Sumber Dokumentasi: Pribadi 

SEMARANG, KABARFREKUENSI.COM-Aliansi Mahasiswa Ngaliyan yang terdiri atas berbagai organisasi mahasiswa (ormawa) di wilayah Ngaliyan, termasuk mahasiswa UIN Walisongo dan perwakilan Universitas Negeri Semarang (UNNES), menggelar aksi “Teklap” (Teknis Lapangan) serta penyampaian pernyataan sikap di Landmark UIN Walisongo, Senin (13/4) sore.

Aksi tersebut merupakan bentuk respons atas berulangnya kecelakaan lalu lintas yang terjadi di tanjakan Silayur, Ngaliyan, yang kerap menimbulkan korban jiwa.

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (Dema FTIK) UIN Walisongo, Gilang, menegaskan bahwa kecelakaan di kawasan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh kelalaian manusia (human error), melainkan menunjukkan adanya kegagalan sistemik dari pemerintah.

“Peristiwa ini terus berulang sejak 2016. Setiap terjadi kecelakaan, muncul perhatian publik dan wacana penanganan, tetapi kemudian mereda tanpa solusi konkret hingga terjadi korban jiwa kembali. Ini menunjukkan adanya kesalahan sistem yang belum berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Gilang juga menyoroti kurangnya ketegasan dari pihak terkait, mulai dari Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas), Dinas Perhubungan (Dishub), hingga Wali Kota Semarang dalam menangani jalur rawan kecelakaan tersebut.

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan, mahasiswa mengajukan dua tuntutan utama kepada Pemerintah Kota Semarang. Pertama, melakukan evaluasi dan audit terhadap akses jalan menuju kawasan industri di Ngaliyan yang sering dilalui kendaraan berat, seperti truk. Kedua, mendesak transparansi serta realisasi anggaran perbaikan jalan Silayur yang sebelumnya telah diwacanakan, tetapi hingga kini belum menunjukkan tindak lanjut yang jelas.

Ketua Dema Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Dani, menambahkan bahwa evaluasi tersebut mendesak dilakukan mengingat tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas dan berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.

“Aktivitas kendaraan besar di jalur tersebut sangat tinggi dan mengancam keamanan pengguna jalan. Oleh karena itu, perlu adanya langkah konkret dari pemerintah,” katanya.

Aksi ini turut diikuti oleh sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas, di antaranya Ian (Dema FISIP), Arya (Ketua Dema FPK), dan Alif (Ketua Dema FST). Mereka menilai bahwa persoalan di tanjakan Silayur merupakan isu kemanusiaan yang berdampak luas, termasuk bagi mahasiswa dari kampus lain, seperti mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNNES yang kerap melintasi jalur tersebut.

Para mahasiswa berharap pemerintah dan aparat terkait tidak saling melempar tanggung jawab serta segera merealisasikan solusi yang telah dijanjikan.

“Janji kampanye Wali Kota untuk menyelesaikan persoalan di Silayur harus segera diwujudkan, bukan sekadar dikaji ulang tanpa kepastian,” tegas Gilang.

Sebagai tindak lanjut, Aliansi Mahasiswa Ngaliyan berencana menggelar aksi lanjutan pada Selasa (14/4) pukul 15.00 WIB hingga selesai, yang akan dilaksanakan di depan Kampus 3 UIN Walisongo.

Kabar: Mutiara Sani Azzahra (Kru Magang LPM Frekuensi 25)

Editor: Siti Qummariyah (Kru LPM Frekuensi 23)