Sumber Dokumentasi: Shutterstock

Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Pernahkah kita merenung sejenak saat melihat linimasa media sosial yang dipenuhi anak muda memamerkan mobil sport dan jam tangan mewah hasil keuntungan bermain kripto? Di balik kemewahan yang dipamerkan itu, ada ribuan korban yang tabungannya terkuras habis tanpa sisa. Banyak dari kita yang masih tergiur oleh pesona para influencer penjual janji kosong yang menawarkan mimpi cepat kaya tanpa perlu memeras keringat. Penyebaran narasi kekayaan instan melalui media sosial terbukti jauh lebih cepat dibandingkan informasi yang faktual (Vosoughi et al., 2018), sehingga korban terus berjatuhan sebelum sempat memverifikasi kebenarannya.

Padahal jika kita mau membuka mata sejenak, pola penipuan semacam ini selalu sama dan sebenarnya mudah ditebak sejak awal kemunculannya. Kasus yang belakangan ini ramai diperbincangkan adalah tumbangnya dua nama besar di skena kripto lokal, yaitu Timothy Ronald dan rekannya Kalimasada. Keduanya sempat dikenal luas sebagai figur sukses di dunia investasi digital dengan gaya hidup mewah yang mereka pamerkan secara terbuka di berbagai platform media sosial. Pesona itulah yang kemudian menjadi magnet bagi ribuan pengikut yang percaya bahwa mereka sedang belajar dari orang yang tepat.

Namun ada yang selama ini luput dari perhatian publik. Narasi perjuangan dari bawah yang kerap mereka tonjolkan tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan, sebab ketika seseorang sudah memiliki jaring pengaman finansial yang kuat sejak awal, keberanian mengambil risiko besar di pasar kripto tentu terasa jauh lebih mudah. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi mayoritas pengikut mereka yang merupakan masyarakat kelas pekerja biasa, yang mempertaruhkan satu-satunya tabungan hasil jerih payah demi mengikuti saran investasi yang dijanjikan mengubah nasib. Ketimpangan inilah yang membuat ajakan mereka untuk berani mengambil risiko terasa seperti kemunafikan yang sulit diabaikan.

Pemaparan materi tentang analisis teknikal dan fundamental koin kripto sebenarnya sudah tersebar sangat luas di internet secara gratis. Tidak ada rahasia ajaib atau formula pasti yang bisa membuat seseorang kaya mendadak hanya dengan menebak arah grafik di layar gawai setiap malam. Kelas berbayar yang dijual dengan harga tidak masuk akal itu pada dasarnya hanya mengemas ulang pengetahuan dasar yang sudah bisa dipelajari siapa saja melalui video daring atau forum diskusi terbuka. Yang dijual sebenarnya bukan ilmu, melainkan ilusi bahwa membeli kelas tersebut adalah tiket menuju kehidupan yang lebih baik.

Lantas mengapa masih banyak orang yang rela menyerahkan sisa tabungan mereka kepada sosok-sosok semacam ini? Jawabannya sederhana namun menyedihkan, yaitu tingginya tingkat keputusasaan ekonomi yang mencekik sebagian besar masyarakat kelas menengah ke bawah. Ketika harga kebutuhan pokok terus meningkat sementara pendapatan stagnan, logika sehat perlahan tertutup oleh keinginan kuat untuk segera keluar dari tekanan finansial. Kondisi psikologis yang rentan inilah yang menjadi celah paling mudah dimanfaatkan oleh para penipu berpenampilan meyakinkan.

Kondisi ini sebenarnya sudah banyak dikaji oleh para akademisi dan pakar literasi keuangan. Blue et al. (2025) menemukan bahwa kerentanan terhadap penipuan investasi kripto tidak hanya dialami oleh kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun ketika literasi keuangan dan digital mereka tidak memadai. Sejalan dengan itu, Lusardi dan Mitchell (2014) menegaskan bahwa rendahnya literasi keuangan secara langsung meningkatkan risiko seseorang membuat keputusan investasi yang keliru dan mudah dieksploitasi. Fakta ini menjadi pengingat keras bahwa pendidikan finansial masyarakat kita masih perlu diperkuat secara serius.

Lalu apa yang bisa kita lakukan agar generasi ini tidak terus jatuh ke dalam lubang yang sama? Langkah paling mendasar adalah membunuh ekspektasi tentang kekayaan instan yang diraih tanpa proses. Kita perlu membiasakan diri untuk tidak mudah percaya pada setiap klaim menggiurkan dari seorang influencer, terutama jika mereka menjual kelas berbayar sambil memamerkan gaya hidup mewah sebagai bukti kesuksesan. Verifikasi latar belakang seseorang sebelum menjadikannya panutan finansial adalah langkah kecil namun sangat penting yang sering kita lewatkan.

Selain melindungi diri sendiri, kita juga perlu menyebarkan kesadaran ini kepada orang-orang terdekat. Bila ada keluarga atau rekan yang mulai tergiur oleh tawaran semacam ini, ajak mereka berdiskusi dengan kepala dingin bahwa uang tidak pernah tumbuh hanya dari layar ponsel tanpa adanya pertukaran nilai yang nyata. Akan jauh lebih bijak jika uang tersebut digunakan untuk modal usaha kecil-kecilan atau disimpan sebagai dana darurat daripada diserahkan kepada orang yang menjual mimpi.

Pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa sosok-sosok penipu berpenampilan meyakinkan akan selalu lahir silih berganti menyesuaikan tren zaman. Selama masih ada keputusasaan ekonomi yang tidak tertangani dan literasi keuangan yang rendah, bisnis jualan mimpi kosong ini tidak akan pernah sepi peminat. Jangan biarkan tekanan ekonomi merampas kejernihan pikiran kita hingga kita menyerahkan masa depan kepada mereka yang justru hidup nyaman dari ketidaktahuan orang lain. Keberanian untuk berpikir kritis dan bertanya lebih dalam sebelum bertindak adalah investasi terbaik yang tidak membutuhkan biaya pendaftaran apa pun.

Daftar Pustaka

Blue, L. E., Xing, C., & Pham, T. (2025). Cryptocurrencies: Who is vulnerable and what are the vulnerabilities? Australian Journal of Social Issues, 60, 143-175. https://doi.org/10.1002/ajs4.351

Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2014). The economic importance of financial literacy: Theory and evidence. Journal of Economic Literature, 52(1), 5-44. https://doi.org/10.1257/jel.52.1.5

Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146-1151. https://doi.org/10.1126/science.aap9559 

Kabar: Jovi Fernando Setiawan

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)