Sumber Dokumentasi: Detikcom 

Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Suara decit sepatu beradu dengan lantai lapangan kayu bergema memenuhi seluruh penjuru ruang olahraga. Kalina berdiri di tengah keramaian dengan napas tersengal, tubuhnya yang tinggi dan besar justru terasa seperti beban yang semakin berat setiap kali peluit ditiup. Pelatih berteriak kencang dari pinggir lapangan, menginstruksikan formasi bertahan untuk entah keberapa kalinya sore itu.

Telinga Kalina terasa berdenging. Kebisingan ini terlalu berlebihan untuk otaknya yang sedang berusaha keras memproses segala hal secara bersamaan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya ketika bola meleset dari tangannya, memantul jauh ke sudut lapangan.

"Fokus, Kalina! Masa tubuh setinggi itu kalah rebound sama anak kelas sepuluh?" tegur Pak Anton dari pinggir lapangan, suaranya membelah kebisingan dengan nada kecewa yang menusuk sampai ke dalam dada.

Teman-teman setimnya saling melirik. Tidak ada yang bersuara, namun tatapan mereka sudah cukup berbicara. Rara, sang kapten tim, menghampiri dan menepuk bahunya dengan kasar.

"Kalau kamu memang niat main, tolong serius sedikit dong," bisiknya dengan nada yang terasa seperti batu berat yang tiba-tiba ditimpakan ke atas pundak Kalina. "Kita ini lagi persiapan turnamen penting."

Kalina menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya permainannya sudah terbilang lumayan untuk ukuran seseorang yang tidak pernah berniat menjadi atlet. Namun standar yang dipatok oleh lingkungan sekitarnya selalu selangkah lebih tinggi, semata-mata karena dia dianugerahi fisik di atas rata-rata. Mereka tidak pernah mau mengerti bahwa di balik tubuh besarnya itu ada jiwa yang jauh lebih memilih memegang kuas daripada bola basket.

Bagi Kalina, berada di tengah lapangan dengan puluhan pasang mata yang menatapnya adalah siksaan tersendiri. Dia kesulitan memilah suara mana yang harus didengar, gerakan mana yang harus diprioritaskan, dan ekspresi wajah mana yang harus ditanggapi. Sementara yang lain sibuk memikirkan strategi mencetak skor, pikirannya malah melayang pada goresan warna di atas kanvas atau lekuk garis yang membentuk sebuah sketsa.

Kalina adalah seseorang yang bisa tenggelam berjam-jam dalam peralatan seni visual dengan fokus yang luar biasa. Sayangnya tidak ada yang mau melihat itu. Masyarakat hanya memandang sebelah mata pada minat seninya dan terus memaksanya menjadi mesin pencetak poin di lapangan kayu ini. Dia merasa tidak ada satu pun orang yang bersedia mendukung apa yang sebenarnya dia inginkan, dan rasa terasing itu tumbuh perlahan seperti lumut di sudut tembok yang lembap.

Malam harinya Kalina terbangun dengan dada yang sesak dan napas yang memburu.

Mimpi buruk tentang peluit panjang dan teriakan penonton baru saja memaksanya membuka mata di tengah kegelapan kamar. Jam beker di nakas menunjukkan pukul dua dini hari, namun rasa kantuknya sudah benar-benar hilang. Kepalanya terasa ruwet, dipenuhi benang kusut dari ekspektasi orang-orang yang terus menuntutnya menjadi pemain basket unggulan.

Perlahan dia menyingkap selimut dan memutuskan untuk mencari udara segar.

Kakinya melangkah pelan menaiki anak tangga menuju atap lantai dua yang sepi. Saat pintu atap terbuka, semilir angin malam langsung menerpa wajahnya, membawa sensasi dingin yang menenangkan. Kalina mendongak dan menatap hamparan langit yang membentang luas di atas kepalanya.

Bulan purnama bersinar begitu terang malam itu, diiringi taburan bintang-bintang kecil yang memukau. Pemandangan itu menyedot seluruh perhatiannya secara perlahan, menghentikan putaran pikiran negatif yang sedari tadi berputar tanpa henti di kepalanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Kalina merasakan kesunyian yang benar-benar syahdu meresap ke dalam relung hatinya.

Cahaya bulan itu seolah membelai jiwanya yang kelelahan. Di bawah langit seluas ini, teriakan Pak Anton dan bisikan Rara sore tadi terasa begitu kecil dan jauh, seolah berasal dari dunia lain yang tidak lagi memiliki kuasa atasnya.

Di tengah keheningan itu, sesuatu yang hangat tumbuh di dalam dadanya.

Kalina berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan mulai mengejar apa yang selama ini dia pendam, meskipun jalan di depannya mungkin akan sepi tanpa dukungan. Dia tidak akan lagi membiarkan bakat seninya layu hanya karena orang lain menganggap lapangan basket adalah tempat yang lebih menjanjikan baginya. Kebahagiaannya tidak bergantung pada tepuk tangan penonton. Seni adalah rumahnya, dan dia berhak untuk pulang.

Dia teringat kembali pada ucapan Rara sore tadi. Tolong serius sedikit dong. Kini Kalina mengerti bahwa kata serius memiliki definisi yang berbeda bagi setiap orang. Bagi Rara, keseriusan diukur dari berapa banyak poin yang dicetak untuk tim. Bagi Kalina, keseriusan adalah kemampuannya untuk tetap berdiri di tengah lapangan yang memicu semua inderanya secara bersamaan, tanpa ambruk, tanpa menyerah, tanpa kehilangan dirinya sendiri. Tidak banyak orang yang bisa melihat perjuangan semacam itu karena memang tidak terlihat dari luar.

Sistem sosial seolah merancang cetakan tunggal untuk mendefinisikan apa itu kesuksesan seorang remaja. Jika bertubuh tinggi, kamu harus menjadi atlet. Jika pendiam, kamu dianggap aneh. Tidak ada ruang bagi mereka yang ingin duduk diam di sudut ruangan sambil merangkai imajinasi menjadi bentuk visual. Kalina merasa sudah saatnya dia mematahkan cetakan itu, bukan dengan kata-kata, melainkan melalui karya-karyanya sendiri.

Meskipun demikian, Kalina memutuskan untuk tidak lari dari tanggung jawabnya di tim basket. Dia akan tetap bermain dan mengikuti latihan, namun dengan pikiran yang lebih merdeka dari sebelumnya. Tidak apa-apa jika dia tidak pernah menjadi bintang lapangan. Dia akan bermain semampunya dan berkontribusi sewajarnya, tanpa harus mengorbankan kewarasannya sendiri.

Kalina menghela napas panjang dan membiarkan senyum kecil mengembang di wajahnya.

Beban yang selama ini bertengger di pundaknya seolah menguap bersama hembusan angin malam yang mendinginkan kulit. Dia kini tahu siapa dirinya dan apa yang sebenarnya dia inginkan dari kehidupan remajanya yang sempat terasa begitu membingungkan ini.

Dia berbalik dan mulai melangkah turun. Bayangan tentang omelan Pak Anton besok sore tidak lagi membuat perutnya mulas. Di dalam pikirannya kini ada benteng yang kokoh, sebuah kanvas kosong yang menunggu untuk diwarnai dengan jujur. Sebagai seseorang yang melihat dunia dengan cara berbeda dari kebanyakan orang, mungkin dia memang tidak akan pernah sepenuhnya cocok dengan cetakan yang sudah terlanjur dibuat oleh orang lain. Namun malam ini dia menyadari satu hal yang selama ini dia lupakan.

Perbedaan itu bukan cacatnya. Perbedaan itu adalah miliknya.

Dalam setiap goresan kuas nanti, Kalina akan menceritakan kisah tentang perjuangan dan keheningan yang dia temukan di atap rumah ini. Dunia mungkin akan terus berjalan dengan segala tuntutan sosialnya yang tidak selalu masuk akal, namun Kalina sudah menemukan jangkar yang akan menjaganya tetap stabil di tengah badai.

Dia sudah siap menyambut esok hari.

Karya: Jovi Fernando Setiawan

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)