Sumber Dokumentasi: Kompasiana.com

Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Gen Z (Generasi Z) adalah kelompok yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, generasi setelah milenial dan sebelum alfa. Mereka tumbuh di era teknologi informasi yang pesat, dikenal sebagai digital native karena sangat akrab dengan internet, media sosial, serta terbiasa berinovasi dalam komunikasi. Secara sosial, Gen Z menghargai ekspresi individual, terbuka terhadap perbedaan, dan realistis dalam mengambil keputusan.


Namun, di tengah gaya hidup yang serba digital, Gen Z juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga heritage warisan budaya, tradisi, dan nilai-nilai luhur bangsa. Menurut Kamus Oxford dan berbagai sumber jurnal, heritage mencakup warisan budaya baik berupa kebendaan (seperti monumen, bangunan, alat tradisional) maupun yang tidak berwujud (seperti cara hidup, norma, tata nilai, tradisi, dan cerita rakyat). UNESCO juga menegaskan bahwa heritage adalah peninggalan masa lalu yang harus diteruskan ke generasi berikutnya karena memiliki makna penting bagi identitas suatu bangsa.

 

Menariknya, Gen Z justru bisa melestarikan heritage dengan cara yang lebih efektif melalui teknologi. Misalnya, penggunaan hashtag (#) di media sosial mampu mengelompokkan dan menyebarkan konten budaya secara cepat dan luas, sehingga lebih mudah diakses sekaligus meningkatkan kesadaran publik. Cara dapat mengubah kesan pelestarian budaya tidak lagi terasa kaku, melainkan bisa tampil segar dan relevan di mata generasi muda.

Dahulu, kemerdekaan diperjuangkan dengan bambu runcing dan seruan pertempuran. Sekarang, Gen Z memegang senjata berbeda: ide, kreativitas, dan koneksi internet. Pertanyaannya, apa Gen Z sudah benar-benar memakainya untuk mengisi kemerdekaan, atau hanya untuk memuaskan algoritma? Cara yang dapat dilakukan Gen Z dengan keunggulan teknologi dan kemampuan yang tentunya sangat berdampak pada pelestarian heritage salah satunya adalah dengan mengubah hastag menjadi sebuah gerakan yang nyata.

Gen Z sangat ahli dalam membuat sesuatu menjadi viral atau terkenal. Lagu-lagu receh sampai kampanye sosial, semua bisa trending kalau Gen Z yang bergerak. Tapi kemerdekaan tidak bisa hanya berhenti di like dan share saja. Kalau Gen Z bisa menggerakkan ribuan orang lewat hashtag #SaveEarth atau #BanggaBuatanIndonesia, seharusnya Gen Z juga bisa membuat aksi nyata seperti: bersih-bersih lingkungan, belanja produk lokal, atau ikut diskusi publik. Hashtag hanyalah pintu masuk dan tindakan nyatalah yang menjadi cerita akhir.

Gen Z, dengan segala dinamika dan kecakapan digitalnya, memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa kemerdekaan tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi terus hidup dalam bentuk inovasi, kolaborasi, dan karya nyata. Mulai dari ruang-ruang maya hingga aksi di lapangan, setiap langkah dan kontribusi menjadi jembatan antara semangat para pendahulu dan aspirasi masa depan. Inilah generasi yang mengubah tagar menjadi gerakan, tren menjadi nilai, dan momen menjadi warisan, sehingga kemerdekaan bukan hanya diperingati setiap tahun, tetapi dirasakan manfaatnya setiap hari oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kabar: Zada Rizqiya Ayabana Attaqa (Kru Magang LPM 24)

Editorial: Dian Nur Hanifah (Kru LPM 23)