Semarang, KABARFREKUENSI.COM-Sebuah cahaya hangat menandakan hari yang telah berganti. Aku menggosok mataku yang masih terjebak kantuk akibat tidur di penghujung pagi. Tapi apa boleh buat, pekerjaan sudah siap menyambut dengan senang hati.
Siap untuk menyambut hari baru, aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya keras. Perlahan, kutarik tirai yang tadinya hanya sedikit tersingkap agar terbuka lebih lebar, membiarkan cahaya matahri masuk menembus mataku.
Setelah meneguk segelas air di samping tempat tidur, aku langsung turun ke lantai satu. Bersiap untuk mandi dan membuat sarapan. Namun, sebelum ke dapur, langkahku berbelok ke sofa ruang TV.
“Hai The One, apakah kamu sudah bangun?” sapaku sambil mengelus kepala kucing putih ini dengan sedikit kasar.
“Meong ... grrr ...” jawabnya malas.
“Haha, seperti biasa selalu tidak bersemangat,” balasku sambil melangkah menuju dapur.
Dua puluh menit berkutat di dapur, akhirnya roti berselai stroberi dan susu hangatku selesai. Aku membawanya ke meja makan, tak lupa juga menuangkan susu dan makanan untuk kucing tercintaku, yang dibalas dengan remahan makanan kucing yang berserakan.
“...”
Mengabaikan si kucing, aku melanjutkan sarapan pagiku sambil menggulir layar ponsel. Tiba-tiba suara noifikasi yang sudah tidak asing lagi muncul. Memperlihatkan satu pesan singkat.
<< X 1234 C, Hutan Duri Hijau >>
“Hai The One, pekerjaan sudah mencari kita pagi-pagi sekali bukan?” ucapku sambil mendongak ke arah kucingku, yang kini sudah duduk tenang di meja makan. Mengabaikan sedikit dengusannya, aku segera pergi menuju ke kamar mandi untuk bersiap.
“Baiklah, pekerjaan yang dimulai sangat awal haruslah berakhir lebih awal juga. Aku harus benar-benar memperbaiki jam tidurku,” gumamku dengan nada pasrah.
Pemandangan rimbun hutan tampak di sepanjang jalan yang berkelok-kelok. Aku mengetuk-ngetuk setir sambil mendengarkan radio mobil yang memutar lagu dari seorang musisi. Mungkin lagu baru, karena sepertinya aku belum pernah mendengarnya selama ini.
Melihat rambu jalan serta informasi panjang dan rinci di ponsel, aku membelokkan setir mobil ke kanan. Pagar yang tampak berbahaya mulai muncul di sepanjang jalan. Jalanan juga terlihat sepi, hanya satu atau dua mobil saja yang terlihat melintas.
Tiba di sebuah tikungan tajam, aku memutuskan berhenti. Ku buka pintu mobil dan berjalan ke tepi jalan, lalu melambaikan tanganku untuk menghentikan mobil hitam berpelat nomor X 1234 C yang sedang melaju pelan.
“Ah hai Nona! Apakah kau butuh tumpangan?” sapa seorang laki-laki berumur lima puluhan yang memakai topi hitam, sembari membuka kaca jendela mobilnya. “Tapi sepertinya aku tak bisa membantu karena aku juga tersesat,” lanjutnya sambil meringis.
“Bukan seperti itu Tuan,” jawabku sopan. “Saya mendapat kabar bahwa Anda membutuhkan bantuan. Jadi, saya di sini untuk membantu.”
“Oh? Seingatku aku tidak memanggil siapapun,” Ia mengerutkan kening.
“Atau mungkin Lusi yang memanggilnya?” lanjutnya bergumam pelan.
“Baiklah, mungkin Putriku yang memanggilmu. Aku sedang dalam perjalanan menemuinya, tapi seperti yang kau lihat, aku sepertinya hanya berputar-putara di jalan ini.”
“Anggap saja begitu Tuan. Mari saya antar Tuan. Silakan naik ke mobil saya,” ucapku sambil menunjuk mobilnya. Terlihat satu ban mobilnya yang hilang dan kap depannya tampak penyok, seperti habis menabrak sesuatu dengan keras.
Ia keluar mobil dan melihat pemandangan parah itu. “Hah ... aku tidak menyadarinya sama sekali. Mungkin itu sebabnya mobilku melaju sangat pelan.” Wajahnya nampak kebingungan.
Aku hanya mengangguk samar, lalu membukakan pintu penumpang. Ia tidak banyak bertanya lagi, langsung duduk sambil memijat pelipisnya. Kelelahan sangat terlihat di wajahnya.
Melihatnya, aku segera masuk ke mobil. Melihat rute di peta digital dan memulai perjalanan. Mobilku melaju dengan kecepatan penuh di jalanan sepi ini.
“Kau akan segera bertemu Putrimu, Tuan. Ada air mineral di samping Anda, jika Anda merasa haus. Perjalanan ini mungkin akan sedikit lama.” kataku sambil menatap fokus ke depan.
“Terima kasih, Nona. Kalau begitu aku akan tidur sebentar. Entah kenapa aku merasa sangat lelah dan mengantuk,” jawabnya. Namun, sebelum memejamkan mata, Ia bertanya, “Siapa namamu, Nona? Aku sungguh berterima kasih kepadamu.”
“Neoma Anindita, Tuan. Anda boleh memanggilku Neo.”
“Nama yang indah sekali. Terima kasih, Nona Neo. Kalau bukan karenamu, aku mungkin masih terjebak di jalan itu,” katanya sambil tersenyum.
“Dengan senang hati, Tuan,” jawabku sambil tersenyum. Ia terkekeh kecil, sebelum akhirnya tertidur.
Sisa waktu selanjutnya diwarnai dengan keheningan. Mungkin sekitar dua atau tiga jam kemudian, kami akhirnya sampai di tempat tujuan. Di depan sana, tampak sebuah rumah putih sederhana dengan pagar putih yang mengelilinginya. Semua tampak berwarna putih kecuali halaman luasnya yang memiliki rumput dan pohon-pohon hijau yang terlihat sangat subur.
Aku memberhentikan mobil di depan pagar itu. Lalu menoleh ke belakang dan membangunkan penumpangku. “Tuan kita sudah sampai,” ucapku lembut.
Ia tersentak kecil. “Ah terima kasih, Nona. Tapi ini di mana?” tanyanya sambil melihat ke sekelilingnya dengan keheranan.
Aku tidak langsung menjawab, hanya turun dan membukakan pintu mobil untuknya. “Kucingku, namanya The One akan menuntun Anda, Tuan. Silahkan ikuti saja dia dan Anda akan segera bertemu dengan putri dan keluarga Anda.”
“Baiklah, terima kasih banyak sekali lagi Nona.” Meski nampak bingung, Ia tetap mengikuti The One yang mulai mengeong rendah.
Namun belum jauh melangkah, Ia kembali berbalik ke arahku. “Nona, sekali lagi terima kasih! Mungkin Putriku yang seusia denganmu akan senang bertemu denganmu juga. Ini terdapat nomor ponselku. Jika kau ada waktu, kami akan senang menyambutmu,” katanya sambil menyerahkan sebuah kartu nama. Tanpa menunggu jawabanku, Ia sudah berbalik kembali mengikuti The One menuju ke rumah itu.
“Hm ... terima kasih Tuan Laksana. Tapi bukanlah peristiwa baik jika keluargamu bertemu denganku,” bisikku pelan, sambil sedikit membungkuk hormat. Melihat lagi ke depan, Ia sudah membuka pintu rumah itu dan menghilang masuk ke dalam.
Tak lama, The One kembali dan kepalanya menggesek lembut kakiku. “Kerja bagus. Satu paha ayam goreng menantimu di rumah,” kataku sambil memeluknya dan membawanya ke dalam mobil.
Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah pesan baru muncul.
<< Terima kasih atas kerja kerasmu, Sang Pengantar! Jiwa malang yang tersesat ini sudah kembali menuju tempat terakhirnya dengan baik. >>
Tak lama, satu pesan lagi kembali muncul.
<< Ambara Bayanaka, Gunung Merah Abadi >>
Geraman The One terdengar keras, tampak tak senang.
“Ah, bahkan ponsel menyebalkan ini tidak memberi kita waktu makan siang,” jawabku sembari mengelus kepalanya, lalu menyesuaikan rute ke tujuan berikutnya.
Ku putar setir agar mobilku kembali melaju ke jalan raya. Samar-samar terdengar suara sirene ambulans dan tangis sedih beberapa manusia. Suara-suara tersebut perlahan menghilang seiring dengan mobilku yang melaju cepat ke depan.
Di belakang sana, rumah putih sederhana itu sudah tidak ada lagi, berganti menjadi bangunan putih bertingkat yang pasti lebih dikenal oleh mata para manusia.
Karya: Nila Munana (Kru magang LPM Frekuensi 24)
Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi 23)

0 Komentar