Semarang, KABARFREKUENSI.COM-‘Ibu bilang aku lahir dari doa, tapi Ayah bilang aku lahir dari kesalahan.’
Kalimat itu sudah menetap di kepalaku sejak aku cukup umur untuk memahami arti kecewa. Rumahku selalu berbau kopi pahit dan suara televisi yang sengaja disetel terlalu keras untuk menutupi keheningan. Di rumah ini, bicara adalah hal yang mahal, dan cinta adalah sesuatu yang disembunyikan di balik pintu kamar yang tertutup rapat. Aku tumbuh menjadi gadis yang lebih suka menyimpan suara di tenggorokan, membiarkannya mengendap hingga menjadi sunyi yang pekat.
Namun, tanganku tidak pernah bisa diam. Kemanapun aku pergi, sebuah sketchbook bersampul kusam dan segenggam pulpen warna-warni selalu mendekam dalam tasku. Mereka adalah senjataku. Mereka adalah caraku berteriak tanpa perlu membuka mulut. Sore itu, hujan turun membilas kaca jendela ruang tamu. Aku duduk di sudut sofa, meringkuk dengan buku gambar di pangkuan. Di dapur, aku mendengar denting sendok yang beradu dengan cangkir Ibu sedang membuat kopi untuk Ayah. Tak lama, langkah kaki berat Ayah terdengar menuju ruang tengah. Beliau duduk di kursi goyangnya, menatap televisi yang menampilkan berita sore dengan tatapan kosong.
Aku membuka halaman baru. Tanganku meraih pulpen warna kuning terang, lalu beralih ke warna emas. Aku mulai menggambar Ibu. Di atas kertas itu, Ibu tidak nampak seperti wanita yang sering menyeka air mata dengan ujung daster. Aku menggambarnya sebagai matahari yang sedang merekah. Garis-garis kuning itu meliuk membentuk kelopak bunga yang besar. Bagi Ibu, kehadiranku adalah jawaban atas sujud-sujud panjangnya di sepertiga malam. Di mata Ibu, aku adalah cahaya, meskipun aku merasa diriku sendiri hanyalah bayangan yang redup.
Setelah selesai dengan halaman kiri, aku menarik napas panjang. Jemariku gemetar saat meraih pulpen warna abu-abu pekat dan biru tua. Aku beralih ke halaman kanan. Di sana, aku menggambar Ayah. Sosok itu nampak seperti kumpulan awan badai yang menggulung. Tidak ada wajah yang jelas, hanya garis-garis tajam yang saling tumpang tindih. Warna hitamnya ditebalkan di bagian dada, tempat dimana kalimat "lahir dari kesalahan" itu bermuara. Di atas kertas, Ayah nampak dingin, luas, dan menakutkan seperti samudra di tengah malam. Setiap goresan biru tua yang kubuat terasa seperti cubitan di ulu hati. Mengapa doa dan kesalahan harus tinggal di bawah atap yang sama?
Tiba-tiba, sebuah suara berat memecah
lamunan visual. "Gambar apa kamu?"
Aku tersentak. Ayah sudah berdiri di samping sofa. Bau kopi pahit menguar dari napasnya. Aku refleks ingin menutup buku itu, tapi jemari Ayah yang kasar lebih dulu menahan pinggir kertas. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah rahasia paling gelap di dunia baru saja terbongkar. Aku menunduk, menunggu suara keras atau tawa remeh yang biasanya muncul. Namun, yang terdengar hanyalah keheningan yang lebih panjang dari biasanya. Ayah menatap dua halaman itu bergantian. Matahari yang kuning terang di sisi kiri, dan badai yang kelabu di sisi kanan.
"Kenapa warnanya berbeda?"
tanya Ayah pelan. Suaranya tidak tajam. Ada sesuatu yang retak di sana.
Aku memberanikan diri menatapnya, lalu beralih ke buku gambarku. Aku mengambil pulpen warna ungu warna yang jarang digunakan. Dengan tangan gemetar, aku menarik satu garis melengkung dari tengah-tengah matahari milik Ibu, melintasi batas tengah buku, menuju pusat badai milik Ayah. Garis ungu itu nampak seperti jembatan kecil yang rapuh.
"Karena aku ada di
tengah-tengahnya," jawabku lirih. Ini adalah kalimat terpanjang yang
pernah kuucapkan pada Ayah dalam setahun terakhir. "Ibu adalah kuning, dan
Ayah adalah biru. Kalau dicampur, mungkin bisa jadi warna lain. Tapi bagiku,
aku hanyalah garis ungu ini. Yang berusaha menahan agar matahari tidak padam
dan badai tidak hancur."
Ayah terdiam lama sekali. Beliau
menyentuh garis ungu yang tintanya masih basah itu dengan ujung telunjuknya.
Sedikit noda ungu tertinggal di kulitnya yang keriput. Untuk pertama kalinya,
aku melihat mata Ayah berkaca-kaca. Beliau tidak meminta maaf, tidak juga
memelukku. Tapi beliau duduk di sampingku di sofa, tetap diam, namun tidak lagi
terasa jauh.
Ibu datang membawa nampan berisi
camilan, langkahnya terhenti melihat kami duduk berdampingan. Aku tersenyum
tipis, lalu meraih pulpen warna hijau terang. Aku mulai menggambar pucuk-pucuk
daun kecil di sepanjang garis ungu itu.
Mungkin aku memang lahir dari doa yang
dianggap kesalahan, atau kesalahan yang diselamatkan oleh doa. Tapi sore itu,
di antara bau kopi dan suara televisi, aku sadar satu hal: sketsa hidupku tidak
harus melulu hitam atau putih. Aku bisa memilih warnaku sendiri. Dan hari ini,
aku memilih warna harapan, meskipun hanya sekecil tunas di sela-sela kertas.
Karya: Putri Isma Arum Setia Wati (Kru Magang LPM Frekuensi 25)
Editor: Alina Apriliana Putri (Kru LPM Frekuensi 24)

0 Komentar