Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Pagi di tempat
pembuatan genteng press milik Pak Haji Mansur selalu diawali dengan bau tanah
liat basah dan derit mesin cetak tua yang bunyinya mirip cengkerik raksasa.
Bagi Syarif, aroma tanah basah itu adalah tanda bahwa ia masih punya alasan
untuk bertahan hidup satu hari lagi.
Di usianya yang
baru sembilan belas tahun, Syarif tidak punya banyak pilihan. Lulus SMA tanpa
biaya untuk kuliah, ia mendarat di bangsal pencetakan genteng. Tugasnya
sederhana tapi menguras tenaga: mengangkut adonan tanah liat dari kolam adukan,
memasukkannya ke cetakan besi, lalu menyusun genteng-genteng basah itu di atas
rak bambu sebelum dijemur di bawah terik matahari.
Tapi Syarif punya
satu kebiasaan kecil yang tidak diketahui teman-teman sekerjanya. Setiap kali
memegang lembaran genteng basah yang baru keluar dari mesin press, Syarif
selalu memperhatikan permukaan tanah liat itu. Sebelum dijemur dan mengeras
menjadi terakota, permukaannya begitu halus dan peka, seperti ingatan yang
belum sempat terlupakan. Jika ada sehelai daun gugur menimpanya, jejak urat
daun itu akan tertanam di sana selamanya.
Malam harinya, di
kamar kontrakan sempit berukuran dua kali tiga meter, Syarif mengeluarkan
sebuah jarum sol sepatu dan sepotong bambu tipis yang diraut halus. Dari tempat
kerja, ia biasa meminta sisa-sisa adonan tanah liat yang tidak terpakai,
potongan kecil yang dianggap sampah oleh pekerja lain. Syarif meratakan tanah
liat sisa itu di atas papan kayu bekas. Lalu, menggunakan jarum sol dan kayu
rautnya, ia mulai mengukir.
Ia tidak melukis
pemandangan umum. Ia mengukir sketsa wajah-wajah orang yang ia temui sepanjang
hari seperti garis kerut di sudut mata Pak Haji Mansur saat menghitung nota
penjualan, lekuk jemari Mbah Nah yang bengkok akibat bertahun-tahun mencabut
rumput liar, atau guratan tegang di dahi Mang Jaka saat rantai mesin cetak
putus di tengah hari.
Bagi Syarif,
tanah liat bukan sekadar bakal genteng pelindung atap rumah orang kaya. Tanah
liat adalah media yang jujur. Ia mencatat setiap tekanan jarum tanpa bisa
berbohong.
Suatu hari, ada
papan pengumuman yang ditempel di kantor desa. Panitia karang taruna mengadakan
lomba seni reka karya tingkat kabupaten. Syarif yang lewat saat mengantar
pesanan genteng menggunakan gerobak motor sempat berhenti membaca.
"Lomba Seni
Kriya dan Cipta Karya Bebas. Tema: Wajah Daerah Kita."
Syarif termenung.
Syarat perlombaan membebaskan bahan baku yang digunakan. Sebagian besar peserta
lain yang ia dengar dari perbincangan orang-orang desa akan menggunakan kayu
ukir, resin, atau kain batik.
Malam itu, Syarif
duduk meliuk di atas lantai semen yang dingin. Ia mengambil adonan tanah liat
terbaik yang sudah ia saring berulang kali menggunakan kain kelambu bekas agar
tidak ada kerikil halus yang tersisa. Ia tidak membuat patung atau vas bunga
yang molek.
Syarif membuat
sebuah kepingan relief tebal berukuran tiga puluh sentimeter. Di kepingan itu,
ia mengukir dua telapak tangan yang saling berhadapan tapi tidak bersentuhan.
Telapak tangan sebelah kiri adalah telapak tangan seorang pekerja kasar dengan
garis-garis kapalan yang dalam, retakan halus di sela jari, dan retakan kuku
yang tidak rata. Telapak tangan sebelah kanan adalah telapak tangan bayi yang
halus dan mungil. Di antara kedua telapak tangan itu, Syarif mengukir alur
serat-serat tanah liat yang tampak seperti urat nadi yang menyatu.
Syarif tidak
membakar relief itu di dalam tungku raksasa pabrik genteng agar tidak retak. Ia
membakarnya secara perlahan menggunakan tumpukan sekam padi di belakang
rumahnya selama semalam suntuk, seperti cara orang zaman dulu membuat gerabah
tradisional. Saat relief itu selesai dibakar, warnanya berubah menjadi jingga
keabu-abuan yang pekat. Kasar, jujur, dan tidak dipoles cat mengilap sedikit
pun.
Pada hari pameran
dan penilaian di gedung kesenian kabupaten, karya Syarif diletakkan di atas
meja kayu polos di sudut ruangan. Di sekelilingnya, karya-karya peserta lain
tampak mentereng: patung kayu yang diplitur mengkilap, ukiran resin bening
berisi bunga, dan miniatur bangunan dari stik es krim yang rapi. Beberapa pengunjung
berlalu begitu saja di depan meja Syarif. Bagi mata yang terbiasa melihat
barang berkilau, kepingan tanah liat bakar itu hanya tampak seperti pecahan
genteng tua yang tebal.
Namun, ketika
tiga orang juri berjalan mendekat, salah satu juri yaitu seorang pemahat senior
yang rambutnya sudah memutih seluruhnya, berhenti mendadak. Ia tidak langsung
membaca kartu nama pembuatnya. Ia melepas kacamata tebalnya, menunduk rendah,
lalu perlahan menjulurkan jarinya. Juri itu menyapu permukaan tanah liat bakar
yang kasar tersebut, merasakan tekstur kapalan buatan yang diukir Syarif dengan
jarum sol.
"Siapa yang
membuat ini?" tanya juri itu dengan suara serak, matanya masih tertuju
pada alur tanah liat.
Syarif yang
berdiri canggung di belakang kerumunan penonton melangkah maju pelan-pelan.
Tangannya refleks disembunyikan di balik saku celana dengan tangan yang masih
bernoda tanah liat yang tak sepenuhnya bersih.
"Saya,
Pak," jawab Syarif pelan.
Juri itu menatap
Syarif, lalu melihat ke arah tangan Syarif yang cepat-cepat ditarik masuk ke
saku.
"Kenapa kamu
tidak melapisinya dengan cat varnish agar mengkilap?" tanya juri lain di
sampingnya.
Syarif menarik
napas pendek, mencoba menata kata-katanya agar tidak terdengar asal-asalan.
"Kalau dicat
mengilap, tekstur tanahnya hilang, Pak. Tanah liat ini diambil dari tempat saya
kerja, dari tanah yang tiap hari diinjak dan dicangkul orang-orang di kampung
saya. Kapalan di ukiran tangan itu jejak kerja keras mereka. Saya rasa, kerja
keras tidak perlu dibungkus cat kilap supaya kelihatan berharga."
Hening sejenak di
sudut ruangan itu. Juri tua berambut putih itu tersenyum tipis, lalu
mengangguk-angguk kecil tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia hanya
menuliskan beberapa angka di atas papan kertas penilaiannya.
Sore harinya, saat
pengumuman dibacakan, Syarif tidak menyangka namanya dipanggil sebagai pemenang
karya terbaik kategori seni kriya. Saat berdiri di panggung kecil menerima
piala kayu dan amplop hadiah, Syarif melihat juri tua itu bertepuk tangan dari
barisan depan. Sang juri memberikan anggukan hormat yang sederhana.
Malamnya, Syarif
berjalan pulang menyusuri jalan setapak desa yang gelap. Di dalam tasnya, ada
piala pertama dalam hidupnya. Namun yang membuat dadanya terasa lapang bukan
cuma piala atau uang hadiah di dalam amplop. Syarif tahu, besok pagi ia akan
kembali berkutat dengan bau tanah basah dan bising mesin cetak genteng Pak Haji
Mansur. Tapi mulai esok, ia tahu bahwa debu dan tanah liat di bawah kakinya
bukan lagi sekadar penanda nasib yang keras, melainkan lembaran-lembaran cerita
yang siap ia ukir kembali.
Dua minggu
setelah pengumuman lomba itu, hidup Syarif tidak mendadak berubah jadi panggung
megah. Mesin cetak tua milik Pak Haji Mansur masih menjerit nyaring setiap
pukul tujuh pagi, dan bau tanah liat basah tetap menjadi aroma pertama yang
menyapa paru-parunya. Namun, ada hal-hal kecil yang bergeser.
Hari itu, saat
istirahat siang, Mang Jaka melemparkan sebungkus es teh manis ke pangkuan
Syarif.
"Nih, buat
piala kemarin. Kamu nggak cerita-cerita kalau pinter ngukir, Wo. Bikin dahi
saya kelihatan kerut banget di gambar itu," gurau Mang Jaka sambil
terkekeh, memperlihatkan gusi bawahnya yang ompong.
Syarif tersenyum.
Orang-orang di pabrik genteng tidak lagi memandangnya sekadar sebagai anak baru
pengangkut adonan, melainkan seseorang yang punya sudut pandang berbeda atas
tanah yang mereka pijak setiap hari. Bahkan Pak Haji Mansur sempat menyisihkan
beberapa kilogram adonan tanah liat kualitas paling halus di pojok bangsal,
khusus untuk Syarif pakai sewaktu-waktu.
Sore harinya,
saat Syarif sedang merapikan rak jemuran genteng, sebuah mobil sedan hitam
berhenti di depan pintu gerbang pabrik. Seorang pria paruh baya berjas kasual
turun, ditemani oleh juri tua berambut putih dari lomba kabupaten dua minggu
lalu Pak Danu, begitu nama pemahat senior itu.
Pak Danu
melangkah mendekati Syarif yang masih memegang papan kayu.
"Syarif,"
panggil Pak Danu ramah. "Kenalkan, ini Pak Hendra. Dia pengelola sebuah
galeri seni di kota provinsi."
Syarif mengelap
tangannya yang belepotan tanah ke celana kerja sebelum menjabat tangan kedua
tamu tersebut dengan canggung.
Pak Hendra
tersenyum hangat. "Pak Danu menceritakan karya relief tanganmu minggu
lalu. Saya sengaja datang ke sini bukan cuma mau melihat karyamu yang menang
kemarin, Syarif. Saya mau melihat dari mana karya itu lahir."
Syarif membawa
kedua orang itu ke bangsal kerja yang riuh dan berdebu. Pak Hendra mengamati
sekeliling: deretan genteng mentah yang berjajar rapi, kolam adukan tanah yang
pekat, dan jemari para pekerja yang kasar dan pejal.
"Pak Danu
benar," kata Pak Hendra pelan sambil memandangi permukaan genteng basah di
atas rak. "Karyamu punya jiwa karena kamu tumbuh di dalam materialnya
sendiri. Di kota, banyak seniman beli tanah liat impor yang halus di toko seni,
tapi cerita di balik karyanya sering kali terasa kosong."
Pak Hendra lalu
menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat dan didalamnya bukan berisi uang,
melainkan sebuah lembaran formulir dan surat undangan.
"Tiga bulan
lagi, galeri kami mengadakan pameran bersama dengan tema 'Suara dari Akar'.
Saya ingin mengundangmu untuk mengisi satu sudut pameran dengan lima karya
relief tanah liat. Semua biaya pembakaran khusus, bingkai kayu, dan
transportasi akan kami tanggung."
Syarif terpaku.
Matanya beralih dari surat undangan itu ke wajah Pak Danu yang mengangguk
mantap.
"Ini bukan
hadiah gratis, Syarif," bisik Pak Danu. "Ini panggung buat
cerita-cerita orang di sekitarmu yang selama ini tidak pernah terdengar di
gedung-gedung tinggi."
Tiga bulan
kemudian, di dalam galeri seni kota provinsi yang megah dan berlantai marmer
putih, karya-karya Syarif terpajang di bawah sorot lampu yang lembut. Di
samping karya seniman-seniman berpendidikan tinggi, relief tanah liat bakar
milik Syarif berdiri gagah dengan warna jingga keabu-abuan yang jujur dan tanpa
polesan cat mengkilap.
Pengunjung
pameran berjejal di depan sudut karya Syarif. Banyak dari mereka yang terdiam
lama, tersentuh oleh detail kerut, kapalan, dan tekstur kasar yang terasa
begitu hidup saat disentuh. Di samping salah satu relief, secarik kertas kecil
bertuliskan kalimat yang Syarif tulis sendiri:
"Seperti
tanah liat yang dibakar dengan ketabahan, kami bisa jadi sesuatu yang
melindungi dan menguatkan orang lain."
Malam itu, Syarif tahu satu hal yaitu jalan hidupnya mungkin masih panjang dan penuh debu. Tapi selama ia memegang kejujuran dalam jemarinya, tanah liat kusam di bawah kakinya akan selalu punya cara untuk bersuara kepada dunia.
Karya: Naura Syifa Shadrina Purie
Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)

0 Komentar