Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Ada semacam beban kasatmata yang terus menghantui anak muda zaman sekarang. Bukan beban yang bisa dilihat dengan mata telanjang, bukan pula yang bisa ditunjuk dengan jari, tapi siapa pun yang pernah duduk sendirian di kamar kost sambil menatap langit-langit di tengah malam pasti tahu persis perasaan itu. Menyesakkan, seperti ada sesuatu yang menghimpit dada dari dalam, tanpa nama, tanpa alasan yang cukup jelas untuk dijelaskan kepada orang lain.
Ironisnya,
himpitan itu bukan sepenuhnya tanpa sebab. Bayangkan seseorang yang sudah
menghabiskan empat tahun kadang lebih berjuang melewati skripsi, begadang, dan
tumpukan utang pendidikan, hanya untuk mendapati bahwa ijazahnya tidak cukup
membuka pintu mana pun. Pasar kerja yang sempit, upah yang stagnan, dan biaya
hidup yang terus naik menciptakan kondisi yang nyaris mustahil untuk dijalani
dengan tenang. Wajar jika fondasi kesehatan mental generasi ini ikut goyah
ketika pilar ekonominya saja sudah rapuh sejak awal.
Di
tengah tekanan struktural itu, pelarian yang paling mudah dijangkau adalah
layar ponsel. Media sosial yang awalnya dirancang sebagai ruang untuk terhubung
kini telah berubah menjadi panggung kompetisi tanpa wasit. Setiap kali jari
mengusap layar, yang tersaji adalah kehidupan orang lain yang tampak sempurna:
apartemen estetik, karir melesat di usia dua puluhan, hubungan romantis yang
seolah keluar dari halaman novel. Tapi otak kita tidak selalu membacanya
sebagai hasil kurasi ketat dan pemilihan momen terbaik yang kita rasakan
hanyalah: kenapa hidup mereka terlihat jauh lebih baik dari hidupku?
Di
balik layar yang bersinar itu, tersimpan sesuatu yang tidak pernah diunggah:
kesepian yang tidak berani disuarakan, rasa tidak aman yang disembunyikan rapi
di balik caption motivasi, dan air mata yang jatuh tepat setelah tombol post
ditekan. Kita semua bermain dalam sandiwara yang sama, tapi masing-masing
mengira hanya dirinya yang memakai topeng.
Data
berbicara lebih keras dari sekadar perasaan. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey
(I-NAMHS) tahun 2022 mencatat bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki
masalah kesehatan mental yang cukup signifikan, dan dari jumlah itu hanya
sekitar satu dari delapan yang pernah mengakses bantuan profesional (Wahdi et
al., 2023). Di balik angka itu ada wajah-wajah nyata: teman sekelas, adik,
tetangga, mungkin diri kita sendiri yang diam-diam berjuang sendirian di dalam
kamar.
Hubungan
antara layar dan depresi itu bukan sekadar asumsi. Hunt et al. (2018) menguji
langsung dampak pembatasan media sosial terhadap kesejahteraan psikologis dan
hasilnya jelas: partisipan yang membatasi penggunaan media sosial hingga 30
menit per hari mengalami penurunan signifikan dalam tingkat depresi dan rasa
kesepian hanya dalam tiga minggu. Bukan karena media sosial itu murni jahat,
melainkan karena dosis yang berlebihan dari perbandingan sosial yang
terus-menerus menggerogoti kepercayaan diri secara perlahan seperti karat yang
tidak terlihat sampai logamnya benar-benar rapuh.
Yang
paling mengkhawatirkan bukan semata ketergantungannya, melainkan siklus yang
terbentuk di baliknya. Kita merasa hampa, lalu membuka media sosial untuk
mencari sesuatu yang mengisi kekosongan itu, namun yang kita temukan justru
konten yang membuat kita merasa lebih tertinggal dan lebih sendirian. Kita terus
menggulir berharap ada sesuatu di bawah sana yang akan membuat semuanya terasa
lebih baik, lalu menutup aplikasinya dengan perasaan yang lebih berat dari
sebelumnya. Siklus ini berulang setiap hari tanpa banyak dari kita yang
menyadari sedang terjebak di dalamnya.
Saya
tidak sedang mengatakan bahwa solusinya sesederhana menghapus Instagram. Hidup
di era ini menuntut kita untuk tetap terhubung secara digital untuk mencari
kerja, membangun jaringan, atau sekadar tidak ketinggalan informasi. Tapi ada
perbedaan besar antara menggunakan media sosial sebagai alat dan membiarkannya
menjadi hakim atas nilai diri kita. Ketika jumlah likes terasa lebih nyata dari
pencapaian yang kita rasakan sendiri, di situlah sesuatu sudah melenceng jauh.
Mungkin kita butuhkan sekarang bukan aplikasi detoks digital
atau seminar kesehatan mental yang hanya ramai di poster. Yang kita butuhkan
adalah kejujuran untuk mengakui bahwa kita lelah, bahwa kita tidak baik-baik
saja, tanpa merasa harus mengemasnya dalam caption yang tetap terlihat kuat.
Generasi ini tidak sedang lemah generasi ini sedang membawa beban yang terlalu
besar di atas fondasi yang terlalu rapuh, sambil berpura-pura semuanya
baik-baik saja di depan kamera. Sudah waktunya kita berhenti berpura-pura,
setidaknya untuk diri sendiri.
Daftar
Pustaka
Hunt,
M. G., Marx, R., Lipson, C., & Young, J. (2018). No more FOMO: Limiting
social media decreases loneliness and depression. Journal of Social and
Clinical Psychology, 37(10), 751–768. https://doi.org/10.1521/jscp.2018.37.10.751

0 Komentar