SEMARANG, KABARFREKUENSI.COM–Aliansi
Mahasiswa Walisongo bersama masyarakat Ngaliyan kembali menggelar aksi
solidaritas yang dirangkai dengan mimbar bebas dan konsolidasi terbuka pada
Selasa (14/4) di depan Kampus 3 UIN (Universitas Islam Negeri) Walisongo
Semarang. Aksi ini merupakan respons atas persoalan kemacetan yang kian
meresahkan di Jalan Prof. Hamka, terutama akibat lalu lintas truk besar pada
jam kerja.
Ketua DEMA UIN Walisongo, Asad, menyampaikan
bahwa aksi serupa bukan kali pertama dilakukan. Ia mengungkapkan bahwa pada
periode 2024 hingga 2025, mahasiswa bersama masyarakat bahkan sempat turun
langsung ke jalan untuk memblokade truk-truk yang melintas pada jam sibuk.
Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut yang signifikan dari pemerintah.
“Ini sudah menjadi agenda tahunan kami, tetapi
belum ada solusi konkret dari pemerintah. Padahal dampaknya dirasakan setiap
hari oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurut Asad, kepadatan lalu lintas di Jalan
Prof. Hamka, Ngaliyan, semakin parah seiring tingginya intensitas kendaraan
besar yang melintas tanpa pengaturan yang jelas. Kondisi ini tidak hanya
menghambat mobilitas warga, tetapi juga memicu keresahan yang terus berulang.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa berencana
mengirimkan surat permohonan audiensi kepada pemerintah daerah. Upaya ini
dilakukan untuk mendorong adanya dialog terbuka serta realisasi kebijakan yang
mampu menjawab persoalan tersebut.
“Jika setelah aksi ini belum ada tindakan, kami
akan melanjutkan dengan audiensi. Harapannya, ada solusi konkret yang
benar-benar dapat dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Aksi ini juga mendapat respons positif dari
masyarakat. Sejumlah warga turut hadir di lokasi untuk menyampaikan aspirasi
secara langsung melalui forum mimbar bebas. Kolaborasi antara mahasiswa dan
masyarakat dinilai menjadi kekuatan penting dalam memperjuangkan kepentingan
bersama.
Dalam kegiatan bertajuk “Aksi Solidaritas, Mimbar
Bebas, dan Konsolidasi Terbuka” tersebut, peserta aksi turut mengundang
sejumlah pihak terkait, seperti Wali Kota Semarang, Ketua DPRD, Kapolrestabes,
dan Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang. Namun, tidak satu pun dari pihak
yang diundang hadir dalam kegiatan tersebut.
Aksi ini menegaskan bahwa persoalan kemacetan
serta lalu lintas truk besar pada jam kerja di wilayah Ngaliyan bukan sekadar
isu lokal, melainkan masalah publik yang membutuhkan perhatian serius dan
langkah cepat dari pemerintah. Mahasiswa dan masyarakat berharap aspirasi yang
disampaikan tidak lagi diabaikan serta segera direspons dengan kebijakan yang
konkret dan berkelanjutan.

0 Komentar