Sosok Adib Budiono jarang ditemui. Meski dalam keadaan terbatas, ia mampu menciptakan berbagai macam barang. Tak heran, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai sosok inspiratif Indonesia.

Di meja ruang tamu rumah Adib Budiono, berjejer berbagai macam produk. Dari syrup, sabun cuci, hand sanitaizer, dan masker. Itu adalah produk hasil bikinan anggota Sahabat Difabel Jepara (sadifa).

Dari produk-produk itu yang menarik adalah masker dari kain batik. Yang masih dalam keadaan dibungkus plastik. Adib-sapaannya-yang merupakan ketua Sadifa sengaja menatanya sedemikian rupa. Katanya biar sekalian promosi.

Rumah Adib tidak sekadar rumah tinggal. Itu sekaligus menjadi sekertariat Sadifa. “Untuk ruang bersama,” katanya.

Baru-baru ini, Adib beroleh penghargaan. Ia dinobatkan menjadi sosok inspiratif Merdeka. Bersama enam orang lain.

Penghargaan ini, diperoleh sebab inovasinya pada masker. Yang saat itu berada di atas meja bersama produk yang lain. Masker itu dari kain bercorak batik dan di tengahnya ada mika berbentuk kotak. Dan masih terbungkus rapi dalam plastik.

Pada awalnya, masker itu ingin dibuat seperti scuba. Namun, ada kesulitan dalam mencari bahan yang lentur untuk bibir di tengah. Akhirnya dibuat seperti masker biasanya.

Ia menjelaskan, ide awal dari pembuatan masker itu adalah ketika melihat cara komunikasi difabel tuna rungu. Yang perlu melihat gerak bibir dan tangan.

Padahal kebanyakan masker tidak bisa memperlihatkan bibir. Ini tentu menyulitkan difabel tuna rungu untuk memahami lawan bicara. “Di awal Pandemi sudah memikirkan itu,” katanya.

Setelah dipikirkan, Adib mulai mendapatkan gagasan. Selang tiga bulan, ia mulai merealisasikan gagasan tersebut.

Menurut pengakuan pria kelahiran 1981 ini, perlu berkali-kali untuk mencoba membikinnya. “Kesulitannya ketika meletakkan secara pas mika di tengah,” katanya.

Dengan kegigihan seorang penemu, ia akhirnya mampu membuat masker yang pas dan layak jual. Masker ini kemudian dinamai dengan masker difabel. Menurutnya pengguna bukan hanya penyandang difabel, melainkan semua orang. Agar tuna rungu juga bisa berkomunikasi dengan orang lain. 

Kini masker difabel sudah mulai dipasarkan. DIhargai dengan uang Rp 8.500. Meski masih belum banyak yang membeli. “Kesulitan di pemasaran,” kata warga Ngabul ini.

Lelaki yang juga dinobatkan sebagai 100 alumni inspiratif UNNES ini mengakui masih kesulitan dalam memasarkan produk-produk hasil buatan komunitas. “Namun, itu jangan dijadikan penghambat,” kata Adib. Baginya, setiap tahun harus mampu membikin inovasi. Minimal dua inovasi.

Saat ini, ia dan anggota komunitasnya telah membikin tidak kurang dari 14 produk. Ini tentu saja akan terus bertambah. “Setiap tahum minimal dua produk,” katanya.

Ke depan, Adib dan komunitasnya, tidak hanya mencipta produk, mereka ingin punya panti, sekolah dan rumah sakit untuk para difabel. “Di sini SLB cuma satu,” terangnya lesu. 

Dalam menjalani hidup ini, Adib tak peduli dikenang atau pun tidak. Baginya yang terpenting adalah bermanfaat bagi orang lain. “Kalau harimau meninggalkan gading, saya ingin meninggalkan sesuatu yang berarti untuk orang lain,” katanya.

(AHMAD AMIRUDIN/Penulis Lepas)