ilustrasi/ google.com

“Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.”
Kalimat tersebut menjadi pembuka sekaligus inti dari novelet karya penulis Indonesia, Ratih Kumala. Setelah sukses dengan Tabula Rasa, Genesis, Larutan Senja, Bastian dan Jamur Ajaib, Kronik Betawi, dan Gadis Kretek, melalui karyanya, Wesel Pos, Ratih Kumala berusaha menyibak keriuhan yang ada di ibu kota Indonesia, Jakarta.
Bermula dari kisah seorang perempuan desa bernama Elisa Fatunisa yang hidup sebatang kara karena ibunya baru saja meninggal, Elisa memberanikan diri berangkat ke Jakarta menggunakan transportasi bus. Berbekal uang seratus lima puluh ribu  rupiah, ponsel lawas, dan secarik wesel pos, Elisa menjelajahi kota Jakarta seorang diri. Wesel pos yang dibawanya merupakan satu-satunya petunjuk untuk mencari kakaknya, Ikbal Hanafi karena saban satu bulan sekali Ikbal mengirimkan uang untuk Elisa dan ibunya di kampung dan di situ tertera alamat kerjanya. Belakangan Ikbal sudah tak pernah memberi Elisa kabar seperti biasanya, pun nomor yang biasa menghubunginya tidak aktif lagi. Selain ingin memberitahu bahwa ibu sudah meninggal lebih kurang 30 hari silam, Elisa juga ingin mencari kakaknya yang sudah dua tahun lamanya  tak memberi kabar.
Begitu tiba di Jakarta, Elisa bingung ketika pertama menginjakkan kaki di terminal. Jakarta sunggu berbeda ketimbang desa tempat ia tinggal. Elisa tidak tahu hendak ke mana hingga ia beristirahat dengan membeli coffeemix yang dijajakan ibu-ibu. Elisa hendak ke kamar mandi sehingga menitipkan tas kepada ibu yang dianggapnya baik tersebut. Setelah ia selesai buang air kecil, Elisa mendapati ibu tersebut sudah tak ada di tempat, pergi entah ke mana. Tas yang berisi baju dan sejumlah uang tersebut turut raib. Dari sinilah permasalahan-permasalahan baru diterima Elisa. Ia semakin yakin bahwa perlu kekuatan ekstra untuk bisa bertahan hidup di ibu kota.
Akhirnya Elisa pergi ke kantor polisi untuk melaporkan perampokan yang dialaminya. Di sana, Elisa justru tahu bahwa penjahat tak bisa langsung ditangkap. Elisa hanya menerima selembar kertas berisi laporan yang membuatnya bingung. Barang-barang dalam tasnya hilang, tak punya pegangan uang sepeserpun hingga membuat Elisa menangis. Polisi yang menerima keterangan Elisa merasa iba sehingga memutuskan untuk mengantar menuju ke tempat kakaknya bekerja berbekal wesel pos kucel yang masih dipegangnya.
Seketika harapan itu muncul di benak Elisa. Sekuriti menunjukkan cara untuk menemui kakaknya, yakni bertemu dengan Fahri, supir salah satu direksi perusahaan di gedung tersebut. Fahri mempunyai banyak kenalan di gedung itu. Elisa lantas menemui Fahri dan menceritakan tujuannya datang jauh-jauh dari Purwodadi ke Jakarta. Fahri lah yang menemani Elisa menghadapi riuhnya ibu kota. Sementara Elisa ikut Fahri tinggal di rumah susun. Selama tinggal di sana, Elisa rajin bersih-bersih hingga suatu ketika ia mendapati banyak salinan wesel pos yang tertuju ke alamat rumahnya di kampung dan sepucuk surat darinya yang belum dibaca. Selepas itu, Fahri berani membuka mulut kalau Ikbal, kakak Elisa sudah meninggal. Selepas ikbal meninggal, Fahri meniru kebiasaan Ikbal, selalu menyisihkan uangnya untuk Elisa dan keluarganya berbantuan wesel pos.
Novelet setebal 100 halaman yang bisa diselesaikan dengan sekali duduk ini menggambarkan betapa riuh dan rumitnya kehidupan di Jakarta. Berbagai persoalan pelik selalu menghinggapi kehidupan setiap manusia yang tinggal di sana. Misalnya menyoal urbanisasi. Menggeliatnya urbanisasi tidak dapat dilepaskan dari kemajuan yang tampak akibat modernisasi dan industrialisasi di Jakarta. Hal-hal dengan gemerlapnya yang ditawarkan ini kemudian memunculkan persepsi jika ingin sukses maka bekerjalah di Jakarta. Persepsi ini yang kemudian membuat orang berbondong-bondong meninggalkan desa, mengadu nasib ke kota metropolitan nomor satu di Indonesia. Urbanisasi ini memberikan banyak dampak di antaranya penduduk kota semakin banyak, desa semakin ditinggalkan, polusi dan kerusakan lingkungan semakin menggurita, terlebih persoalan-persoalan kriminal.
Selain itu, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka tiap-tiap individu semakin kompetitif. Individu harus bekerja dan berjuang lebih giat guna memenuhi kebutuhan hidup dan survive di ibu kota. Hal ini juga mempengaruhi pola interaksi antarmasyarakat yang semakin individualis. Solidaritas dan interaksi masyarakat ibu kota cenderung berbasis kepentingan ketimbang kekeluargaan.
Dalam novelet yang menggunakan wesel pos sebagai sudut pandang pertama ini, selain menceritakan persoalan Jakarta yang pelik dan keras sehingga harus menjadi manusia sakti dahulu agar dapat bertahan, juga berkisah tentang sulitnya mempertahankan prinsip hidup. Seperti halnya kisah Fahri yang ingin berhenti menjadi kurir narkoba namun terperangkap pada perjanjian dengan bosnya, jika tidak mau menjadi kurir selama hidupnya, maka ia diancam mati di jalan atau mati di tangan bosnya tersebut.
Penuturan Ratih Kumala cukup lancar, membuat pembaca sangat mudah memahami novelet ini meskipun terkadang jalan cerita selanjutnya sangat mudah ditebak. Cerita yang dihadirkan seakan memberi imbauan kepada pembaca bahwa untuk bertahan hidup di Jakarta haruslah menjadi orang sakti. Jika tidak, orang akan sakit dan mati ditelan kekalahan, seperti yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam Wesel Pos ini.
Judul               : Wesel Pos
Penulis            : Ratih Kumala
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : Pertama, Juni 2018
Tebal              : vii + 100 halaman
ISBN                : 978-602-03-8711-6
Peresensi       : Zakiyatur Rosidah

Ilustrasi google.com




Judul Film       : Assalamualikum Calon Imam
Produser          : Santi Muzhar
Sutradara         : Findo Purwono Hw
Penulis            : Oka Aurora
Produksi          : Prized Productions, Vinski Production
Durasi              : 93 menit
Peresensi         : Nailis S.

Film yang disutradarai Findo Purwono ini diadopsi dari Novel karangan Ima Madaniah berjudul Assalamualaikum Calon Imam yang diterbitkan pada tahun 2017. Pada saat pengumuman akan dibuatnya film ini, banyak pembaca novelnya yang antusias menunggu rilisnya film ini.
Buku ini mampu menarik banyak pembaca. Pada awal ketika diunggah melalui situs buku online wattpad, naskah novelnya mampu menarik hingga tiga juta pembaca. Peluang inilah yang dimanfaatkan Prized Productions dan Vinski Production untuk menggarap novel Assalamualaikum Calon Imam menjadi film.
Pembaca novelnya menanti-nantikan rilisnya film ini. Namun ekspektasi pembaca pupus. Para pembaca dibuat kecewa karena banyak bagian yang berbeda jauh dengan novelnya. Beberapa latar tempat, alur dan deskripsi tokoh diubah sehingga menjadikan film ini jauh dari karya aslinya.
Perbedaan novel dan filmnya sudah ditampilkan sejak awal yakni pada pertemuan antara Fisya (Natasha Rizky) dan Alif (Miller Khan). Pada film, Fisya berangkat ke kampus dengan menggunakan ojek online. Kemudian ketika berhenti di lampu merah terdengar suara dering telepon, Fisya menoleh ke ponselnya namun ternyata nada dering tersebut berasal dari handphone Alif yang berada di sebrangnya. Tiba-tiba terjadi kecelakaan tunggal di depan mereka. Fisya segera datang menolong korban, disusul Alif yang juga datang dan membantu Fisya. Korban pun di bawa ke rumah sakit untuk diberikan penanganan lebih lanjut.
Dalam novelnya diceritakan Fisya yang sedang dalam perjalanan ke kampus menaiki bus umum, tiba-tiba terjebak macet karena ada kecelakaan beruntun yang terjadi. Lalu Fisya turun dari bus dan bergegas membantu para korban kecelakaan. Langkahnya tertuju pada anak kecil yang sudah berlumuran darah, namun tidak ada satupun orang yang datang menolongnya. Dengan keterampilannya sebagai anggota Palang Merah Indonesia di Kampusnya Fisya segera menyelamatkan anak kecil tersebut. Setelah memberikan pertolongan pertama Ia mulai mencari kendaraan yang bisa membawa anak kecil tersebut ke Rumah sakit. Fisya melihat ada mobil yang dekat dengan posisinya, dia mengetuk jendela dan meminta bantuan, yang ternyata pengemudi mobil tersebut adalah Alif, seorang dokter yang sedang mengambil cuti. Alif pun membantu Fisya dan membawa anak kecil tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjut.
Selain pertemuan antara Fisya dan Alif, perbedaan lainnya ialah pada keadaan ayahnya yang sakit. Dalam Film ayah Fisya diceritakan sakit dan tengah dirawat di rumah sakit. Digambarkan Fisya membenci ayahnya karena masalah di masa lalu sehingga Ia tidak mau menjenguk ayahnya. Bunda (Keke Soeryo) dan Salsya (Merdi Octav) mencoba membujuk Fisya untuk menjenguk ayahnya, dan memintanya untuk memaafkan kesalahan ayahnya. Namun, dengan keras kepala Fisya menolak untuk menjenguk ayahnya. Sampai akhirnya Alif yang datang menghampiri Fisya, membujuk dan memberikan nasihat padanya. Akhirnya Fisya menerima, memaafkan ayahnya dan datang menjenguk.
Berbeda jauh dengan filmnya, dalam novel tidak ada satu pun anggota keluarga yang mengetahui penyakit ayahnya. Fisyalah orang pertama yang mecurigai keadaan ayahnya itu. Fisya menemui ayahnya yang pada waktu itu sedang dinas keluar kota. Dia terkejut karena ternyata bukan tempat dinas yang dikunjungi ayahnya, tetapi rumah sakit. Kemudian, Fisya merawat ayahnya di rumah sakit.
Terdapat perbedaan alur lainnya dalam film tersebut yakni beberapa alurnya. Jika dalam film ditampilkan bahwa ketika setelah sholat di masjid yang berada di kampus Fisya melihat dengan jelas dokter Alif sedang membaca surat Ar-rahman dengan indah. Dalam novel diceritakan bahwa Ia sering mendengar suara pria yang tidak diketahui engah melantunkan surat Ar-rahman. Ia selalu merasa tenang dan kagum ketika mendengar suara itu, sampai-sampai Fisya berharap bahwa pria itu bisa menjadi calon suaminya nanti. Setelah sekian lama diketahui bahwa ternyata pria itu adalah Alif. Selain itu, dalam novel Zidan (Andi Arsyil) hampir membatalkan pernikahannya dengan Salsya karena dia cemburu ketika melihat Fisya dengan Alif, dan dia merasa bahwa Fisya adalah cintanya, bukan Salsya. Namun alur ini tidak ditampilkan ke dalam film.
Selain dari alur dan juga beberapa scene yang ditampilkan. Perbedaan lain terdapat dalam deskripsi tokohnya. Jika Zidan dalam novel digambarkan sebagai seorang mahasiswa semester atas, yang sedang menggarap tugas akhir. Dalam film, Zidan merupakan seorang professor di universitas yang sama dengan Fisya.
Sebenarnya film ini telah dikemas dengan baik, pemeran-pemerannya pun dapat menghidupkan tokoh-tokoh yang diceritakan dalam novel. Membawa penonton ikut dalam cerita. Namun, banyaknya perbedaan yang ditampilkan dalam filmnya membuat pembaca novelnya kecewa karena film yang mereka nantikan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

ilustrasi google.com


Oleh: Astri Juniarti*

Lesbian Gay Biseksual Transgender atau orang sering menyebutnya dengan LGBT merupakan perilaku atau orientasi seksual yang menyimpang. Perilaku ini memiliki kecenderungan untuk mengarahkan rasa ketertarikan, romantisme, dan emosional seksualnya kepada pria, wanita, atau kombinasi dari keduanya. Menurut agama perilaku seksual adalah perbuatan pasangan suami istri antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang sah.
Di Indonesia, LGBT merupakan sebuah perbuatan yang dianggap tabu. Masyarakat beranggapan perilaku LGBT merupakan sebuah dosa besar yang sangat bertentangan dengan agama dan dapat merusak moral bangsa. Senada dengan hal tersebut, dilansir dari okezone.com, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, mengajak masyarakat untuk melawan perilaku ini. LGBT dinilainya sebagai penyakit sosial dan sebuah gerakan nyata yang harus dilawan.   
Ironisnya, banyak masyarakat yang menolak perilaku LGBT ini dengan cara mendiskriminasi. Kasus diskriminasi yang dialami oleh kaum LGBT di Indonesia umumnya berupa kekerasan, baik fisik (tindakan penganiayaan) maupun psikis (ujaran kebencian). Seperti yang terjadi bulan lalu, dikutip dari laman tirto.id, dua transpuan digebuki hingga ditelanjangi di malam Maulid Nabi tanpa sebab. Pelaku penggebukan ternyata berasal dari ormas agama.
Diskriminasi-diskrimasi yang diterima oleh kaum LGBT menyebabkan mereka merasa terancam dan tidak bisa memperoleh hak-haknya sebagai manusia. Laporan terbaru dari Human Rights Watch menyebut bahwa adanya persekusi dari aparat membuat kaum LGBT kesulitan mengakses hak-haknya atas layanan kesehatan, terutama pencegahan dan penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Beberapa studi juga menemukan bahwa kaum LGBT memiliki tingkat kecenderungan mengidap penyakit mental karena diskriminasi yang diterimanya.
Dari hasil pemantauan dan pendokumentasian Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat terhadap kasus Hak Asasi Manusia (HAM) menyatakan bahwa kelompok transgender adalah kelompok yang paling banyak mendapatkan diskriminasi dan pelanggaran HAM pada tahun 2017. Total korban berjumlah 973 orang yang terdiri dari 715 orang transgender, 225 orang gay, dan 29 orang lesbian serta 4 korban yang dikategorikan sebagai korban lain-lain. Hal seperti ini menjadi hal yang patut untuk diperhatikan.
Pertentangan atas keberadaan kaum LGBT ini lebih sering dikaitkan dengan permasalahan agama. Menurut Gunawan Saleh dan Muhammad Arif dalam jurnalnya berjudul “Fenomologi Sosial LGBT dalam Paradigma Agama” menyatakan bahwa semua agama memandang LGBT adalah perilaku seksual menyimpang dan tidak dapat diterima seluruh agama yang ada, khususnya di Indonesia. Akan tetapi, semua agama juga tidak mengajarkan untuk membenci hingga melakukan kekerasan terhadap sesama manusia.
Agama dan orientasi seksual seseorang merupakan hal yang sangat pribadi. Kemana pun arah orientasi seksual seseorang sudah menjadi pilihannya. Dari yang sudah dipilihnya, tentu ada risiko yang harus dipertanggungjawabkan. Pada dasarnya setiap manusia dilahirkan berbeda, begitu pula dalam cara berpikir terhadap sesuatu. Namun dari perbedaan yang ada, lantas tidak boleh dijadikan alasan untuk dapat melakukan diskriminasi kepada yang lain.
Banyaknya masyarakat yang telah terpengaruh oleh asumsi negatif terhadap kaum LGBT membuat mereka kurang memandang kaum ini dari sisi kemanusiaan. Bahwasannya kaum LGBT juga merupakan rakyat Indonesia yang mempunyai hak dasar untuk hidup. Seperti yang dilansir oleh Republika.co.id, Direktur Pusat Studi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia (Pusdikham) Universitas Muhammadiyah, Hamka Nasution, menyatakan jika hak-hak dasar LGBT harus tetap dilindungi, harus tetap memanusiakan manusia. Seperti negara harus memberi pengobatan jika sakit, juga memberi hak bagi LGBT untuk mengenyam pendidikan di Indonesia.
Menolak perilaku LGBT tentu boleh karena itu adalah hak masing-masing orang. Akan tetapi, jangan sampai melakukan kekerasan terhadap kaumnya. Kalau pun pemerintah mengeluarkan kebijakan pengharaman terhadap pernikahan sejenis, sangat boleh bagi masyarakat Indonesia sendiri mendukung penuh kebijakan tersebut atas nama agama dan moral bangsa. Atau jika LGBT dilegalkan, sangat boleh jika masyarakat Indonesia marah dan menuntut karena hal tersebut bertentangan dengan Pancasila, Undang-Undang, dan adat istiadat yang ada.
Sebagai manusia sudah seharusnya untuk saling memanusiakan satu sama lain dan akan lebih baik jika saling merangkul serta membenahi diri. Merasa diri sebagai manusia yang paling benar tidak patut untuk dilakukan. Karena nantinya ketika menemui suatu perbedaan pada manusia lain, tidak langsung membenci, mengecam, apalagi sampai mendiskriminasi. 



*) Kru Magang LPM Frekuensi jurusan pendidikan Biologi
Ilustrasi google.com

Oleh: Zakiyatur Rosidah



Belakangan ini terdengar kabar dua toko buku Ki Ageng di Kediri, Jawa Timur dirazia oleh aparat keamanan lantaran menjual buku-buku yang diduga berisi paham komunis. Begitu saya membaca di beberapa portal berita daring, sejenak saya menghela napas dan berpikir bahwa sekarang sudah bukan zamannya lagi hal semacam itu. Bagi saya, pelarangan buku di masa sekarang itu kuno, lagu lama dan bagian dari kecanduan nostalgik. Pun perbuatan keblinger yang seringkali salah alamat. Meminjam istilah Benedict Anderson dalam buku Hidup di Luar Tempurung, Indonesia memiliki masyarakat baru dan negara lama, artinya warga negara yang sudah memiliki kepercayaan lebih besar di hadapan penguasa sejak 1998 misalnya dengan kecaman yang diutarakan terkait pelarangan buku namun pada praktiknya seakan hukum mengenai penyensoran yang ditetapkan pada masa lampau (Orde Lama dan Orde Baru) masih terus berlanjut.
Berangkat dari sejarah, Indonesia termasuk negara yang sering memberedel, melarang, menyita, bahkan menghancurkan buku. Tercatat Orde lama sempat mengeluarkan Undang-Undang (UU) Nomor 4 PNPS/1963 yang membuat Kejaksaan Agung punya hak untuk melarang buku dan semua barang cetakan yang dianggap mengganggu ketertiban umum. Meskipun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak mengesahkannya, namun Presiden Soekarno tetap memuluskan peraturan itu dengan menjadikannya sebagai Peraturan Presiden. Selanjutnya, kewenangan tersebut diteruskan oleh Orde Baru yang tercatat paling banyak melarang buku dan barang cetakan lainnnya.
Radio Buku mencatat dalam kurun waktu 1959-2009, lebih dari 300 buku dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia. Adapun pengarang yang bukunya paling banyak dilarang adalah Pramoedya Ananta Toer. Pada 1959, Hoakiau di Indonesia dilarang, disusul dengan Keluarga Gerilya, Mereka yang Dilumpuhkan, Perburuan, Bukan Pasar Malam, hingga Tjerita dari Blora. Kurang lebih 24 judul buku pengarang asal Blora ini dilarang oleh pemerintah.
Kebanyakan buku dilarang di Indonesia ini dikarenakan alasan ideologis. Dianggap membahayakan Pancasila, meresahkan masyarakat, hingga karena ditulis oleh lawan politik. Oleh karena itu, sejak Orde Baru berkuasa, sebagian karya yang diberedel adalah karya penulis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Pun penulis yang diduga punya kedekatan dengan Uni Soviet. Ada sekitar 174 buku dan majalah baik dalam dan luar negeri yang dilarang oleh Lembaga yang disebut dengan Tim Pelaksana/Pengawasan Larangan Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme DKI Jaya. Tak hanya bertautan dengan ideologi negara, Indonesia juga pernah melarang peredaran buku karena kebudayaan. Pemerintah melarang semua buku beraksara Cina.
Pelarangan buku tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Alasan yang digunakan untuk melarang peredaran buku antara lain bahasa yang kasar, deskripsi seks yang jelas, perilaku seks yang menyimpang, perbedaan ideologi politik, penyerangan terhadap suatu ras.
Pakar perbukuan asal Venezuela, Fernando Baez, menyaksikan bagaimana peradaban digempur melalui pembakaran buku dan perusakan museum ketika ia berada di Irak yang kala itu Baghdad dihancurkan Amerika Serikat pada Mei 2003 silam. Pasca itulah Baez dihantui pertanyaan mengapa manusia menghancurkan buku? Ia pun meneliti dan menulisnya.
Baez menyatakan bahwa buku-buku dihancurkan bukan oleh orang awam yang pendidikan dan pengetahuannya kurang, melainkan justru karena kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing.
Misal, Buku The Satanic Verses karya Salman Rushdie terlarang di Iran lantaran dianggap menghina ajaran Islam dan Nabi Muhammad. Bahkan, ulama di negeri itu menghalalkan darah Rushdie melalui fatwa mati.
Lalu, pelarangan novel Animal Farm karya George Orwell di Uni Arab Emirat sejak 2002. Pemerintah menyatakan bahwa Animal Farm bertentangan dengan nlai-nilai islam karena, salah satunya menampilkan babi yang bisa bicara. Namun sepertinya itu hanya alibi belaka. Bisa jadi mereka takut rakyat punya kesadaran kelas, sebagaimana binatang-binatang dalam fabel politik tersebut. Masih banyak lagi kejadian serupa.
Biblioklas, begitu kira-kira istilah yang menggambarkan orang-orang pembenci buku karena potensi pengetahuan yang ditawarkannya. Biblioklas merupakan orang yang berpendidikan, perfeksionis, berbudaya, mempunyai bakat intelektual yang tidak biasa namun cenderung represif, berada dalam lembaga yang mewakili kekuatan yang sedang berkuasa, tidak mampu menolerir kritik, dengan fanatisme berlebih pada agama dan paham-paham tertentu.
Pemerintah Indonesia agaknya terinspirasi dari Nazi yang membakar puluhan ribu buku yang mereka anggap tidak mencerminkan semangat Jerman, pada 10 Mei 1933. Pun selama Perang Dunia II, Nazi setidaknya telah membakar 100 juta buku di daerah pendudukannya. Fasisme bisa jadi selamanya tak bisa sepakat atas semangat kebebasan berpikir yang diusung oleh buku-buku.
Selain itu, di Spanyol pada tahun 1930an juga melakukan hal serupa, yakni pada saat rezim Jenderal Franco. Sisa pendukungnya membakar Pompeu Fabra pasca ia kalah dari pasukan nasionalis. Pompeu Fabra adalah perpustakaan utama yang menyimpan berbagai buku dalam Bahasa Catalan. Tantara utusannya melakukan pemberangusan itu dengan meneriakkan “Mampuslah Para Pemikir!”.
Terkait penyitaan buku di Kediri oleh Polisi dan TNI, penyitaan ini berkebalikan dengan klaim militer setempat yang mengaku Razia tersebut dilakukan secara prosedural dan mengedepankan hukum. Pasalnya, dalam rilis Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Anggara pada Jumat (28/12), menilai bahwa  penyitaan buku yang sesuai prosedur hukum yang berlaku adalah dengan mendapat perintah dari pengadilan dan tidak sewanang-wenang. Hal itu dikarenakan Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Barang-Barang Cetak yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum telah dicabut oleh Mahkamah Konstitusi (MK) per 2010 silam dengan mengeluarkan putusan nomor 20/PUU-VIII/2010.
Itu artinya ketentuan hukum yang berlaku saat ini mengamanatkan agar seluruh perbuatan aparat penegak hukum untuk melakukan penyitaan terhadap buku yang diduga melanggar dan bertentangan perundang-undangan wajib untuk dilakukan melalui pemerintah pengadilan terlebih dahulu.
Sejalan dengan Bapak Pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, saya tetap percaya bahwa kemajuan bangsa ini bertumpu pada membaca lebih banyak buku, bukan melarang lebih banyak buku, dan pada keyakinan diri serta kemerdekaan berpikir rakyatnya, bukan pada kepatuhan intelektual yang dipaksakan oleh negara. Tabik.


Ilustrasi google.com

Oleh: Ani Amelia

Awan hitam
Tetiba kau datang tanpa diundang
Memberikan sebuah harapan
Kemudian kau menghilang
Tanpa adanya sebuah kepastian

Hujan
Kau turun dengan permisi
Dimana air sebagai amunisi
Hingga bak teras tak mampu menampungmu
Aku merasa, suatu hal akan terjadi
Dan benar, perlahan kau pergi
Dengan angin yang membawamu berlalu
Dan aku masih di sini
Menantimu kembali
Semarang, Desember 2018

Ilustrasi google.com

Oleh: Ani Amelia

Apakah ini negeri demokrasi?
Jika kau acuh dan tak mau mengerti
Mau jadi apa negeri ini?
Jika penguasa hanya obral janji
Mau jadi apa negeri ini?
Demi menduduki jabatan kursi tertinggi
Kau  menyuap sana sini
Mau jadi apa negeri ini?
Tatkala berjanji, namun tak ada bukti
Mau jadi apa negeri ini?
Jika kau hanya ingin menang sendiri, bahkan kaya sendiri
Lantas, inikah negeri demokrasi?
Sungguh, begitu ironi
Semarang, Desember 2018