Sumber Dokumentasi: Pinterest

Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Hujan turun perlahan di kota perantauan itu. Lampu jalan memantul di aspal basah seperti pecahan bintang yang jatuh ke bumi. Malam berjalan lambat, terlalu lambat untuk seseorang yang sedang menunggu sebuah pesan sederhana.

Di kamar kos kecil berukuran tiga kali empat meter, Nayla duduk sendirian di lantai sambil memeluk lututnya. Sebuah kipas tua berputar pelan di atas kepala, mengaduk udara dingin dan kesepian menjadi satu.

Hari itu ulang tahunnya, kedua puluh satu tahun.

Usia yang katanya sudah dewasa. Usia ketika seseorang dianggap mampu menahan semuanya sendiri.

Di sampingnya, ponsel terus menyala karena notifikasi yang tak berhenti datang.

“Happy birthday, Nay!”

“Semoga semua hal baik datang ke hidup lo.”

“Panjang umur anak rantau kuat!”

Teman-temannya ramai memberi ucapan. Grup kelas penuh doa-doa singkat. Bahkan beberapa orang yang jarang mengobrol dengannya ikut mengunggah foto lama bersama dirinya.

Namun, satu ruang tetap kosong. 

Grup keluarga.

Tidak ada apa-apa di sana.

Tidak ada pesan Ibu.

Tidak ada telepon ayah.

Tidak ada candaan dari kedua kakaknya.

Sepi.

Padahal sejak pagi Nayla diam-diam terus membuka ponselnya, berharap ada satu nama keluarga yang muncul di layar.

Satu saja.

Tetapi semakin malam datang, harapan itu perlahan berubah menjadi sesak.

Nayla menatap jendela kamarnya. Hujan membuat kaca dipenuhi titik-titik air yang tampak seperti air mata langit.

Orang-orang selalu bilang anak bungsu adalah anak paling dimanja.

“Enak ya jadi anak terakhir.”

“Pasti kesayangan keluarga.”

“Paling dilindungi.”

Kalimat-kalimat itu terlalu sering ia dengar sampai terdengar lucu sekarang.

Karena tidak semua anak bungsu tumbuh dalam pelukan hangat.

Ada yang tumbuh dalam sunyi.

Ada yang belajar dewasa lebih cepat karena sadar tak ada tempat bersandar.

Dan Nayla termasuk salah satunya.

Sejak kecil ia terbiasa mengalah.

Kalau makanan tinggal sedikit, ia yang mengalah.

Kalau keadaan ekonomi rumah sedang sulit, kebutuhannya yang ditunda.

Kalau semua orang sedang lelah, tangisnya dianggap tak penting.

“Kan kamu paling kecil, harus ngerti.”

Kalimat itu selalu menjadi alasan.

Seolah menjadi anak bungsu berarti harus paling pandai menyembunyikan kecewa.

Ponselnya kembali berbunyi.

Video call dari Rara.

Nayla buru-buru mengusap matanya sebelum mengangkat.

“WOII ULANG TAHUN!” teriak Rara heboh.

Nayla tertawa kecil. “Kaget gue.”

“Turun sekarang!”

“Hah?”

“Turun aja dulu!”

Nayla berjalan ke jendela dan melihat ke bawah. Di depan kos, Rara berdiri bersama beberapa teman kampus mereka sambil membawa kue kecil dari minimarket. Lilin angka dua dan satu menyala kecil diterpa angin malam.

Dada Nayla langsung hangat.

Sangat hangat.

Sampai hampir lupa kalau ada luka yang sedang dipeluknya sejak pagi.

Ia turun mengenakan sweater abu-abu lusuh favoritnya.

Begitu sampai bawah, teman-temannya langsung bersorak.

“SELAMAT ULANG TAHUNNN!”

Dimas meniup terompet kecil asal-asalan sampai semua orang tertawa.

“Ya ampun malu banget,” kata Nayla sambil menutup wajahnya.

Rara mendekat lalu memeluknya erat.

“Selamat bertahan sejauh ini ya.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat tenggorokan Nayla tercekat.

Mereka duduk di teras kos sambil makan mi instan dan kue murah. Angin malam dingin, tapi suasananya hangat.

“Harapan lo tahun ini apa?” tanya Dimas.

Nayla diam sebentar.

Lalu tersenyum kecil.

“Pengen gak ngerasa sendirian lagi.”

Hening sesaat.

Rara menatapnya pelan. “Belum ada ucapan dari rumah?”

Nayla pura-pura sibuk memotong kue.

“Belum.”

“Coba chat dulu?”

Nayla menggeleng pelan.

“Capek jadi orang yang selalu mulai duluan.”

Ucapan itu jatuh begitu saja, tapi rasanya berat.

Teman-temannya tidak banyak bicara setelah itu. Mereka hanya tetap menemani Nayla tertawa kecil, bercerita soal dosen, tugas kuliah, dan hal-hal receh lain supaya malam tidak terasa terlalu sunyi.

Kadang bentuk sayang paling tulus memang hadir lewat hal sederhana:
Menemani seseorang supaya ia tidak merasa sendiri.

Malam semakin larut.

Satu per satu, teman-temannya pamit kembali ke kamar masing-masing.

Sebelum pergi, Rara menggenggam tangan Nayla.

“Kalau sedih, cerita.”

Nayla mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Iya.”

Setelah semuanya pergi, suasana kembali hening.

Terlalu hening.

Nayla naik ke kamar perlahan. Langkahnya pelan seperti seseorang yang takut bertemu pikirannya sendiri.

Ia duduk di kasur lalu membuka ponselnya lagi.

Tidak ada pesan baru.

Tidak ada nama keluarganya yang muncul.

Ia membuka grup keluarga.

Pesan terakhir dari ibunya tiga hari lalu.

“Jangan lupa bayar listrik rumah bulan depan.”

Hanya itu.

Tidak ada:
“Kamu sehat?”
“Udah makan?”
“Atau kapan pulang?”

Nayla menatap layar cukup lama.

Jarinya sempat mengetik:

Bu, hari ini Nayla ulang tahun.

Namun, beberapa detik kemudian ia menghapusnya lagi.

Entah kenapa ia malu terlihat seperti sedang meminta diingat.

Padahal di dalam hati, ia hanya ingin diperlakukan seperti anak yang dirindukan rumahnya sendiri.

Jam menunjukkan pukul 23.41.

Sembilan belas menit lagi, ulang tahunnya selesai.

Nayla menyandarkan kepala ke dinding.

Di luar, suara hujan masih terdengar pelan. Motor sesekali lewat di jalan depan kos. Kota tetap hidup seperti biasa, seolah tidak peduli ada seseorang yang sedang berusaha menahan tangis sendirian.

Air mata akhirnya jatuh.

Pelan.

Diam.

Tidak meledak.

Karena beberapa luka memang terlalu lama dipendam sampai tangis pun keluar tanpa suara.

Nayla tertawa kecil di sela isaknya sendiri.

“Lucu ya…”

Suaranya lirih.

“Katanya anak bungsu paling disayang.”

Kalimat itu menggantung di udara kamar yang sempit.

Ia memandang lilin kecil sisa perayaan tadi yang dibawa Rara ke kamarnya. Lilin itu sudah mati, menyisakan asap tipis dan lelehan kecil di meja.

Sama seperti harapannya malam itu.

Perlahan habis.

Pukul 00.00.

Hari ulang tahunnya selesai.

Dan tak ada satu pun ucapan dari keluarganya.

Tidak ada telepon.

Tidak ada pesan.

Tidak ada doa.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya dirinya sendiri di kamar kecil itu.

Nayla mematikan layar ponselnya lalu berbaring menghadap tembok.

Dada kirinya terasa kosong.

Bukan karena ia tidak dicintai.

Mungkin keluarganya mencintainya dengan cara mereka sendiri.

Namun kadang cinta yang tidak pernah diucapkan terasa sama dinginnya dengan tidak dicintai sama sekali.

Tangisnya kembali pecah malam itu.

Ia menangis sampai pundaknya bergetar kecil.

Menangisi dirinya yang sejak kecil selalu berusaha kuat.

Menangisi harapan sederhana yang bahkan terlalu sulit menjadi nyata.

Dan di tengah kamar kos yang sunyi itu, Nayla akhirnya sadar

kadang rumah bukan lagi tempat paling hangat untuk pulang.

Esok paginya matahari datang pelan setelah hujan semalaman.

Nayla bangun dengan mata sembab.

Ponselnya penuh pesan dari teman-temannya.

Ada foto semalam.

Ada video Dimas meniup lilin sampai hampir jatuh.

Ada pesan dari Rara:

"Makasih udah bertahan sampai hari ini."

Nayla membaca itu lama.

Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

Bukan senyum bahagia sepenuhnya.

Tapi senyum seseorang yang mulai menerima bahwa hidup memang tidak selalu menghadirkan hangat dari tempat yang kita harapkan.

Kadang keluarga bukan orang yang sedarah.

Kadang keluarga adalah mereka yang datang membawa kue murah di malam hujan hanya supaya kita tidak merasa sendiri.

Dan meski malam ulang tahunnya berakhir tanpa satu pun ucapan dari rumah, Nayla tetap berhasil melewatinya.

Dengan air mata.

Dengan luka.

Dan dengan teman-teman yang menjadi peluk paling hangat di kota perantauan itu. 

Karya: Siti Qummariyah (Kru LPM Frekuensi) 

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)