Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Perubahan skema pencairan beasiswa KIP Kuliah (KIPK) di bawah naungan (Kementerian
Agama) Kemenag menjadi topik hangat yang diperbincangkan dalam acara Family
Gathering mahasiswa penerima beasiswa ( Universitas Islam Negeri ) UIN Walisongo Semarang pada Rabu, 04/03/26. Meski
menjanjikan kemudahan jangka panjang, transisi perpindahan bank dari (Bank Tabungan
Negara) BTN ke (Bank Syariah Indonesia) BSI rupanya menyisakan ganjalan bagi
para mahasiswa, terutama mereka yang sedang berada di kampung halaman.
Salah satu
mahasiswa penerima KIPK, merasa skema baru tersebut punya sisi gelap dan
terang. Meski transfer langsung ke rekening pribadi terdengar lebih praktis,
nyatanya proses aktivasi di lapangan justru jadi “PR” baru yang melelahkan bagi
mahasiswa.
“Rasanya lebih
dimudahkan tapi agak rumit sedikit. Prosesnya jadi lama, padahal seharusnya
sudah bisa cair. Kita harus ke teller lagi, padahal posisi sekarang sudah
mau mendekati hari libur,” ujar Jauza.
Hal yang sama
disampaikan oleh Nadya. Ia merasa perubahan dari BTN ke BSI memaksa mahasiswa untuk
memulai segalanya dari nol, mulai dari pembuatan rekening hingga aktivasi ulang
yang memakan waktu. “Untuk saat ini, jujur rasanya lebih dipersulit karena kita
harus bikin rekening lagi dan aktivasi lagi,” keluhnya.
Keluhan paling
tajam datang dari aspek teknis kehadiran fisik. Kebijakan yang mengharuskan
mahasiswa datang langsung ke bank yang telah disepakati, menjadi beban
tersendiri bagi mahasiswa rantau. Banyak mahasiswa rantau yang sudah telanjur
memesan tiket pulang ke luar kota bahkan luar pulau, sehingga instruksi untuk
hadir fisik ke bank di Semarang ini terasa sangat memberatkan.
“Kita dipaksa
balik ke Semarang Cuma buat ke teller. Padahal di grup angkatan sudah
ditagih terus untuk segera urus. Pihak kampus atau Kemenag mungkin tidak tahu
kalau tidak semua mahasiswa penerima KIPK rumahnya dekat dengan kampus.
Ada yang butuh waktu berhari-hari untuk sampai ke sini,” tambah Jauza
Meski sempat
bingung di awal, para mahasiswa mengaku informasi yang disampaikan pihak
akademik kampus sebenarnya sudah cukup jelas. Namun, mereka berharap ada solusi
konkret agar kejadian serupa tidak terulang.
Nadya dan Jauza
kompak menyarankan agar kedepannya setiap penerima KIPK segera difasilitasi
dengan kartu ATM yang bisa digunakan di seluruh Indonesia. Dengan begitu,
mahasiswa tidak perlu lagi mengantre di teller atau menempuh perjalanan jauh
hanya untuk urusan administrasi bank.
“Harapannya
jangan ada perubahan skema lagi yang mendadak. Semoga kedepannya lebih simpel,
cukup lewat ATM saja biar kita yang di perantauan nggak kelabakan kalau jadwal
cairnya pas lagi libur semester,” tutup Nadya.
Kabar: Putri Isma Arum Setia Wati (Kru Magang LPM Frekuensi 25)
Editor: Siti Qummariyah (Kru LPM Frekuensi)
0 Komentar