Sumber Dokumentasi: 2026Baznas
Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Puasa merupakan salah satu ibadah yang tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga berkaitan dengan berbagai proses fisiologis dalam tubuh. Di lingkungan Universitas Islam Negeri, puasa Ramadan maupun puasa sunah seperti Senin dan Kamis telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, pelaksanaan puasa kerap dipandang sebagai tantangan tersendiri dalam mempertahankan fokus dan produktivitas akademik. Mahasiswa yang tampak mengantuk, kehilangan konsentrasi, atau mudah lelah saat perkuliahan siang masih sering dijumpai selama bulan puasa.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa puasa adalah penyebab utama menurunnya performa belajar. Padahal, jika ditelusuri dari sudut pandang fisiologi dan biokimia, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme adaptasi yang memungkinkan otak tetap bekerja optimal meskipun tidak mendapat asupan makanan dalam beberapa jam.

Salah satu mekanisme adaptasi tersebut adalah ketosis, yakni kondisi ketika tubuh mulai memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi akibat menurunnya ketersediaan glukosa. Dalam proses ini, hati menghasilkan senyawa keton yang kemudian digunakan sebagai sumber energi alternatif, termasuk oleh otak. Penelitian Altayyar et al. (2022) menunjukkan bahwa ketosis fisiologis berpotensi mendukung fungsi kognitif melalui peningkatan efisiensi metabolisme otak, sehingga membantu mempertahankan kewaspadaan, konsentrasi, dan daya ingat. Glukosa memang merupakan sumber energi utama bagi otak, tetapi ketika kadarnya menurun selama berpuasa, tubuh tidak serta-merta kehilangan fungsinya.

Tubuh justru beradaptasi dengan memecah cadangan lemak menjadi asam lemak yang kemudian dikonversi menjadi badan keton di hati. Senyawa ini mampu menembus sawar darah otak dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bagi sel-sel saraf. Bagi mahasiswa, ini berarti kemampuan berpikir dan mengikuti perkuliahan sebenarnya tidak otomatis menurun hanya karena tidak makan dan minum sejak subuh.

Selain berperan sebagai sumber energi, badan keton juga dikaitkan dengan peningkatan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan sel saraf. Peningkatan BDNF berkaitan dengan perbaikan plastisitas otak, kemampuan belajar, serta fungsi memori (Altayyar et al., 2022). Dalam konteks akademik, hal ini cukup relevan, sebab kemampuan mengingat materi kuliah dan menyerap informasi baru sangat bergantung pada kondisi neurologis semacam ini. Dengan kata lain, puasa tidak selalu identik dengan penurunan kemampuan berpikir, meski anggapan tersebut masih banyak berkembang di masyarakat.

Meski begitu, manfaat fisiologis dari ketosis tidak selalu dirasakan secara optimal oleh setiap orang. Banyak mahasiswa tetap mengalami kantuk, sulit berkonsentrasi, atau cepat lelah selama mengikuti perkuliahan saat berpuasa. Kondisi ini umumnya bukan disebabkan oleh puasa itu sendiri, melainkan oleh faktor lain yang menyertainya, terutama kurangnya asupan cairan dan kualitas tidur yang buruk.

Selama berpuasa, tubuh tidak memperoleh cairan dalam waktu yang cukup lama. Jika kebutuhan cairan tidak dipenuhi dengan baik saat sahur maupun berbuka, risiko dehidrasi pun meningkat. Kekurangan cairan dapat menurunkan volume plasma darah sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke otak menjadi kurang optimal, yang pada akhirnya memicu sakit kepala, kelelahan, dan penurunan konsentrasi (Arca & Singh, 2021). Gejala semacam ini sering keliru dianggap sebagai "efek puasa" semata, padahal sebenarnya lebih ke soal manajemen cairan.

Perubahan pola tidur juga menjadi tantangan tersendiri selama bulan puasa. Sahur mengharuskan mahasiswa bangun lebih awal, sementara sebagian justru tetap terjaga hingga larut malam untuk menyelesaikan tugas. Kebiasaan ini dapat memicu kurang tidur yang berdampak pada penurunan kemampuan berpikir, daya ingat, dan kecepatan pengambilan keputusan. Hal ini jelas berpengaruh langsung terhadap performa di kelas maupun saat mengerjakan tugas dan ujian, sehingga menjaga kualitas tidur selama bulan puasa menjadi aspek yang sama pentingnya dengan menjaga asupan cairan dan nutrisi.

Pada akhirnya, puasa tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan dalam mencapai prestasi akademik. Tubuh memiliki mekanisme adaptasi yang memungkinkan fungsi otak tetap bekerja efektif melalui pemanfaatan senyawa keton sebagai sumber energi alternatif. Yang lebih menentukan justru bagaimana mahasiswa mengatur pola makan, cairan, dan tidur selama menjalani puasa. Dengan menerapkan pola hidup sehat semacam ini, mahasiswa dapat menjaga keseimbangan antara pelaksanaan ibadah dan pencapaian akademik, sebuah keselarasan yang mencerminkan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dan nilai spiritual dalam membentuk generasi yang sehat, disiplin, dan produktif.

Daftar Pustaka

Altayyar, M., Nasser, J. A., Thomopoulos, D., & Bruneau Jr, M. (2022). The implication of physiological ketosis on the cognitive brain: a narrative review. Nutrients, 14(3), 513.

Arca, K. N., & Singh, R. B. H. (2021). Dehydration and headache. Current Pain and Headache Reports, 25(8), 56–56. https://doi.org/10.1007/S11916-021-00966-Z

Kabar: Nabil Azfa Azzubair (Kru Magang LPM Frekuensi 25) 

Editor: Nida Izzatus Safa'ah (Kru LPM Frekuensi 24)