Sumber Dokumentasi: Shutterstock

Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Pernahkah terpikir mengapa ada orang yang seolah selalu ingin menjadi pusat dari seluruh kehidupan kita? Fenomena ini bukan sekadar keegoisan biasa, melainkan pertanda nyata dari Narcissistic Personality Disorder atau yang lazim disebut NPD. Gangguan psikologis ini tidak pandang bulu karena bisa menyerang siapa saja tanpa terkecuali, dari kelompok yang paling tua hingga anak muda masa kini, dari mereka yang hidup berkecukupan hingga yang serba pas-pasan sekalipun.

Berada lama-lama di dekat mereka sungguh menguras kewarasan. Kita akan selalu diposisikan sebagai pihak yang disalahkan, dan cepat atau lambat kita bisa mengalami kerugian besar secara emosional maupun materi hingga berujung pada tekanan psikologis yang cukup berat. Situasi ini terjadi karena pengidap NPD memiliki kapasitas empati yang sangat terbatas, bahkan nyaris tidak ada sama sekali. Bayangkan betapa lelahnya hidup berdampingan dengan seseorang yang terus merasa dirinya paling benar dan selalu memanipulasi kenyataan demi kepentingan egonya sendiri.

Banyak dari kita meremehkan seberapa besar risiko finansial yang bisa ditimbulkan oleh pasangan atau rekan kerja dengan kecenderungan narsistik ini. Penderita kerap memiliki delusi kebesaran yang mendorong mereka pada perilaku impulsif, seperti berhutang dalam jumlah besar demi menjaga gengsi sosial yang semu. Ketika masalah akhirnya meledak, mereka dengan kelihaian manipulatifnya akan menyudutkan kita untuk menanggung semua beban tersebut. Secara tidak sadar, mental kita terus digerus hingga kita benar-benar percaya bahwa semua kekacauan itu adalah kesalahan kita sendiri.

Mengenai realita ini, terdapat penelitian yang cukup membuka mata dari Stinson beserta timnya pada tahun 2008 yang dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Psychiatry. Riset tersebut menemukan bahwa sekitar enam persen populasi bisa memiliki kecenderungan NPD sepanjang hidup mereka, dan dampaknya sangat merusak dinamika sosial. Angka itu bukan jumlah yang kecil jika kita mulai membayangkan berapa banyak individu yang mungkin setiap harinya sedang berhadapan dengan manipulasi psikologis semacam ini tanpa menyadarinya sama sekali.

Menyambung hal tersebut, terdapat pula publikasi ilmiah dari Mitra dan Fluyau pada tahun 2023 melalui StatPearls yang mengupas tuntas akar dari gangguan kepribadian ini. Keduanya menyoroti bahwa trauma masa kecil yang berat, dipadukan dengan faktor genetik, bisa menciptakan lapisan pertahanan diri berupa arogansi untuk menutupi rasa tidak aman yang sangat dalam. Temuan ini mengukuhkan bahwa NPD bukanlah sekadar istilah yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial, melainkan kondisi klinis nyata yang membutuhkan penanganan serius.

Lantas bagaimana cara menghadapi sosok seperti ini jika mereka sudah terlanjur masuk terlalu dalam ke lingkaran kehidupan kita? Langkah pertama dan paling penting adalah membangun batasan yang jelas dan tegas. Jangan terpancing untuk memberikan reaksi emosional yang meledak-ledak saat mereka sengaja memancing amarah kita. Reaksi kesal kita justru menjadi bahan bakar bagi kesombongan mereka, sehingga lebih baik kita memberikan respons yang sedatar mungkin melalui metode grey rock.

Namun anjuran untuk sekadar menjauh tentu terdengar tidak realistis jika sang pengidap adalah anggota keluarga inti atau rekan terdekat kita. Kita tidak bisa langsung pergi begitu saja karena ada ikatan tanggung jawab dan beban batin yang menahan langkah. Menghadapi situasi seperti ini membutuhkan kesabaran yang besar serta taktik komunikasi yang cerdik. Kita harus berani belajar menolak permintaan mereka tanpa merasa perlu merangkai alasan yang panjang dan berbelit.

Lalu adakah harapan untuk membantu memulihkan mereka yang kita sayangi namun sudah tenggelam dalam pola ini? Sejujurnya proses penyembuhan mereka tidaklah mudah, karena sifat dasar gangguan ini menghalangi mereka untuk melihat kekurangan diri sendiri. Namun kita tetap bisa mencoba langkah-langkah kecil secara konsisten, seperti hanya memberikan apresiasi ketika mereka benar-benar melakukan kebaikan yang tulus, serta menghindari kritik yang bersifat konfrontatif secara langsung.

Terkait penanganan medis, Caligor beserta rekan-rekannya dalam American Journal of Psychiatry tahun 2015 menegaskan bahwa psikoterapi jangka panjang adalah jalur penanganan yang paling rasional untuk mengubah pola pikir pengidap NPD. Namun kembali lagi, mendorong seseorang dengan kecenderungan narsistik untuk menjalani terapi bukanlah hal yang mudah, kecuali ada krisis besar yang cukup mengguncang kesombongan mereka terlebih dahulu.

Oleh sebab itu, pendekatan yang paling realistis adalah dengan perlahan menyarankan sesi konseling menggunakan alasan yang lebih dapat mereka terima, misalnya untuk membantu mengelola stres pekerjaan sehari-hari. Hindari memaksa mereka dengan kalimat yang terkesan menuduh atau merendahkan. Strategi ini membutuhkan kehalusan dan energi ekstra dari pihak keluarga yang mendampingi, namun sering kali menjadi satu-satunya pintu masuk yang mungkin bisa terbuka.

Kadang memang terbesit rasa kasihan, karena di balik perisai kesombongan dan sikap dingin mereka sebenarnya bersembunyi jiwa yang kesepian dan diliputi rasa takut. Namun kita harus tetap waspada agar empati kita tidak berbalik menjadi senjata yang perlahan menghancurkan diri kita sendiri. Bertahan hidup berdampingan dengan pengidap NPD memang menuntut kewaspadaan yang konstan. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat karena kita tidak pernah bisa meramal kapan suasana hati mereka akan berubah drastis dari yang tampak menyenangkan menjadi manipulatif dan menyakitkan.

Pada akhirnya, kemampuan mengenali ciri-ciri manipulasi sedini mungkin adalah pertahanan terbaik yang bisa kita miliki. Jangan biarkan pikiran kita terus dibius oleh keyakinan bahwa kesabaran dan cinta semata dapat mengubah kepribadian seseorang secara ajaib. Transformasi sejati hanya bisa tumbuh dari kemauan mereka sendiri, dengan bimbingan dari para profesional di bidang kesehatan mental.

Tugas kita adalah menjaga kewarasan pikiran sendiri sambil tetap memberikan dukungan dalam batas yang wajar. Kita berhak merasakan kebahagiaan dan hidup dengan tenang tanpa harus selamanya menjadi tempat pembuangan emosi bagi orang lain. Teruslah melangkah maju dengan batasan yang jelas, agar kendali atas kehidupan kita tidak pernah lagi bisa diambil alih oleh sandiwara yang mereka ciptakan.

Daftar Pustaka

Caligor, E., Levy, K. N., & Yeomans, F. E. (2015). Narcissistic personality disorder: Diagnostic and clinical challenges. American Journal of Psychiatry, 172(5), 415–422. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2014.14060723

Mitra, P., & Fluyau, D. (2023). Narcissistic personality disorder. StatPearls.

Stinson, F. S., Dawson, D. A., Goldstein, R. B., Chou, S. P., Huang, B., Smith, S. M., Ruan, W. J., Pulay, A. J., Saha, T. D., Pickering, R. P., & Grant, B. F. (2008). Prevalence, correlates, disability, and comorbidity of DSM-IV narcissistic personality disorder: Results from the wave 2 national epidemiologic survey on alcohol and related conditions. The Journal of Clinical Psychiatry, 69(7), 1033–1045. https://doi.org/10.4088/jcp.v69n0701 

Kabar: Jovi Fernando Setiawan 

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)