Sumber Dokumentasi: Pixabay

Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Pagi di tempat pembuatan genteng press milik Pak Haji Mansur selalu diawali dengan bau tanah liat basah dan derit mesin cetak tua yang bunyinya mirip cengkerik raksasa. Bagi Syarif, aroma tanah basah itu adalah tanda bahwa ia masih punya alasan untuk bertahan hidup satu hari lagi.

Di usianya yang baru sembilan belas tahun, Syarif tidak punya banyak pilihan. Lulus SMA tanpa biaya untuk kuliah, ia mendarat di bangsal pencetakan genteng. Tugasnya sederhana tapi menguras tenaga: mengangkut adonan tanah liat dari kolam adukan, memasukkannya ke cetakan besi, lalu menyusun genteng-genteng basah itu di atas rak bambu sebelum dijemur di bawah terik matahari.

Tapi Syarif punya satu kebiasaan kecil yang tidak diketahui teman-teman sekerjanya. Setiap kali memegang lembaran genteng basah yang baru keluar dari mesin press, Syarif selalu memperhatikan permukaan tanah liat itu. Sebelum dijemur dan mengeras menjadi terakota, permukaannya begitu halus dan peka, seperti ingatan yang belum sempat terlupakan. Jika ada sehelai daun gugur menimpanya, jejak urat daun itu akan tertanam di sana selamanya.

Malam harinya, di kamar kontrakan sempit berukuran dua kali tiga meter, Syarif mengeluarkan sebuah jarum sol sepatu dan sepotong bambu tipis yang diraut halus. Dari tempat kerja, ia biasa meminta sisa-sisa adonan tanah liat yang tidak terpakai, potongan kecil yang dianggap sampah oleh pekerja lain. Syarif meratakan tanah liat sisa itu di atas papan kayu bekas. Lalu, menggunakan jarum sol dan kayu rautnya, ia mulai mengukir.

Ia tidak melukis pemandangan umum. Ia mengukir sketsa wajah-wajah orang yang ia temui sepanjang hari seperti garis kerut di sudut mata Pak Haji Mansur saat menghitung nota penjualan, lekuk jemari Mbah Nah yang bengkok akibat bertahun-tahun mencabut rumput liar, atau guratan tegang di dahi Mang Jaka saat rantai mesin cetak putus di tengah hari.

Bagi Syarif, tanah liat bukan sekadar bakal genteng pelindung atap rumah orang kaya. Tanah liat adalah media yang jujur. Ia mencatat setiap tekanan jarum tanpa bisa berbohong.

Suatu hari, ada papan pengumuman yang ditempel di kantor desa. Panitia karang taruna mengadakan lomba seni reka karya tingkat kabupaten. Syarif yang lewat saat mengantar pesanan genteng menggunakan gerobak motor sempat berhenti membaca.

"Lomba Seni Kriya dan Cipta Karya Bebas. Tema: Wajah Daerah Kita."

Syarif termenung. Syarat perlombaan membebaskan bahan baku yang digunakan. Sebagian besar peserta lain yang ia dengar dari perbincangan orang-orang desa akan menggunakan kayu ukir, resin, atau kain batik.

Malam itu, Syarif duduk meliuk di atas lantai semen yang dingin. Ia mengambil adonan tanah liat terbaik yang sudah ia saring berulang kali menggunakan kain kelambu bekas agar tidak ada kerikil halus yang tersisa. Ia tidak membuat patung atau vas bunga yang molek.

Syarif membuat sebuah kepingan relief tebal berukuran tiga puluh sentimeter. Di kepingan itu, ia mengukir dua telapak tangan yang saling berhadapan tapi tidak bersentuhan. Telapak tangan sebelah kiri adalah telapak tangan seorang pekerja kasar dengan garis-garis kapalan yang dalam, retakan halus di sela jari, dan retakan kuku yang tidak rata. Telapak tangan sebelah kanan adalah telapak tangan bayi yang halus dan mungil. Di antara kedua telapak tangan itu, Syarif mengukir alur serat-serat tanah liat yang tampak seperti urat nadi yang menyatu.

Syarif tidak membakar relief itu di dalam tungku raksasa pabrik genteng agar tidak retak. Ia membakarnya secara perlahan menggunakan tumpukan sekam padi di belakang rumahnya selama semalam suntuk, seperti cara orang zaman dulu membuat gerabah tradisional. Saat relief itu selesai dibakar, warnanya berubah menjadi jingga keabu-abuan yang pekat. Kasar, jujur, dan tidak dipoles cat mengilap sedikit pun.

Pada hari pameran dan penilaian di gedung kesenian kabupaten, karya Syarif diletakkan di atas meja kayu polos di sudut ruangan. Di sekelilingnya, karya-karya peserta lain tampak mentereng: patung kayu yang diplitur mengkilap, ukiran resin bening berisi bunga, dan miniatur bangunan dari stik es krim yang rapi. Beberapa pengunjung berlalu begitu saja di depan meja Syarif. Bagi mata yang terbiasa melihat barang berkilau, kepingan tanah liat bakar itu hanya tampak seperti pecahan genteng tua yang tebal.

Namun, ketika tiga orang juri berjalan mendekat, salah satu juri yaitu seorang pemahat senior yang rambutnya sudah memutih seluruhnya, berhenti mendadak. Ia tidak langsung membaca kartu nama pembuatnya. Ia melepas kacamata tebalnya, menunduk rendah, lalu perlahan menjulurkan jarinya. Juri itu menyapu permukaan tanah liat bakar yang kasar tersebut, merasakan tekstur kapalan buatan yang diukir Syarif dengan jarum sol.

"Siapa yang membuat ini?" tanya juri itu dengan suara serak, matanya masih tertuju pada alur tanah liat.

Syarif yang berdiri canggung di belakang kerumunan penonton melangkah maju pelan-pelan. Tangannya refleks disembunyikan di balik saku celana dengan tangan yang masih bernoda tanah liat yang tak sepenuhnya bersih.

"Saya, Pak," jawab Syarif pelan.

Juri itu menatap Syarif, lalu melihat ke arah tangan Syarif yang cepat-cepat ditarik masuk ke saku.

"Kenapa kamu tidak melapisinya dengan cat varnish agar mengkilap?" tanya juri lain di sampingnya.

Syarif menarik napas pendek, mencoba menata kata-katanya agar tidak terdengar asal-asalan.

"Kalau dicat mengilap, tekstur tanahnya hilang, Pak. Tanah liat ini diambil dari tempat saya kerja, dari tanah yang tiap hari diinjak dan dicangkul orang-orang di kampung saya. Kapalan di ukiran tangan itu jejak kerja keras mereka. Saya rasa, kerja keras tidak perlu dibungkus cat kilap supaya kelihatan berharga."

Hening sejenak di sudut ruangan itu. Juri tua berambut putih itu tersenyum tipis, lalu mengangguk-angguk kecil tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia hanya menuliskan beberapa angka di atas papan kertas penilaiannya.

Sore harinya, saat pengumuman dibacakan, Syarif tidak menyangka namanya dipanggil sebagai pemenang karya terbaik kategori seni kriya. Saat berdiri di panggung kecil menerima piala kayu dan amplop hadiah, Syarif melihat juri tua itu bertepuk tangan dari barisan depan. Sang juri memberikan anggukan hormat yang sederhana.

Malamnya, Syarif berjalan pulang menyusuri jalan setapak desa yang gelap. Di dalam tasnya, ada piala pertama dalam hidupnya. Namun yang membuat dadanya terasa lapang bukan cuma piala atau uang hadiah di dalam amplop. Syarif tahu, besok pagi ia akan kembali berkutat dengan bau tanah basah dan bising mesin cetak genteng Pak Haji Mansur. Tapi mulai esok, ia tahu bahwa debu dan tanah liat di bawah kakinya bukan lagi sekadar penanda nasib yang keras, melainkan lembaran-lembaran cerita yang siap ia ukir kembali.

Dua minggu setelah pengumuman lomba itu, hidup Syarif tidak mendadak berubah jadi panggung megah. Mesin cetak tua milik Pak Haji Mansur masih menjerit nyaring setiap pukul tujuh pagi, dan bau tanah liat basah tetap menjadi aroma pertama yang menyapa paru-parunya. Namun, ada hal-hal kecil yang bergeser.

Hari itu, saat istirahat siang, Mang Jaka melemparkan sebungkus es teh manis ke pangkuan Syarif.

"Nih, buat piala kemarin. Kamu nggak cerita-cerita kalau pinter ngukir, Wo. Bikin dahi saya kelihatan kerut banget di gambar itu," gurau Mang Jaka sambil terkekeh, memperlihatkan gusi bawahnya yang ompong.

Syarif tersenyum. Orang-orang di pabrik genteng tidak lagi memandangnya sekadar sebagai anak baru pengangkut adonan, melainkan seseorang yang punya sudut pandang berbeda atas tanah yang mereka pijak setiap hari. Bahkan Pak Haji Mansur sempat menyisihkan beberapa kilogram adonan tanah liat kualitas paling halus di pojok bangsal, khusus untuk Syarif pakai sewaktu-waktu.

Sore harinya, saat Syarif sedang merapikan rak jemuran genteng, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pintu gerbang pabrik. Seorang pria paruh baya berjas kasual turun, ditemani oleh juri tua berambut putih dari lomba kabupaten dua minggu lalu Pak Danu, begitu nama pemahat senior itu.

Pak Danu melangkah mendekati Syarif yang masih memegang papan kayu.

"Syarif," panggil Pak Danu ramah. "Kenalkan, ini Pak Hendra. Dia pengelola sebuah galeri seni di kota provinsi."

Syarif mengelap tangannya yang belepotan tanah ke celana kerja sebelum menjabat tangan kedua tamu tersebut dengan canggung.

Pak Hendra tersenyum hangat. "Pak Danu menceritakan karya relief tanganmu minggu lalu. Saya sengaja datang ke sini bukan cuma mau melihat karyamu yang menang kemarin, Syarif. Saya mau melihat dari mana karya itu lahir."

Syarif membawa kedua orang itu ke bangsal kerja yang riuh dan berdebu. Pak Hendra mengamati sekeliling: deretan genteng mentah yang berjajar rapi, kolam adukan tanah yang pekat, dan jemari para pekerja yang kasar dan pejal.

"Pak Danu benar," kata Pak Hendra pelan sambil memandangi permukaan genteng basah di atas rak. "Karyamu punya jiwa karena kamu tumbuh di dalam materialnya sendiri. Di kota, banyak seniman beli tanah liat impor yang halus di toko seni, tapi cerita di balik karyanya sering kali terasa kosong."

Pak Hendra lalu menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat dan didalamnya bukan berisi uang, melainkan sebuah lembaran formulir dan surat undangan.

"Tiga bulan lagi, galeri kami mengadakan pameran bersama dengan tema 'Suara dari Akar'. Saya ingin mengundangmu untuk mengisi satu sudut pameran dengan lima karya relief tanah liat. Semua biaya pembakaran khusus, bingkai kayu, dan transportasi akan kami tanggung."

Syarif terpaku. Matanya beralih dari surat undangan itu ke wajah Pak Danu yang mengangguk mantap.

"Ini bukan hadiah gratis, Syarif," bisik Pak Danu. "Ini panggung buat cerita-cerita orang di sekitarmu yang selama ini tidak pernah terdengar di gedung-gedung tinggi."

Tiga bulan kemudian, di dalam galeri seni kota provinsi yang megah dan berlantai marmer putih, karya-karya Syarif terpajang di bawah sorot lampu yang lembut. Di samping karya seniman-seniman berpendidikan tinggi, relief tanah liat bakar milik Syarif berdiri gagah dengan warna jingga keabu-abuan yang jujur dan tanpa polesan cat mengkilap.

Pengunjung pameran berjejal di depan sudut karya Syarif. Banyak dari mereka yang terdiam lama, tersentuh oleh detail kerut, kapalan, dan tekstur kasar yang terasa begitu hidup saat disentuh. Di samping salah satu relief, secarik kertas kecil bertuliskan kalimat yang Syarif tulis sendiri:

"Seperti tanah liat yang dibakar dengan ketabahan, kami bisa jadi sesuatu yang melindungi dan menguatkan orang lain."

Malam itu, Syarif tahu satu hal yaitu jalan hidupnya mungkin masih panjang dan penuh debu. Tapi selama ia memegang kejujuran dalam jemarinya, tanah liat kusam di bawah kakinya akan selalu punya cara untuk bersuara kepada dunia.

Karya: Naura Syifa Shadrina Purie 

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)