Sumber Dokumentasi: Pexels

Angin sore menampar lembut wajah Nadira ketika ia berdiri di beranda rumah tua yang menghadap ke sawah. Langit mulai memudar, warnanya menyerupai surat-surat lama yang pernah dikirim seseorang yang kini hanya hidup dalam kenangan. Suara jangkrik mulai bersahut, seakan ikut membaca kesepian yang sudah lama menetap di dadanya.

Sudah hampir lima tahun sejak Arel pergi tanpa perpisahan, tanpa pamit.
Ia pergi bersama musim yang tak pernah kembali.

Nadira menatap secarik surat di tangannya. Surat itu ditemukan ibunya di loteng minggu lalu, terselip di dalam buku kumpulan puisi Chairil Anwar yang sudah rapuh. Kertasnya berwarna gading, dengan tinta hitam yang memudar.
Di bagian atasnya tertulis:

“Untuk Nadira
dari seseorang yang pernah menjadi musim di hidupmu.”

Malam itu, Nadira menatap surat itu di bawah cahaya lampu kamar.
Hujan turun perlahan, seperti nada lembut yang memukul jendela.

Ia membaca perlahan:

‘Nadira, jika surat ini sampai padamu, mungkin aku sudah tidak lagi ada di tempat yang bisa kau tuju. Aku menulis ini di tengah bulan November, saat daun-daun mulai gugur dan udara berbau perpisahan. Aku tak tahu apakah aku akan sempat kembali, tapi aku ingin kau tahu satu hal: aku tidak pergi karena bosan, aku pergi karena harus.’

Tangannya bergetar.
Nama “Arel” tidak tertulis di bawah tanda tangan, tapi setiap kalimat di surat itu berbicara dengan suara yang pernah mengisi hari-harinya.

“Kenapa, Rel… kenapa kau tak bilang?” bisik Nadira.
“Kenapa kau memilih menulis, bukan berpamitan?”

Suara ibunya dari luar kamar memecah sunyi.

“Dir, sudah malam. Tidurlah, Nak.”
“Iya, Bu… sebentar lagi.”

Tapi malam itu, Nadira tidak tidur.
Ia membuka jendela, membiarkan angin membawa harum tanah basah dan rasa kehilangan yang belum selesai.

Tiga tahun lalu, mereka masih duduk di bangku taman kampus, menertawakan dunia yang terasa begitu sederhana.
Arel, mahasiswa seni rupa yang selalu membawa kamera analog; dan Nadira, gadis sastra yang gemar menulis surat meski tak pernah mengirimkannya.

“Kau tahu kenapa aku suka kamera analog?” tanya Arel suatu sore.
“Karena butuh waktu untuk melihat hasilnya?”
“Bukan. Karena setiap foto adalah penantian. Dan penantian itu justru membuat kita menghargai momen yang sudah lewat.”

Nadira menatapnya. “Lalu kenapa kau memotretnya kalau akhirnya akan lewat juga?”
Arel tersenyum. “Karena aku ingin memastikan, kalau pun waktu mencuri segalanya, aku masih punya bukti bahwa sesuatu pernah indah.”

Kata-kata itu kini menggema di kepala Nadira seperti gema yang tak mau reda.

Beberapa minggu setelah hari itu, Arel mulai jarang datang ke kampus. Ia sering menghilang, memberi alasan yang selalu sama: “Ada urusan keluarga.”
Nadira sempat curiga, tapi tidak ingin mendesak.

Sampai akhirnya, Arel mengajak bertemu di tepi danau kecil di belakang kampus — tempat yang dulu jadi tempat favorit mereka.

“Aku akan pergi sebentar,” kata Arel sambil menatap air.
“Pergi ke mana?”
“Jauh. Ke tempat yang bahkan aku sendiri belum tahu akan seberapa lama.”
“Kau menghindar dari apa, Rel?”
“Bukan menghindar. Aku hanya sedang berusaha melawan sesuatu.”

Nadira terdiam. “Sesuatu apa?”
Arel tersenyum getir. “Sesuatu yang tak bisa kuceritakan. Tapi kalau suatu hari aku tak kembali, jangan menungguku seperti menunggu hujan di musim kemarau.”

“Tapi aku selalu suka menunggu hujan,” jawab Nadira pelan.
“Ya, dan karena itu aku takut padamu, Dir. Kau tahu caranya menunggu dengan setia.”

Mereka berdua tertawa lirih waktu itu, tanpa sadar bahwa itu adalah tawa terakhir.

Dua hari kemudian, Nadira menemukan surat kedua di antara tumpukan buku puisi. Tulisan tangannya sama.
Ia membacanya di bawah pohon jambu belakang rumah, tempat dulu mereka sering duduk berdua.

*‘Nadira, kalau kau membaca surat ini, berarti kau masih menyimpan sisa musim kita. Aku ingin kau tahu, aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Kau mengajarkanku bahwa kata-kata bisa lebih hangat dari pelukan, dan diam bisa lebih jujur dari seribu janji.

Tapi aku harus pergi. Tubuhku tak lagi kuat menanggung waktu. Dokter bilang, aku hanya punya sedikit musim tersisa. Aku tak mau kau melihat aku perlahan memudar.’*

Air mata Nadira jatuh membasahi kertas. Ia membaca ulang kalimat itu berulang kali sampai huruf-hurufnya kabur oleh air mata.

“Jadi itu alasanmu, Rel? Kau pergi karena sakit, bukan karena lelah?”
“Kau bodoh, Arel. Sangat bodoh.”

Ia menatap langit sore yang berwarna oranye pudar.
“Kalau aku tahu, aku akan tetap menunggumu. Aku akan tetap duduk di sebelahmu sampai musim terakhir berakhir.”

Malam itu, Nadira bermimpi. Ia duduk di taman yang sama, dengan daun-daun berguguran pelan di sekitarnya.
Arel duduk di seberang, mengenakan kemeja putih kesukaannya, membawa kamera di tangan.

“Kau datang juga,” katanya.
“Aku tak pernah pergi, Rel,” jawab Nadira.
“Aku tahu. Karena setiap kali angin lewat, aku mendengar namamu.”
“Kenapa kau tak memberi tahu aku?”
“Karena aku ingin kau mengingatku sebagai seseorang yang hidup, bukan yang sakit.”
“Aku tidak peduli dengan sakitmu.”
“Tapi aku peduli dengan matamu yang akan belajar melihatku dengan iba.”

Nadira menatapnya lama. “Aku tidak pernah iba padamu. Aku hanya mencintaimu.”

Arel tersenyum. “Dan aku mencintaimu dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tahu waktu tidak akan lama.”

Lalu, dalam mimpi itu, Arel mengulurkan sebuah surat kecil.

“Buka ini kalau kau sudah siap berhenti menunggu,” katanya.

Ketika Nadira terbangun, surat itu benar-benar ada di atas meja kamarnya tertulis dengan tinta hitam, huruf yang sama, aroma yang sama.

*‘Nadira, jika surat ini sampai padamu, mungkin musim telah berganti. Kau mungkin sudah tak lagi menatap jendela yang sama, atau menulis di buku yang sama. Tapi aku ingin kau tahu, aku bahagia pernah menjadi bagian dari perjalananmu.

Aku titipkan padamu satu hal  jangan biarkan hatimu membeku hanya karena musim berhenti datang. Karena di dunia ini, setiap orang kehilangan seseorang, tapi tak semua orang bisa menulis tentang kehilangan itu seindah dirimu.

Aku tidak ingin kau mengingatku sebagai luka, tapi sebagai lagu yang kau dengar setiap kali hujan turun.’*

Nadira menutup surat itu dengan gemetar.
Suara hujan di luar jendela seperti menirukan kalimat terakhir surat itu.

Ia berlari ke halaman rumah, membiarkan hujan membasahi wajahnya.

“Aku mendengar lagumu, Rel!” teriaknya di tengah derasnya hujan.
“Aku mendengar setiap nada dari musim yang hilang!”

Suara itu larut bersama angin, tapi entah kenapa, ada kehangatan yang menelusup masuk ke dalam dadanya.
Seolah Arel sedang berdiri di sampingnya, tersenyum dalam diam.

Beberapa bulan berlalu.
Nadira mulai menulis lagi, sesuatu yang dulu sempat ia hentikan karena kehilangan arah.
Ia menulis kumpulan surat, puisi, dan kenangan kecil  semuanya tentang Arel, tentang musim yang pernah mereka lewati.

Di suatu pagi yang cerah, ia duduk di kafe kecil dekat kampus, menatap cangkir kopi yang mengeluarkan asap tipis.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri.

“Kau Nadira?” tanya laki-laki itu.
“Iya. Maaf, kita kenal?”
“Aku Revan, sepupu Arel. Aku… menemukan beberapa barang miliknya saat membereskan kamarnya.”
“Barang apa?”
“Ini.”

Revan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Di dalamnya ada kamera analog, buku catatan, dan sebuah gulungan film.

“Dia sempat bilang, kalau aku menemukanmu, aku harus menyerahkan ini,” kata Revan.
“Katanya, hanya kau yang tahu cara menghidupkan foto-fotonya.”

Nadira tersenyum samar. “Dia masih percaya padaku, bahkan setelah pergi.”

Malam itu, Nadira memutuskan mencuci film itu di studio lama milik Arel.
Studio itu sudah berdebu, tapi bau kimianya masih sama bau yang dulu menempel di jaket Arel setiap kali mereka bertemu.

Ketika hasil foto mulai muncul, Nadira menahan napas.
Setiap potret berisi sesuatu yang sangat pribadi:
 dirinya yang tertawa di bawah pohon,
 tangan mereka yang saling menggenggam,
 langit senja yang diambil dari balik jendela rumahnya.

Namun di antara semua foto itu, ada satu yang membuatnya terdiam:
sebuah foto Arel sedang menulis di meja kayu, dengan tulisan kecil di sudutnya:

“Untuk Nadira surat dari musim yang hilang.”

Malam berikutnya, Nadira menulis surat balasan. Ia tidak tahu kepada siapa surat itu akan dikirim, tapi ia menulis seolah Arel masih bisa membacanya.

*‘Arel,
aku sudah membaca semua suratmu. Dan aku akhirnya mengerti: kehilangan bukan tentang siapa yang pergi, tapi tentang siapa yang tetap di sini dengan luka yang tidak dihapus.

Tapi aku akan baik-baik saja, Rel. Aku tidak akan menunggu musimmu lagi. Karena aku tahu, musim yang hilang bukan berarti musim yang berakhir ia hanya berpindah tempat.

Terima kasih karena pernah datang. Terima kasih karena pernah menjadi lagu di antara hujan.’*

Nadira melipat surat itu, menaruhnya di dalam botol kaca, dan melemparkannya ke sungai kecil di belakang rumah.

“Pergilah, Rel. Temui musim-musim lain di sana.”

Angin berembus lembut, membawa aroma tanah dan kenangan. Dalam remang senja, Nadira merasa seolah seseorang sedang berdiri di tepi sungai, tersenyum sambil melambaikan tangan.

Setahun kemudian, Nadira menerbitkan bukunya: Surat dari Musim yang Hilang.
Buku itu berisi kumpulan surat dan kisah cinta yang tak selesai, ditulis dengan bahasa yang lembut dan getir.

Dalam wawancara, seseorang bertanya,

“Apakah tokoh Arel dalam buku ini nyata?”
Nadira tersenyum.
“Dia nyata. Tapi sekarang dia sudah menjadi bagian dari musim yang lain.”

Setelah acara itu, Nadira berjalan keluar. Hujan turun rintik.
Ia menatap langit yang sama langit yang dulu menyaksikan pertemuan dan perpisahan.
Kini langit itu tidak lagi menyakitkan. Ia hanya menjadi halaman lain dari buku yang pernah mereka tulis bersama.

“Selamat tinggal, Arel,” bisiknya.
“Terima kasih sudah menulis musim di hidupku.”

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan jejak kecil di jalan basah jejak yang perlahan akan hilang, seperti halnya musim, tapi tidak akan pernah benar-benar lenyap dari ingatan.

Malam kembali turun. Di luar jendela kamar Nadira, daun-daun bergerak pelan diterpa angin.
Di atas mejanya, kamera analog milik Arel berdiri diam, menghadap ke jendela.

Di balik lensa itu, seolah ada cahaya kecil yang berkedip, seperti seseorang yang masih ingin merekam dunia meski hanya lewat kenangan.

Dan di luar sana, mungkin Arel sedang tersenyum.
Membaca surat yang akhirnya ditulis Nadira surat dari musim yang dulu hilang, tapi kini telah menemukan jalannya pulang.

Karya: Siti Qummariyah (Kru LPM Frekuensi 23)

Editor: Santi Alfifat Khurosyidah (Kru LPM Frekuensi 23)