Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Dalam agama Islam terdapat satu bulan yang mewajibkan umat Muslim berpuasa sebulan penuh. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar atau dahaga, tetapi juga menjadi sarana untuk meraih rahmat dan ampunan Allah Swt., sehingga kita dapat merasakan keberkahan. Keberkahan bukan hanya memperoleh sesuatu yang luar biasa, melainkan keadaan ketika hati merasakan ketenangan meskipun raga dibebani berbagai tanggung jawab duniawi. Menurut Imam Nawawi asal makna berkah adalah kebaikan yang banyak dan abadi. Sesuatu yang berkah tidak hanya menyenangkan saat ini, tetapi membawa dampak positif yang berkesinambungan.
Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah yang dimuliakan oleh Allah Swt. Pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Suasana Ramadhan terasa berbeda, masjid lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar di mana-mana, dan semangat berbagi meningkat tajam. Rasulullah saw. bersabda bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ini menjadi tanda bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal ibadah dan meraih ampunan.
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa." (HR. Ahmad dan an-Nasa`i)
Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, malam yang sangat mulia dengan segala nikmatnya. Sebagaimana telah tercantum dalam Al-Qur’an surat Al Qadr ayat ke 3, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Menurut Imam Syafi'i, malam Lailatul Qadar umumnya terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Nabi Muhammad saw. menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh mencari dan menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak ibadah. Malam ini menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk meraih ampunan dosa dan meningkatkan derajat ketakwaan. Siapa saja yang menghidupkannya dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah Swt., maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Suasana malam Lailatul Qadar digambarkan penuh ketenangan, kedamaian, dan keberkahan yang melimpah.
Untuk meraih keberkahan malam Lailatul Qadar, seseorang perlu mempersiapkan diri dengan niat yang tulus dan hati yang ikhlas. Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan shalat malam, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, serta memperbanyak sedekah merupakan langkah utama yang dianjurkan. Selain itu, memperbanyak doa juga sangat penting, terutama doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah r.a. untuk memohon ampunan kepada Allah Swt. Melakukan i’tikaf di masjid dapat membantu seseorang lebih fokus dalam beribadah dan menjauhkan diri dari kesibukan duniawi. Tidak kalah penting, malam tersebut hendaknya dijadikan momentum untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, dan berkomitmen menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan berlalu.
Berikut
ini adalah amalan-amalan yang dianjurkan di bulan Ramadhan:
1. Puasa
Allah memerintahkan berpuasa di
bulan Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertaqwa.” (QS.
Al-Baqarah:183).
2. Membaca
al-Qur`an
Membaca al-Qur`an sangat dianjurkan
bagi setiap Muslim di setiap waktu dan kesempatan. Firman Allah:
“Beberapa hari yang ditentukan itu
ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil. ”(QS. Al-Baqarah:185).
3. Menghidupkan
malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat Tarawih berjamaah
Shalat Tarawih disyari'atkan
berdasarkan hadits 'Aisyar radhiyallahu 'anha, ia berkata:
"Sesungguhnya Rasulullah
keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid, dan shalatlah
beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya.
Ketika Nabi mengerjakan shalat (di malam kedua), banyaklah orang yang shalat di
belakang beliau. Di pagi hari berikutnya, orang-orang kembali
memperbincangkannya. Di malam yang ketiga, jumlah jamaah yang di dalam masjid
bertambah banyak, lalu Rasulullah keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam
keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah, sehingga Rasulullah hanya
keluar untuk melaksanakan shalat Subuh. Tatkala selesai shalat Subuh, beliau
menghadap kepada jamaah kaum Muslim, kemudian membaca syahadat dan bersabda,
'Sesungguhnya kedudukan kalian tidaklah samar bagiku, aku merasa khawatir
ibadah ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya.
" Rasulullah
wafat dan kondisinya tetap seperti ini. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
4. Menghidupkan
malam-malam Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah malam yang
lebih baik daripada seribu bulan dan diyakini terjadi pada sepuluh malam
terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23, 25,
27, dan 29. Firman Allah:
“Malam kemuliaan itu lebih baik
dari seribu bulan. (QS.al-Qadar :3) Malam itu adalah pelebur dosa-dosa di masa
lalu, Rasulullah bersabda: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. “(QS. Al-Qadr :3).
5. I'tikaf di
malam-malam Lailatul Qadar
I'tikaf dalam bahasa adalah berdiam
diri atau menahan diri pada suatu tempat, tanpa memisahkan diri. Sedang dalam
istilah syar'i, i'tikaf berarti berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah
dengan cara tertentu sebagaimana telah diatur oleh syari'at. I'tikaf merupakan
salah satu sunnah yang tidak pernah ditinggal oleh Rasulullah, seperti yang
diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha:
"Sesungguhnya Nabi selalu
i'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai meninggal dunia,
kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sesudah beliau." (HR. Muttafaqun 'alaih).
6. Memperbanyak
sedekah
Rasulullah adalah orang yang paling
pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan
riwayat Ibnu Abbas, ia berkata:
"Rasulullah adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan saat Jibril menemui beliau.” (HR. Al-Bukhari).
Demikianlah beberapa ibadah penting yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan dan telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Semoga kita bisa menjemput keberkahan di bulan Ramadhan serta meraih keutamaan malam Lailatul Qadar yang bahkan lebih baik dari pada seribu bulan.
Kabar: Sayyida Tsaabita Aliyya (Kru LPM frekuensi 25)
Editor: Nida Izzatus Safa'ah (Kru LPM Frekuensi 24)

0 Komentar