Sumber Dokumentasi: 

Karya: Siti Qummariyah

Hujan turun tanpa jeda,
menyusuri atap-atap tua
seperti doa yang patah sebelum selesai dibaca.
Di sepanjang sungai,
air membawa kabar gelap
yang tak pernah diminta siapa pun.

Di kaki bukit itu,
tanah mendesah pelan
sebelum pecah dalam suara yang tak bisa dilupakan.
Rumah-rumah terhenti napasnya,
ditarik arus keruh yang tak mengenal belas kasihan.
Sebuah foto keluarga mengambang
di antara kayu patah dan paku berkarat,
mencari tangan yang dulu menjaganya.

Anak-anak berlari dalam gemuruh,
mencari pelukan yang hilang dari pandangan malam.
Seorang ibu menggenggam tangan putrinya,
mengabaikan dingin yang menusuk,
mengabaikan kenyataan
bahwa rumah mereka kini menjadi sungai.

Tenda-tenda berdiri seperti luka
yang mencoba ditutup dengan kain seadanya.
Di dalamnya, suara tangis
bukan lagi tentang ketakutan
melainkan tentang kehilangan;
nama-nama yang tidak kembali dipanggil.

Namun di antara lumpur yang memeluk sisa-sisa kehidupan,
manusia tetap mencoba berdiri.
Saling menguatkan dengan secuil roti,
dengan pelukan singkat,
dengan doa sederhana yang naik ke langit
yang masih penuh percaya.

Banjir membawa harta,
longsor menelan rumah,
namun tidak satu pun
yang mampu merampas harapan.
Ia tumbuh pelan
seperti lampu kecil di tengah gelap,
seperti tangan kecil yang kembali menggenggam,
seperti langkah pertama
menuju hari yang ingin disembuhkan.

Dan ketika matahari akhirnya muncul
dari balik kabut yang basah,
kita tahu:
meski bukit telah membuka luka,
manusia tetap memilih untuk hidup.