Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Setiap hari, kita menerima puluhan bahkan ratusan informasi
melalui media sosial, grup percakapan, situs berita, dan berbagai platform
digital lainnya. Hanya dengan beberapa sentuhan jari, informasi dapat tersebar
luas dalam hitungan detik. Di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan besar
yang tidak dapat diabaikan: maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks. Di
era digital saat ini, siapa pun dapat menjadi penyebar informasi, baik
informasi yang benar maupun yang belum terverifikasi. Kondisi ini membuat
kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Pertanyaannya, sudahkah kita
berpikir kritis sebelum mempercayai dan membagikan informasi yang kita terima?
Kondisi tersebut tidak terlepas dari pesatnya perkembangan
teknologi informasi yang telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan
menyebarkan informasi. Informasi tidak lagi terbatas pada media cetak atau
siaran televisi, tetapi dapat diakses kapan saja melalui perangkat digital.
Kemudahan ini memberikan banyak manfaat, seperti mempercepat komunikasi dan
memperluas akses terhadap pengetahuan. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga
membawa konsekuensi berupa banjir informasi (information overload).
Banyaknya informasi yang diterima setiap hari membuat seseorang sulit
membedakan mana informasi yang akurat dan mana yang menyesatkan (Bawden &
Robinson, 2009). Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang
cenderung menampilkan konten sesuai minat pengguna, sehingga seseorang lebih
sering menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya tanpa melakukan
verifikasi lebih lanjut.
Dalam situasi demikian, hoaks justru menemukan celah untuk
berkembang dengan cepat. Hoaks sering kali dirancang untuk menarik perhatian
dan memicu emosi, seperti rasa takut, marah, atau penasaran, sehingga informasi
yang bersifat sensasional cenderung lebih mudah dibagikan dibandingkan
informasi yang faktual (Vosoughi et al., 2018). Kebiasaan membagikan informasi
secara instan tanpa memeriksa kebenarannya pun turut menjadi penyebab utama
penyebaran hoaks, tidak sedikit orang yang langsung meneruskan pesan hanya
karena berasal dari teman, keluarga, atau tokoh yang dipercaya. Kemampuan
mengenali hoaks sendiri sangat dipengaruhi oleh tingkat literasi digital yang
dimiliki seseorang, di mana individu yang berliterasi digital baik cenderung
lebih mampu memverifikasi informasi dan mengidentifikasi sumber yang kredibel
(Kurnia et al., 2017).
Menghadapi tantangan ini, kemampuan berpikir kritis menjadi
salah satu keterampilan yang paling mendesak untuk dikuasai di era digital.
Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan
mempertimbangkan informasi secara rasional sebelum mengambil keputusan atau
menyimpulkan sesuatu (Ennis, 1985). Dalam informasi digital, hal itu berarti
tidak langsung mempercayai setiap informasi yang diterima, melainkan
mempertanyakan siapa sumber informasi tersebut, apakah didukung data yang
jelas, apakah informasi serupa ditemukan pada sumber kredibel lain, serta
apakah informasi itu memicu emosi yang berlebihan. Dengan membiasakan pertanyaan-pertanyaan
tersebut, risiko terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan dapat diminimalkan
secara signifikan.
Berpikir kritis sendiri tidak dapat dipisahkan dari
kemampuan literasi digital yang memadai. Literasi digital tidak hanya berarti
mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengakses,
memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak (Gilster,
1997). Eshet-Alkalai (2004) menambahkan bahwa literasi digital merupakan
keterampilan bertahan hidup di era digital, yang meliputi kemampuan berpikir
kritis, kreatif, dan sosial dalam menggunakan berbagai jenis media digital.
Dengan kemampuan literasi digital yang baik, seseorang dapat memeriksa
keakuratan informasi, mengenali ciri-ciri hoaks, memahami konteks suatu informasi,
serta menggunakan media digital secara bertanggung jawab dan terhindar dari
penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Sebagai langkah konkret, terdapat beberapa tindakan
sederhana yang dapat dilakukan sebelum membagikan informasi. Wineburg et al.
(2016) menekankan bahwa kemampuan mengevaluasi informasi merupakan inti dari
penalaran sipil di era digital. Sejalan dengan itu, seseorang perlu memeriksa
sumber informasi dan memastikan berasal dari lembaga atau media yang
terpercaya, membandingkan informasi dengan sumber lain, memperhatikan tanggal
dan konteks informasi, mewaspadai judul yang provokatif atau sensasional,
memeriksa keaslian foto atau video yang digunakan, serta tidak terburu-buru
membagikan informasi sebelum memastikan kebenarannya.
Kemudahan akses informasi di era digital sesungguhnya
merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi dengan bijak.
Berpikir kritis tidak berarti selalu meragukan semua informasi, tetapi
membiasakan diri untuk memeriksa, mengevaluasi, dan mempertimbangkan kebenaran
informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya. Dengan literasi digital
yang baik, setiap individu dapat menjadi pengguna media yang lebih bertanggung
jawab dan tidak mudah terpengaruh oleh hoaks. Mencegah penyebaran informasi palsu,
pada akhirnya, bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau penyedia platform
digital, tetapi merupakan tanggung jawab bersama setiap pengguna informasi.
Daftar Pustaka
Bawden, D.,
& Robinson, L. (2009). The dark side of information: Overload, anxiety
and other paradoxes and pathologies. Journal of Information Science, 35(2),
180-191. https://doi.org/10.1177/0165551508095781
Ennis, R. H.
(1985). A logical basis for measuring critical thinking skills. Educational
Leadership, 43(2), 44-48.
Eshet-Alkalai,
Y. (2004). Digital literacy: A conceptual framework for survival skills in
the digital era. Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 13(1),
93-106.
Gilster, P.
(1997). Digital literacy. New York, NY: John Wiley & Sons.
Kurnia, N.,
Astuti, S. I., & Setyaningsih, R. (2017). Peta gerakan literasi digital
di Indonesia: Studi tentang pelaku, ragam kegiatan, kelompok sasaran dan mitra.
Jakarta: Masyarakat Telematika Indonesia.
Vosoughi,
S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online.
Science, 359(6380), 1146-1151. https://doi.org/10.1126/science.aap9559
Wineburg, S., McGrew, S., Breakstone, J., & Ortega, T. (2016). Evaluating information: The cornerstone of civic online reasoning. Stanford Digital Repository.
Kabar: Sayyida Tsaabita Aliyya (Kru Magang LPM Frekuensi 25)
Editor: Revalina Nicky Ramadhani (Kru LPM Frekuensi 24)

0 Komentar