.
Vanessa
kemudian berlutut di depan pusara. Tangannya menyentuh tanah yang masih basah.
“Ibu jahat,”
ulangnya dengan suara lebih kecil. “Ibu bilang bakal nemenin aku sampai aku
lulus sekolah.”
Tangannya
gemetar.
“Ibu juga
bilang mau lihat aku pakai seragam baru.”
Tangisnya
semakin deras.
“Kenapa
sekarang Ibu malah pergi?”
Akbar tidak
mampu lagi menegur. Ia hanya berdiri di belakang Vanessa sambil menahan air
mata yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan. Karena sebenarnya, ia pun ingin marah. Ia ingin berteriak kepada Tuhan. Ia ingin bertanya kenapa orang yang paling baik di rumah
mereka harus pergi lebih dulu. Namun
sebagai seorang kakak, Akbar merasa harus terlihat kuat.Setidaknya di depan
VanessaPadahal sejak ibunya meninggal, setiap malam Akbar masih membuka pintu
kamar ibunya. Hanya untuk memastikan bahwa
kamar itu benar-benar kosong. Kadang ia
masih berharap mendengar suara ibunya dari dapur.
“Akbar,
tolong ambilkan Ibu gelas.”
Tetapi yang
terdengar hanya suara jam dinding.
Tik.
Tik.
Tik.
Dan suara itu
selalu terasa lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Vanessa,”
panggil Akbar pelan.
Adiknya tidak
menjawab.
“Pulang, ya.
Hari sudah gelap.”
Vanessa
menggeleng.
“Aku mau di
sini.”
“Besok kita
bisa datang lagi.”
“Aku takut.”
Akbar
terdiam.
“Takut apa?”
Vanessa
menatap pusara ibunya.
“Takut kalau
aku pulang, Ibu benar-benar nggak ada.”
Dada Akbar
terasa sesak.
Ia berjongkok
di samping Vanessa.
“Van…”
“Aku masih
belum hafal kalau Ibu sudah nggak ada.”
Akbar menatap
wajah adiknya.
“Kadang aku
masih mau manggil Ibu kalau lapar. Kadang aku masih mau cerita kalau di sekolah
ada yang bikin aku kesal.” Vanessa terisak. “Terus aku ingat…”
Ia berhenti.
“…Ibu sudah
nggak bisa jawab.”
Akbar akhirnya
memeluk Vanessa.
Untuk pertama
kalinya sejak pemakaman, ia membiarkan air matanya jatuh.
“Kalau mau
nangis, nangis aja,” katanya.
Vanessa
menangis di bahu kakaknya.
“Aku kangen
Ibu…”
“Aku juga.”
“Aku kangen
suara Ibu.”
“Aku juga.”
“Aku pengin
Ibu pulang.”
Akbar
memejamkan mata.
“Aku juga
pengin.”
Mereka
menangis dalam pelukan yang sama. Tidak ada nasihat. Tidak ada kalimat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Karena malam itu, mereka tahu bahwa semuanya
memang tidak akan kembali seperti dulu. Rumah
mereka akan tetap memiliki ruang makan yang sama. Sofa yang sama. Kamar
yang sama. Gelas kesayangan ibu mereka
masih berada di rak dapur. Baju-baju ibu
mereka masih tergantung rapi di lemari. Tetapi
orang yang membuat semua benda itu terasa seperti rumah sudah tidak ada.
Beberapa menit kemudian, Vanessa melepaskan
pelukan.
Ia kembali
menatap pusara ibunya.
“Ibu…”
Angin
berembus pelan.
Vanessa
tersenyum tipis di antara air matanya.
“Kalau Ibu
bisa dengar…”
Ia menarik
napas.
“Vanessa
bakal berusaha jadi anak baik.”
Akbar
menatapnya.
“Vanessa
bakal belajar lebih rajin.”
Air mata
kembali mengalir.
“Vanessa
bakal jagain Kak Akbar.”
Akbar
tersenyum kecil.
“Harusnya
Kakak yang jagain kamu.”
“Berarti kita
saling jagain.”
Akbar
mengangguk.
“Iya.”
Vanessa
mengusap tanah di depan pusara dengan ujung jarinya.
“Bu…”
Suaranya
hampir tidak terdengar.
“Tunggu aku,
ya.”
Akbar menatap
adiknya, lalu kembali memandang pusara ibu mereka.
“Kita masih
punya banyak cerita yang belum selesai, Bu.”
Ia berdiri
dan mengulurkan tangannya kepada Vanessa.
“Ayo pulang.”
Vanessa
menggenggam tangan kakaknya.
Namun sebelum
pergi, ia menoleh sekali lagi.
“Ibu…”
Senyumnya
kecil dan rapuh.
“Besok aku
datang lagi.”
Mereka
berjalan meninggalkan pemakaman. Langit sudah benar-benar gelap. Di belakang mereka, pusara itu tetap sunyi. Tidak ada jawaban. Tidak
ada suara seorang ibu yang memanggil nama mereka. Hanya angin malam yang bergerak perlahan di antara
pepohonan. Dan untuk pertama kalinya,
Vanessa mengerti bahwa kehilangan bukan tentang melupakan seseorang.
Kehilangan
adalah ketika seseorang tidak lagi bisa ditemui, tetapi segala sesuatu
tentangnya masih tinggal di dalam hati. Mungkin suatu hari
nanti, rasa sakit itu akan menjadi lebih ringan. Mungkin suatu hari nanti, Vanessa bisa mengingat ibunya
tanpa menangis.
Tetapi malam
itu belum tiba.
Malam itu,
Vanessa masih hanya seorang anak yang ingin ibunya pulang. Dan di dalam
hatinya, masih ada satu kalimat yang terus ia simpan.
"Tunggu aku, Bu."
"Bukan sekarang. Tapi suatu hari
nanti, izinkan aku datang membawa semua cerita yang belum sempat
kuceritakan."
Karya: Syarifah Balqis Arianna
Editor: Siti Qummariyah (Kru LPM Frekuensi)

0 Komentar