Sumber Dokumentasi: istockphoto.com

Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Setiap hari, kita menerima puluhan bahkan ratusan informasi melalui media sosial, grup percakapan, situs berita, dan berbagai platform digital lainnya. Hanya dengan beberapa sentuhan jari, informasi dapat tersebar luas dalam hitungan detik. Di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan besar yang tidak dapat diabaikan: maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks. Di era digital saat ini, siapa pun dapat menjadi penyebar informasi, baik informasi yang benar maupun yang belum terverifikasi. Kondisi ini membuat kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Pertanyaannya, sudahkah kita berpikir kritis sebelum mempercayai dan membagikan informasi yang kita terima?

Kondisi tersebut tidak terlepas dari pesatnya perkembangan teknologi informasi yang telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Informasi tidak lagi terbatas pada media cetak atau siaran televisi, tetapi dapat diakses kapan saja melalui perangkat digital. Kemudahan ini memberikan banyak manfaat, seperti mempercepat komunikasi dan memperluas akses terhadap pengetahuan. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi berupa banjir informasi (information overload). Banyaknya informasi yang diterima setiap hari membuat seseorang sulit membedakan mana informasi yang akurat dan mana yang menyesatkan (Bawden & Robinson, 2009). Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten sesuai minat pengguna, sehingga seseorang lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.

Dalam situasi demikian, hoaks justru menemukan celah untuk berkembang dengan cepat. Hoaks sering kali dirancang untuk menarik perhatian dan memicu emosi, seperti rasa takut, marah, atau penasaran, sehingga informasi yang bersifat sensasional cenderung lebih mudah dibagikan dibandingkan informasi yang faktual (Vosoughi et al., 2018). Kebiasaan membagikan informasi secara instan tanpa memeriksa kebenarannya pun turut menjadi penyebab utama penyebaran hoaks, tidak sedikit orang yang langsung meneruskan pesan hanya karena berasal dari teman, keluarga, atau tokoh yang dipercaya. Kemampuan mengenali hoaks sendiri sangat dipengaruhi oleh tingkat literasi digital yang dimiliki seseorang, di mana individu yang berliterasi digital baik cenderung lebih mampu memverifikasi informasi dan mengidentifikasi sumber yang kredibel (Kurnia et al., 2017).

Menghadapi tantangan ini, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan yang paling mendesak untuk dikuasai di era digital. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mempertimbangkan informasi secara rasional sebelum mengambil keputusan atau menyimpulkan sesuatu (Ennis, 1985). Dalam informasi digital, hal itu berarti tidak langsung mempercayai setiap informasi yang diterima, melainkan mempertanyakan siapa sumber informasi tersebut, apakah didukung data yang jelas, apakah informasi serupa ditemukan pada sumber kredibel lain, serta apakah informasi itu memicu emosi yang berlebihan. Dengan membiasakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, risiko terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan dapat diminimalkan secara signifikan.

Berpikir kritis sendiri tidak dapat dipisahkan dari kemampuan literasi digital yang memadai. Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak (Gilster, 1997). Eshet-Alkalai (2004) menambahkan bahwa literasi digital merupakan keterampilan bertahan hidup di era digital, yang meliputi kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan sosial dalam menggunakan berbagai jenis media digital. Dengan kemampuan literasi digital yang baik, seseorang dapat memeriksa keakuratan informasi, mengenali ciri-ciri hoaks, memahami konteks suatu informasi, serta menggunakan media digital secara bertanggung jawab dan terhindar dari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Sebagai langkah konkret, terdapat beberapa tindakan sederhana yang dapat dilakukan sebelum membagikan informasi. Wineburg et al. (2016) menekankan bahwa kemampuan mengevaluasi informasi merupakan inti dari penalaran sipil di era digital. Sejalan dengan itu, seseorang perlu memeriksa sumber informasi dan memastikan berasal dari lembaga atau media yang terpercaya, membandingkan informasi dengan sumber lain, memperhatikan tanggal dan konteks informasi, mewaspadai judul yang provokatif atau sensasional, memeriksa keaslian foto atau video yang digunakan, serta tidak terburu-buru membagikan informasi sebelum memastikan kebenarannya.

Kemudahan akses informasi di era digital sesungguhnya merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi dengan bijak. Berpikir kritis tidak berarti selalu meragukan semua informasi, tetapi membiasakan diri untuk memeriksa, mengevaluasi, dan mempertimbangkan kebenaran informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya. Dengan literasi digital yang baik, setiap individu dapat menjadi pengguna media yang lebih bertanggung jawab dan tidak mudah terpengaruh oleh hoaks. Mencegah penyebaran informasi palsu, pada akhirnya, bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau penyedia platform digital, tetapi merupakan tanggung jawab bersama setiap pengguna informasi.

Daftar Pustaka

Bawden, D., & Robinson, L. (2009). The dark side of information: Overload, anxiety and other paradoxes and pathologies. Journal of Information Science, 35(2), 180-191. https://doi.org/10.1177/0165551508095781

Ennis, R. H. (1985). A logical basis for measuring critical thinking skills. Educational Leadership, 43(2), 44-48.

Eshet-Alkalai, Y. (2004). Digital literacy: A conceptual framework for survival skills in the digital era. Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 13(1), 93-106.

Gilster, P. (1997). Digital literacy. New York, NY: John Wiley & Sons.

Kurnia, N., Astuti, S. I., & Setyaningsih, R. (2017). Peta gerakan literasi digital di Indonesia: Studi tentang pelaku, ragam kegiatan, kelompok sasaran dan mitra. Jakarta: Masyarakat Telematika Indonesia.

Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146-1151. https://doi.org/10.1126/science.aap9559

Wineburg, S., McGrew, S., Breakstone, J., & Ortega, T. (2016). Evaluating information: The cornerstone of civic online reasoning. Stanford Digital Repository.

Kabar: Sayyida Tsaabita Aliyya (Kru Magang LPM Frekuensi 25)

Editor:  Revalina Nicky Ramadhani (Kru LPM Frekuensi 24)