(Foto/ Dzul)


Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan Talk Show “Dari Allah menuju Allah”, Jumat (5/4). Talk show yang diadakan di Auditorium I kampus 1 ini diisi oleh pengajar sekaligus penulis di bidang tasawuf, Haidar Bagir, dan dosen tasawuf dan tafsir Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Safrodin Halimi. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mendiskusikan buku Dari Allah Menuju Allah karya Haidar Bagir.
Safrodin Halimi menuturkan, orang yang menganggap tasawuf sebagai sebab dari radikal itu salah. Sebenarnya mereka tidak tahu apa tasawuf itu sendiri, karena di dalam tasawuf orang tidak hanya dituntut untuk melaksanakan ibadah, tetapi juga harus disertai dengan ihsan atau penghiasan ibadah dengan akhlak yang mulia.
 Tasawuf itu mentansformasi diri, dan inti dari tasawuf itu Ihsan, baik Ihsan fi ibadah maupun Ihsan fi Muamalat, ungkap Sofarodin Halimi selaku pemateri.
Menurut Haidar Bagir, agama Islam ini dibangun oleh tiga pilar yakni Islam, Iman dan Ihsan. Ihsan merupakan pilar yang paling besar, sedangkan Islam dan Iman hanyalah pilar kecil. Tanpa pilar yang besar bangunan tidak akan berdiri kokoh, lama-lama akan bobrok, kemudian yang terlihat hanya puing-puingnya saja.
 Orang zaman sekarang kuat di simbol tetapi lemah di akhlak. Orang zaman dulu beda, lemah di simbol namun kuat di akhlak, yang mana akhlak itu esensi dari ajaran agama," Jelas Haidar Bagir.
Dalam talk show ini, Safrodin Halimi juga menuturkan bahwa belajar tasawuf itu harus bertahap dari tingkat pertama, kedua, hingga tingkat terakhir. Pun harus ada guru yang membimbing.
 "Orang yang belum mengenal tasawuf harus belajar tingkat awal terlebih dahulu, kalau sudah cukup beranjak ke tingkat selanjutnya dan seterusnya, dan ada guru  yang mau  membimbing, karena tasawuf ini terkait dengan spiritual," pungkas Safrodin. (kabar/ Dzul)