Sumber Dokumentasi: Ai

Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Riuh rendah suara lorong sekolah selalu sukses membuat dada Amara berdegup kencang. Bukan karena bersemangat menyambut hari, melainkan karena rasa cemas yang mendesak dari tulang rusuknya. Sambil mendekap buku catatan tebalnya erat-erat seolah itu adalah tameng, Amara berjalan cepat dengan kepala menunduk. Ia menghitung ubin di lantai agar tidak perlu bertatapan dengan siapa pun.

Saat SMP, Amara berhasil meraih kesempatan menjadi "murid terbaik". Tangannya yang ringan saat temannya meminta bantuan, nilai yang selalu di atas rata-rata, nama yang selalu disebut ketika ada lomba antar sekolah. Tapi bagi remaja seusianya kala itu, prestasi bukanlah sesuatu yang dirayakan bersama. Hal itu justru menjadi ancaman. Tanpa disadari, Amara menjadi pemicu peer pressure negatif yang tak pernah dimintanya.

Semua berawal dari bisikan kecil di belakang punggungnya.

"Sok pintar, ya."

"Cari muka aja itu, biar disayang guru."

"Sok soan banget sih, kayak nggak butuh temen aja."

Bisikan itu lama-lama berubah menjadi tawa terang-terangan setiap kali dia menjawab pertanyaan di kelas. Amara mencoba bertahan, tapi hati kecilnya terus-menerus ditoreh hingga membentuk parutnya sendiri.

Di kelas, Pak Hendi, guru yang tegas namun perhatian, bertanya seperti biasa.

"Amara, coba kamu jelaskan."

Biasanya Amara langsung menjawab. Tapi kali ini ia hanya diam menunduk.

"Amara?" panggil Pak Hendi lagi.

"Maaf, Pak... saya belum tahu," ucapnya dengan suara gemetar.

Kelas mendadak hening. Pak Hendi tidak memaksa. "Baik, kita bahas bersama." Pelajaran kembali berjalan, tapi suasananya terasa berbeda dari biasanya.

Karena enggan ikut melanggar aturan hanya demi diterima secara sosial, Amara memilih jalan yang menurutnya paling aman, yaitu menarik diri dari lingkungan sosial.

"Ra, ke kantin yuk!" ajak temannya saat istirahat.

"Kamu duluan saja, Na..." jawab Amara sambil menggelengkan kepalanya.

Mekanisme pertahanan diri itu justru menjadi bumerang. Memasuki tahun terakhir SMP, Amara menyadari ada yang berubah dalam dirinya. Ia menjadi kaku saat berbicara dengan orang baru, cemas berlebihan setiap kali kerja kelompok, dan perlahan kehilangan kemampuan untuk sekadar berbaur dengan teman-temannya.

Malam itu, Amara duduk di depan jendela kamarnya, memandangi lampu-lampu rumah tetangga yang berkelip hangat, seolah kehangatan itu milik dunia lain. Ia tahu ada yang salah dengan caranya menghadapi dunia, tapi belum tahu cara membuka jendela itu tanpa takut terluka lagi.

Tiga bulan berlalu, rasa lelah bersembunyi mulai mengusiknya. Sepulang sekolah, ia membuka lemari dan mengambil buku harian yang selama ini menyimpan segala hal yang tak mampu ia ucapkan. Amara duduk di tepi tempat tidur, membuka halaman kosong, lalu mulai menulis.

"Entah sejak kapan aku menjadi sejauh ini dari orang-orang di sekitarku. Aku yang dulu mudah tertawa, kini lebih sering memilih diam. Aku lelah bukan karena dunia terlalu keras, tapi karena aku terlalu lama berpura-pura kuat."

Semester baru membawa satu perubahan: Bima, teman satu ekskul menulis dari sekolah tetangga yang sering ia temui saat lomba antar sekolah. Cara Bima bertanya kabar setiap malam membuat Amara merasa tidak sendirian.

"Ra, hari ini gimana? Masih suka lupa makan siang, ya?" tulisnya suatu sore.

Hubungan mereka pelan-pelan tumbuh lebih dari sekadar teman. Menjelang akhir semester, Bima menyatakan perasaannya, dan Amara dengan segala keraguannya akhirnya mengiyakan. Karena sekolah mereka berjauhan, hubungan itu berjalan dengan jarak. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi lambat laun, balasan pesan Bima semakin jarang.

"Sibuk, Ra. Maaf ya," jawabnya selalu, tiap kali ditanya.

Suatu malam, ponsel Bima tertinggal di rumah Amara sehabis mengerjakan tugas kelompok gabungan. Notifikasi terus berbunyi, dan rasa penasaran juga firasat yang sudah lama mengganjal membuat Amara membuka pesan itu. Di sana ia menemukan percakapan panjang antara Bima dan seorang teman perempuan sekelasnya: candaan yang terlalu akrab, panggilan sayang, foto-foto dengan pesan manis yang seharusnya hanya milik Amara. Tanggalnya bertepatan dengan hari-hari saat Bima bilang sedang "sibuk".

Tangan Amara gemetar. Dadanya sesak, seolah udara di kamarnya menghilang.

Ketika Bima kembali mengambil ponselnya, Amara hanya menyerahkannya dalam diam, matanya berkaca-kaca.

"Ra... kamu kenapa?" Tanya Bima.

"Aku lihat chat kamu," jawab Amara pelan. "Sama siapa itu, Bim?"

Bima terdiam.

"Itu... cuma temen, Ra. Nggak ada apa-apa."

"Kalau cuma temen, kenapa kamu bohong soal sibuk? Kenapa kamu chat dia kayak... kayak aku?"

Suara Amara bergetar, tapi kali ini ia tak menahan diri. Bima tidak bisa menjawab. Diamnya menjadi jawaban paling menyakitkan yang pernah Amara terima.

Kepercayaan yang baru mulai tumbuh kembali runtuh dalam semalam. Luka lama dari SMP seperti diejek, diasingkan, dianggap "sok soan" kini bertumpuk dengan luka baru yang dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi tempatnya pulang.

Hari-hari setelah putus, Amara semakin menjauh dari dunianya sendiri. Nafsu makannya menurun, ia sering terjaga hingga larut, dan nilai-nilai sekolahnya mulai turun hingga sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Ibunya yang memperhatikan dari jauh akhirnya duduk di tepi ranjang Amara.

"Ra, Ibu nggak akan maksa kamu cerita. Tapi Ibu lihat kamu udah beda beberapa minggu ini. Kamu capek, ya?"

Amara luruh, menangis dalam pelukan ibunya, mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam yaitu ejekan di SMP, rasa takutnya untuk percaya lagi, dan luka dari Bima.

"Kamu nggak salah, Nak. Kamu cuma belum ketemu orang dan lingkungan yang tepat buat kamu jadi diri kamu sendiri," ucap ibunya sambil mengusap punggung Amara.

Atas saran ibunya, Amara mulai rutin bercerita dengan guru BK setiap minggu. Perlahan ia belajar bahwa perasaannya valid, bahwa dikhianati bukan berarti dirinya tak layak dicintai, dan bahwa menutup diri selamanya bukan solusi.

Dua bulan kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor yang lama tak ia balas.

"Ra, aku tahu aku nggak berhak minta waktu kamu lagi. Aku cuma pengen minta maaf secara langsung, kalau kamu izinkan."

Mereka bertemu di taman dekat sekolah. Bima datang dengan wajah yang lebih berhati-hati.

"Ra, aku minta maaf. Bukan cuma soal chat itu, tapi soal aku yang nggak pernah bener-bener ngehargain kamu."

Bima mengusap tengkuknya, mencari kata-kata yang tepat.

"Aku sempat cerita ke konselor di sekolahku. Aku baru sadar aku ini orangnya susah nolak orang, sampai nyakitin orang yang paling penting. Aku belajar soal batasan diri, tentang jujur dari awal, bukan nutupin sesuatu biar kelihatan baik-baik aja."

Amara belum sepenuhnya bisa percaya lagi, tapi untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia merasa lega karena luka itu akhirnya mendapat penutupnya.

Hari-hari berikutnya, Bima menunjukkan perubahan lewat tindakan, bukan sekadar kata-kata. Ia tak lagi memaksa, hanya hadir sewajarnya dan jujur tentang batasannya sendiri. Perlahan, kepercayaan tumbuh kembali dengan pondasi yang lebih sehat, dan menjelang akhir tahun ajaran mereka kembali menjalin hubungan dengan satu kesepakatan baru yaitu kejujuran di atas segalanya.

Hari kelulusan SMP tiba. Aula sekolah dipenuhi tawa dan haru. Amara berdiri di antara teman-temannya, mengenakan toga yang terasa lebih ringan dari beban yang selama ini ia pikul.

"Selamat ya, Ra," ucap Bima sambil membawa buket bunga kecil. "Kamu udah ngelewatin banyak hal. Aku bangga jadi bagian dari perjalanan kamu, walau aku pernah bikin itu berat."

Amara tersenyum tulus. "Makasih, Bim. Buat semuanya, yang baik maupun yang berat. Semua itu yang bikin aku jadi Amara yang sekarang."

Memasuki bangku SMA, Amara membawa serta seluruh pelajaran yang telah ia lalui. Ia yang dulu takut berbicara di depan kelas kini berani mengangkat tangan lebih dulu, bukan untuk mencari validasi, tapi karena ingin berkontribusi. Kemampuannya mendengarkan orang lain, hasil dari luka-luka yang pernah ia rasakan sendiri, membuatnya dipercaya banyak teman untuk bercerita dan meminta pendapat.

Menjelang akhir tahun pertamanya, nama Amara diusulkan sebagai calon ketua OSIS. Bayangan lama tentang ejekan "sok soan" sempat muncul kembali, tapi kali ini ia memilih untuk tidak mundur.

"Kalau bukan sekarang aku berani, kapan lagi?" gumam nya di depan cermin.

"Dengan suara terbanyak, Ketua OSIS periode ini adalah... Amara!"

Sorak sorai memenuhi lapangan sekolah. Amara berjalan ke depan dengan langkah mantap, jauh berbeda dari langkah gemetarnya dulu di lorong sekolah SMP.

Malam harinya, Amara kembali duduk di depan jendela kamarnya. Namun kali ini ia tak lagi menguncinya, ia membukanya lebar-lebar, membiarkan angin malam masuk bersama lampu-lampu rumah tetangga yang kini terasa seperti bagian dari dunianya sendiri.

Seperti biasa, Amara duduk di tepi tempat tidur, membuka halaman kosong, dan mulai menulis.

"Aku pernah mengira diam adalah cara terbaik untuk bertahan. Tapi ternyata, keberanian untuk terbuka meski pernah terluka karenanya adalah yang membuatku benar-benar hidup. Jendela ini, yang dulu kukunci rapat untuk melindungi diri, kini kubuka bukan karena dunia berubah sempurna, tapi karena aku akhirnya menemukan keberanian untuk menghadapinya."

 Tamat

Karya: Neisa Azha Mufti 

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi)