Wacana

Sastra

Resensi

Forum

Latest Posts

Ilustrasi/ google.com

Oleh: Anisa Fauziyah*


            Mentari mulai keluar dari persembunyiannya, perlahan menampakkan diri mengiringi alunan langkah kaki para petani tembakau yang berbaris menapaki bukit laiknya barisan semut hitam. Tangan-tangan lihai mereka memetik pucuk demi pucuk daun tembakau muda untuk dikumpulkan di bakul. Seperti itulah potret kehidupan masyarakat pedesaan yang jauh dari ingar bingar kota. Mereka, para petani tembakau itu bekerja pada seseorang yang kaya raya.

Adalah Tuan William, seorang ilmuwan keturunan Indonesia-Eropa yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Jerman. Ia bersama istrinya meninggalkan Eropa dan melarikan diri ke bukit terpencil itu karena orangtua tidak merestui pernikahannya dengan sang istri. Namun, atas nama cinta akhirnya mereka memutuskan untuk kawin lari.

Bertahun-tahun perkawinan itu berjalan, sampai sekarang tak kunjung mendapatkan momongan. Berbagai cara telah mereka lakukan hingga pada suatu keajaiban membuat sang istri hamil dan melahirkan seorang putri cantik yang dinamai Meria. Semua orang di desa tersebut gembira, pesta pun tiada berakhir untuk merayakan kelahiran Meria.

***

            Hari demi hari berlalu, Meria tumbuh menjadi gadis yang manja, hampir semua keinginannya selalu terpenuhi. Namun tidak untuk kebutuhannya akan ilmu. Tuan William bersikeras untuk tidak menyekolahkannya dengan alasan letak sekolah yang terlalu jauh. Ia tidak ingin berjauhan dengan Meria. Ia dan istrinya yang akan menjadi guru untuk Meria, mengajarkan Meria banyak hal dan selalu menceritakan tentang kerajaan-kerajaan di Eropa. Di suatu malam, datang seorang tangan kanan Tuan William bernama Burhan mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.

"Tuan... Tuan... Tuan William," ujar burhan dengan nada panik.

"Kenapa kau?” tanya Tuan William sambil membuka pintu, “apa yang membuat kau datang kemari?"

"Binatang-binatang itu menghancurkan kebun tembakau, Tuan."

"Biadab! Aku bersumpah akan membunuh semua binatang itu."

            Keesokan harinya, Tuan William dan istrinya membuat racun dari bahan-bahan kimia untuk membunuh binatang perusak kebunnya itu. Terdengar suara ketukan pintu dari balik ruang laboratorium mereka. Dibukanya pintu itu oleh si pengetuk.

"Pa… Ma… aku ingin jalan-jalan," kata Meria sambil merengek.

"Ayo, sayang. Lain kali panggil saja dari luar dan jangan pernah masuk ke ruangan ini. Di sini banyak harimaunya. Nanti kamu bisa diterkam," balas Tuan William.

            Kemudian mereka berjalan-jalan mengelilingi kebun tembakau. Di sana telah ada Pak Burhan dan anak laki-lakinya, Zaka. Pak Burhan dan Tuan William berbincang-bincang perihal perkembangan kebun. Perbincangan itu terus berlanjut hingga tiba di rumah Tuan William. Meria dan Zaka tengah asik bermain sendiri. Meria memberitahu Zaka bahwa di ruang laboratorium ada harimau. Dua bocah itu memberanikan diri masuk ke ruang laboratorium untuk mencari harimau itu. Mereka mencarinya di setiap sudut ruangan. Alhasil mereka tidak menemukannya, hanya letih saja yang didapatkan.

Meria berusaha mencari air minum di ruangan tersebut, Ada bermacam-macam cairan yang berjejer di meja kerja ayahnya. Ia hanya menontonnya saja, tidak meminumnya karena tidak bisa membuka tutup botol cairan tersebut. Meria mengambil gelas beker dan menenggak isinya sampai habis separuhnya. Sisanya ia berikan kepada Zaka yang sedari tadi mencari sesuatu untuk meredakan hausnya.

Meria tergeletak lemas di atas lantai dengan tubuh yang membiru. Tak lama disusul oleh Zaka yang ambruk tak jauh dari Meria. Tuan William dan Pak Burhan terperanjat mendengar sesuatu pecah di dalam laboratorium. Mereka mencari asal muasal suara tersebut. Betapa terkejutnya mereka saat melihat dua bocah itu. Lalu dibawanya mereka berdua ke Mantri. Zaka berhasil diselamatkan tetapi tidak dengan Meria. Terlalu banyak racun yang ia telan. Tuan William sangat sedih dan marah. Dibawanya Meria kembali ke rumah. Ia bersumpah akan meracuni semua anak-anak di desa ini. Sumpah Tuan William itu tidak sengaja didengar oleh Pak Burhan. Pak Burhan mewanti-wanti Zaka untuk tidak memakan apapun dari Tuan William.

***

            Pagi itu Tuan William dan istrinya berkeliling kampung, membagikan makanan untuk semua bocah. Betapa gembiranya mereka mendapatkan banyak makanan. Malam harinya para warga gaduh dan berkeluh kesah karena anak-anak mereka menggigil dan suhu badannya tinggi. Mereka dilarikan ke Mantri tetapi ternyata tidak bisa menyembuhkan karena penyakit itu sangat langka dan aneh. Setelah berhasil meracuni anak-anak, Tuan William berkeinginan untuk membuat duplikat Meria. Ia hendak mengkloning Meria.

Beberapa tahun kemudian, bayi kloning itu berhasil mereka ciptakan. Bayi itu tumbuh menjadi gadis remaja yang wajahnya sama persis dengan Meria. Gadis itu bernama Millena. Ia merupakan gadis kloning yang berkepribadian laiknya manusia biasa, namun ia sangat rentan terhadap berbagai penyakit.

Millena disekolahkan di kota, setelah lulus kembali ke desa. Desa itu sangat asing bagi Millena, karena terakhir kali ia menginjakkan kaki di desa ini saat masih bocah. Ia berkeliling menyusuri desa ini dan menemukan seorang lelaki tengah duduk di bawah pohon sambil melamun. Millena berjalan menghampiri dan menanyakan alasan mengapa ia melamun seorang diri. Lelaki itu bercerita tentang kegelisahannya terhadap para remaja yang bertahun-tahun lalu diracuni oleh Tuan William. Millena sangat terkejut. Ayah yang menurutnya seseorang yang baik ternyata tega melakukan itu. Kemudian Millena dan lelaki itu mendatangi rumah para remaja yang mengidap penyakit aneh karena racun ayahnya.

***
           
Zaka membawa Millena ke rumahnya dan betapa terkejutnya Pak Burhan melihat perempuan di hadapannya itu. Seorang perempuan ciptaan manusia. Pak Burhan menceritakan bahwa Millena adalah manusia kloning. Air mata mengalir deras dari pelupuk Millena. Kemudian ia dan Zaka pergi ke kota untuk membeli racun dan penawar racun. Beberapa botol penawar racun itu dibawanya ke desa dan dibagikan kepada para remaja yang mengidap penyakit.

“Aku tidak ingin hidup sebagai manusia kloning,” kata Millena dengan terisak-isak, “aku tidak ingin hidup!”

"Aku ingin melihat kamu tetap hidup."

"Aku bukan manusia … aku tidak diciptakan oleh Tuhan."

"Persetan dengan siapa yang menciptakanmu. Melihatmu hidup kembali saja aku sangat senang, Meria.”

"Aku bukan Meria. Semirip apakah dia denganku?"

“Hampir tidak ada bedanya. Dulu Meria sangat dekat denganku, setiap hari kita bermain bersama. Aku sangat sedih saat kepergiannya. Dulu aku sangat mencintainya, bahkan sampai detik ini. Ia satu-satunya yang dekat denganku. Aku berharap ketika besar nanti dapat menikahinya," jelas Zaka dengan nada penuh pilu.

"Aku bukan Meria … biarkan aku mati saja!”

“Jangan, aku tidak ingin kehilangan Meria untuk kedua kalinya."
Millena hanya terdiam.

            Tak lama kemudian, Millena menemui kedua orangtuanya. Dipelukya mereka dengan erat. Millena mengambil racun itu dari sakunya lalu menenggaknya tanpa sisa. Ia terjatuh di pelukan kedua orangtuanya dengan mulut penuh busa. Melihat keadaan anaknya, dihisapnya busa-busa itu dari mulut Millena oleh Tuan William, kemudian keduanya terjatuh dan mati. Istri Tuan William kini menjadi sinting semenjak kehilangan kedua orang yang sangat ia sayangi.

*Kru Magang LPM Frekuensi Jurusan
Pendidikan Kimia angkatan 2017


Foto/ Anis

Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Kini mahasiswa UIN Walisongo semester akhir  tidak perlu menunggu untuk Test of English as a Foreign Language (TOEFL) dan Ikhtibar Mi’yar al-Kafaah fii al-Lughoh al-Arabiyah (IMKA). Pasalnya Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) membuat kebijakan jika TOEFL dan IMKA bisa dilakukan lewat jalur khusus dengan ketentuan mahasiswa telah memiliki pengesahan dari pembimbing skripsi dan siap untuk maju ujian munaqasah.
 “Saya merasa senang dengan kebijakan ini. Kami yang sudah menunggu berbulan-bulan akhirnya bisa mengikuti tes TOEFL dan IMKA tanpa harus menunggu lama,” ungkap Riri, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi semester 8.
Hal ini dibenarkan oleh Lianah selaku Wakil Dekan bidang akademik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) bahwa PPB telah menyosialisasikan terkait kebijakan tersebut ke masing-masing Fakultas melalui surat edaran.
“Mereka bisa mendaftar lewat jurusan masing-masing yang kemudian diberikan ke akademik,  selanjutnya didaftarkan ke PPB,tutur Lianah.
Ia pun menambahkan jika mahasiswa tingkat akhir yang akan melaksanakan tes  TOEFL dan IMKA lewat jalur khusus bisa langsung mendaftar. Kesempatan ini diberikan supaya mahasiswa tingkat akhir dapat lulus tepat waktu. Namun, jika sudah diberikan kesempatan seperti ini dan tetap belum lulus maka mereka harus mengulang kembali sampai lulus.
Pengumuman dari PPB ini sudah disebarluaskan ke seluruh fakultas kampus UIN Walisongo. Dari FST pengumuman ini telah disampaikan kepada masing-masing jurusan ketika rapat. Dengan memanfaatkan media sosial pihak jurusan menyebarluaskan pengumuman ini kepada mahasiswa tingkat akhir.
“Kami dari FST memiliki grup whatsApp yang beranggotakan komting masing-masing kelas. Dari grup ini kami mengumumkan kebijakan tersebut,tutur Yulia selaku Ketua Jurusan (Kajur) Pendidikan Matematika (4/4).
Ia pun menambahkan jika masing-masing dosen pembimbing juga turut serta menginformasikan kebijakan ini kepada mahasiswa khususnya semester 10-14 dikarenakan mereka jarang datang ke kampus.
Pasalnya kebijakan ini muncul karena mahasiswa semester awal diperbolehkan untuk mendaftar. Namun pada kenyataannya kebijakan tersebut justru tidak sesuai dengan tujuan awal.  Tidak disertainya penambahan kelas menyebabkan mahasiswa semester akhir tidak kebagian kursi. (Kabar/ Anis, Santi*)

*Kru Magang LPM Frekuensi Jurusan
Pendidikan Matematika angkatan 2017

(Foto/ Diah)

Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah bersama Komunitas Seni Rumah Rupa Walisongo (RRW) menyelenggarakan Seminar dan Pameran Seni Rupa, Senin (9/4). Acara yang bertajuk “Literasi Media” diselenggarakan di Auditorium II Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Budi Setyo Purnomo selaku ketua KPID Jateng dan Abdullah Ibnu Thalhah, dosen Pendidikan Seni UIN Walisongo.

Dalam seminar tersebut, Budi menyampaikan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia harus cerdas dalam menyaksikan siaran di media. Hal tersebut harus dilakukan karena pada era sekarang terdapat siaran-siaran yang tidak bermanfaat dan tidak sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia.

"Kita tahu bahwa di masa ini, apa yang kita nikmati tidak seluruhnya bermanfaat bagi publik," ujar Budi.

Menurut Budi, saat ini rapat redaksi yang dilaksanakan oleh aparat media, bukan untuk menerjemahkan keinginan redaksi. Akan tetapi, lebih ke arah keinginan marketing. Ia pun menambahkan jika terdapat tiga pengaruh dari televisi, yakni pengaruh langsung, penumpulan kepekaan, dan pengaruh dunia ganas atau agresif.

Budi juga mengungkapkan bahwa di daerah Jateng juga terdapat siaran yang tidak bermanfaat. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya judul lagu dengan makna yang buruk. Lagu-lagu tersebut biasa diputar di media massa, hal ini memiliki pengaruh besar bagi masyarakat.

"Di Jawa Tengah banyak judul lagu yang artinya saru dan sering diputar di radio-radio setempat, sehingga banyak disenangi masyarakat," jelas Budi.


Di akhir pemaparan, Budi berharap agar masyarakat dapat lebih cerdas. Sehingga mampu menghasilkan media yang lebih bermanfaat. (Kabar/ Diah*)


*) Kru Magang LPM Frekuensi Jurusan
Pendidikan Matematika angkatan 2017

Ilustrasi/ Furqon

Judul Buku     : 24 Jam Bersama Gaspar
Pengarang     : Sabda Armandio
ISBN              : 978-979-2229-80-6
Penerbit         : Mojok
Tahun terbit     : 2017
Tebal              : xiv + 228 halaman
Peresensi      : Syifa'ul Furqon


“Ingat sahabat, tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim.”


Begitulah potongan kalimat pengantar novel 24 Jam Bersama Gaspar karya Sabda Armandio. Sebuah novel yang berkisah tentang petualangan detektif yang mengungkap suatu perkara kebejatan.

Berkisah mengenai tiga lelaki, tiga perempuan dan satu motor yang berencana merampok sebuah toko perhiasan di pinggir jalan. Ialah Gaspar, salah seorang di antara kelompok tersebut yang berambisi merampok toko perhiasan kepunyaan seorang keturunan Arab bernama Wan Ali. Ia merampok karena hal sepele yakni penasaran dengan isi sebuah kotak hitam milik Wan Ali. Terdapat mitos yang menyertai kotak tersebut yakni dapat membuat pemiliknya kaya raya.

Dikarenakan motif obsesi tersebut, Gaspar merencanakan sebuah perampokan yang akan dilakukannya 24 jam kemudian. Bersama dengan motornya Cortazar, sebuah Binter Merzy keluaran 1976 yang dipercaya dirasuki jin Citah dan dapat menentukan pilihannya sendiri, Gaspar melintasi jalanan kota hari itu. Sering kali ketika sampai di persimpangan, Cortazar memiliki kehendak sendiri untuk memilih arah mana yang ingin dilaluinya.

Dalam perjalanannya ini, Gaspar dibawa Cortazar menyusuri jalan hingga akhirnya bertemu perempuan yang belum pernah dikenalnya bernama Afif -yang kemudian lebih sering dipanggilnya Agnes. Ia pun mengajak Agnes untuk ikut dalam rencananya merampok toko milik Wan Ali. Singkat cerita, Gaspar kemudian mengajak empat orang lainnya yakni Yadi, Bu Yati, Njet dan Kik. Mereka berenam bersama satu motor berencana merampok sebuah toko perhiasan.

Beberapa jam sebelum perampokan, Gaspar mengajak mereka mendatangi toko tersebut terlebih dahulu untuk memastikan benda yang diinginkan ada di tempatnya sekaligus “menyapa” Wan Ali dengan berkata nanti akan merampok tokonya. Tak disangka, kebenaran-kebenaran yang disembunyikan malah terungkap. Misi Gaspar sebagai detektif pun juga terungkap. Dikarenakan hal tersebut suasana menjadi kacau, kawan-kawannya malah kalap, bertindak di luar rencananya.

Singkat cerita, Gaspar keluar dari toko tersebut meninggalkan kawannya di dalam toko, disusul Agnes membawa benda incaran Gaspar dan memberikan kepadanya. Di akhir cerita Gaspar kembali ke rumahnya dalam keadaan sangat lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Bahkan Ia sampai meminta maaf kepada Cortazar karena harus memarkirkannya di tempat yang dibenci, di tempat itu Cortazar sering jatuh. Beberapa hari kemudian, kawan-kawan Gaspar datang ke rumah, lalu menemukan Cortazar dalam keadaan jatuh dan Gaspar yang sudah tak bernyawa.

Ketika membincang soal novel detektif, langsung terbayang sebuah tragedi pembunuhan dan kemudian muncul sosok detektif dengan analisis-analisisnya yang membuat takjub dalam menyelesaikan suatu kasus. Kisah heroik dengan alur muncul kasus, detektif menganalisis, timbul problem baru dan kemudian kasus selesai boleh jadi menjadi alur yang sudah terlalu mainstream. Dengan 24 Jam Bersama Gaspar, Dio memberikan angin segar dalam kisah detektif. Meskipun dengan kisah yang terkesan absurd, Dio menunaikan janjinya pada cover buku yang mengatakan “Sebuah Kisah Detektif”.

Dikemas dengan alur campuran, 24 jam Bersama Gaspar menampilkan cerita yang terkesan sepele namun mengandung informasi penting. Misalnya dalam setiap bab, Dio menampilkan sebuah dialog antara polisi dengan seorang wanita paruh baya, yang ternyata adalah Bu Yati. Pembaca mungkin akan bingung apa maksud dari dialog tersebut.  ternyata dialog ini mengandung informasi penting pendukung kisah Gaspar.  Tak hanya itu tokoh-tokoh pendukung lainnya juga mempunyai kisah-kisah sendiri yang cukup kompleks.

Novel yang menjadi pemenang unggulan dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 ini dikemas dengan bahasa sederhana dan jenaka. Meski demikian, novel ini mengandung sisi intelek dan gaya bahasa yang cenderung sarkastis. Satu kritik yang bisa jadi merupakan inti dari novel ini yakni perihal kejahatan dengan label untuk kebaikan bersama. Misal sebut saja Hitler dan para pemimpin otoriter yang berkuasa dengan tangan besinya membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengan kemauannya.

Di balik itu semua, bingung rasanya mengatakan novel ini sebagai novel detektif. Sangat minim, bahkan hampir tidak ada bagian khusus pengungkapan tragedi kelam yang terjadi. Tiba-tiba saja kasus yang terjadi terselesaikan. Penikmat kisah detektif macam Sherlock Holmes mungkin akan dibuat bingung dengan buku ini. Walau demikian, tentu novel ini masih bisa disebut novel detektif.

Dio memang merupakan penulis yang genius. Dengan ide kreatif dan inovatifnya dalam novel yang terkesan jenaka namun cerdas ini ia memberikan angin segar dalam kisah heroik detektif. Tentu novel ini memang layak menjadi pemenang unggulan dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2016 lalu.

Orasi Ilmiah oleh Saminanto yang disampaikan pada Dies Natalis UIN Walisongo ke-48
(Foto/ Diah)


Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan Sidang Senat Terbuka dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-48, Jumat (6/4). Dalam sidang yang diselenggarakan di Auditorium II Kampus III ini Saminanto, selaku Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) menyampaikan  sebuah orasi ilmiah dengan judul "Relevansi Prinsip dan Nilai Matematika Untuk Mewujudkan Visi UIN Walisongo".

Orasi ilmiah ini diangkat berlandaskan perubahan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi UIN. Hal tersebut merupakan suatu tantangan untuk melakukan transformasi, baik secara kelembagaan maupun secara kultur keilmuan. Menurut Saminanto, prinsip dan spirit matematika memiliki potensi untuk memperkaya dan memperkuat visi UIN Walisongo Semarang.

"Perubahan Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi UIN Walisongo Semarang merupakan suatu langkah maju," ujar Saminanto.

Dosen Pendidikan Matematika tersebut juga menjelaskan beberapa prinsip dan nilai Matematika yang relevan dalam pengembangan visi UIN Walisongo. Terdapat tiga prinsip yakni: prinsip kebenaran dalam matematika, kemampuan dasar dalam belajar matematika, dan nilai-nilai karakter yang dihasilkan dalam pembelajaran matematika.

"Matematika adalah ilmu bebas tetapi memiliki spirit, prinsip, dan nilai yang bisa disinergikan dengan visi UIN," tambah Saminanto.


Selaku orator, Saminanto berharap agar orasinya kali ini dapat menjadi sebuah sumbangsih pemikiran. Hal tersebut diarahkan ke dalam sumbangsih disiplin keilmuan untuk turut membantu pengembangan UIN Walisongo Semarang. (Kabar/ Diah*)


*) Kru Magang LPM Frekuensi Jurusan
Pendidikan Matematika angkatan 2017

Foto/ Dokumen pribadi


Semarang, KABARFREKUENSI.COM - Setelah suskses menggelar road show seminar di delapan universitas sebelumnya, CEO Kami Indonesia bersama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggucang Auditorium II Kampus III UIN Walisongo Semarang (29/3).  Seminar ini dihadiri para narasumber ternama seperti Abraham Samad—Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Zulkifli Hasan--Ketua MPR RI,  Firmansyah—profesor  termuda sekaligus Rektor Universitas Paramadina, dan Tubagus Dedi Gumelar.

Road show seminar motivasi  yang mengusung tema “Spirit of Indonesia ini mendapat sambutan yang istimewa dari mahasiswa. Menurut Abraham, dari 8 seminar yang sudah di gelar, UIN Walisongo  pesertanya  paling banyak.Panitia menyediakan 2000 kursi, tapi peserta yang datang kurang lebih 4700,” ungkap panitia seminar, Nurul Wafa (30/3). Seminar ini dibuka dengan prosesi pemukulan gong oleh Suparman Syukur  sebanyak sembilan kali sebagai lambang  Walisongo atau Wali Sembilan.

Sumpah Pemuda ialah ikrar Tunggal Ika

Menurut Firmansyah, potensi akademik masyarakat Indonesia sebetulnya sama dengan negara lain, hanya saja tingkat kepercayaan diri masyarakat Indonesia rendah. Semangat kolaborasi bangsa Indonesia juga kurang. Perusahaan besar kelas dunia seperti Toyota, Suzuki, Honda, dan Mazda berkolaborasi membangun platform charger mobil listrik. Iphone dan Samsung berkolaborasi menyusun platform layar datar.

Menurut Firmansyah, hal yang paling romantis di dunia ini adalah saat seseorang punya impian dan identitas, maka ia harus berani menggapai dan mewujudkannya. Zulkifli juga menegaskan bahwa saat bangsa ini mulai kehilangan identitasnya, persatuan sangatlah perlu untuk memajukan bangsa.

“Oleh karena itu, Sumpah pemuda bukalah Ikrar Bhinneka, tapi ikrar Tunggal Ika” tutur Firmansyah.

Tegakkan Inetgritas dan Moralitas

Penyebab maraknya korupsi di Indonesia adalah sistem yang buruk serta karakter moralitas dan integritas yang mulai luntur,” tukas Abraham.

Seseorang harus mengumpulkan uang dengan cara yang benar. Menurutnya, apabila tujuannya diletakkan pada segi finansial, itu bahaya.

“Kalau kita tidak membangun integritas, kita  hanya akan menjadi budak dari buku dan pengetahuan saja. Indonesia tidak butuh orang pintar saja, Indonesia butuh orang yang bermoral dan berintegritas,” tegas Dedi.

Saat memilih profesi, haruslah dilakukan dengan sepenuh hati, berintegritas, dan bermoral, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit, tapi kakimu harus tetap menginjak bumi. Jangan mengaku Indonesia kalau masih korupsi," tegas Abraham saat menutup pidatonya. (Kabar/ Jeje*)


*Kru Magang LPM Frekuensi Jurusan

Pendidikan Matematika angkatan 2016
Ilustrasi/ google.com

Oleh: Zakiyatur Rosidah

Hari ini tepat perayaan Hari Buku Anak Sedunia (International Children’s Book Day). Awal mula ditetapkannya 2 April sebagai Hari Buku Anak Sedunia adalah bertepatan dengan kelahiran salah satu pengarang buku anak terkenal di seluruh dunia, Hans Christian Andersen. Hal ini untuk menghormati kontribusinya terhadap cerita dan dongeng anak.

Cerita-cerita Hans Christian Andersen yang ditulisnya hampir dua abad silam, berhasil menembus zaman dan masih terus dibaca oleh pembaca lintas generasi. Karya yang ia hasilkan pada masa-masa awal ia berkarier sebagai penulis dongeng didasarkan pada sejumlah dongeng tradisi atau legenda, yang sebagian besar menyerupai karya-karya Grimm Bersaudara yang dipublikasikan 20 tahun lebih awal. Meskipun begitu, sebagian besar karya Andersen sangat orisinil dan cerita-ceritanya dikenal telah melampaui cara bertutur biasa pada masa itu. Sebagai contoh, karya-karyanya antara lain Putri Duyung (The Little Mermaid), Sleeping Beauty, dan Anak Itik Buruk Rupa (The Ugly Duckling).  Popularitas Andersen tidak terbatas pada anak-anak. Cerita-ceritanya mengungkapkan tema yang melampaui usia dan kebangsaan.
Infografik/ Furqon

Menyukai Sastra dan Teater Sejak Dini
Hans Christian Andersen atau lebih dikenal sebagai H.C. Andersen adalah seorang pendongeng ulung yang lahir di Odense, Denmark pada 2 April 1805, tepatnya di kawasan kumuh kota Odense. Ayahnya bernama Hans Andersen, seorang pembuat sepatu yang miskin, buta huruf, tapi selalu merasa dirinya masih keturunan bangsawan. Ibunya bernama Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.
Walau besar dalam keluarga miskin dan tidak pernah sekolah, sejak kecil Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng dan cerita rakyat dari ibunya. Ia juga sering diajak menonton pertunjukan sandiwara oleh ayahnya yang seorang pencinta sastra. Pengalaman dari orangtua itulah yang membuat Andersen tertarik dengan cerita dan sandiwara, termasuk karya William Shakespeare.

Masa-masa Menyedihkan
Saat Andersen berusia 11 tahun, ayahnya meninggal dunia. Akhirnya Andersen bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia pernah bekerja di pabrik rokok dan penenun.
Pada 1819, ia pindah ke Kopenhagen, ibu kota Denmark. Di sana ia ingin menjadi seorang aktor, penyanyi, atau penari. Awalnya, Andersen sempat bergabung dengan Royal Theater, tetapi ketika suaranya pecah karena masa pubertas, ia terpaksa meninggalkan panggung sandiwara. Kemudian ia memilih untuk menjadi seorang penulis. Ia pernah mencoba menulis beberapa naskah sandiwara, tapi sayang, semua karyanya ditolak di mana-mana. Tiga tahun berada di kota Kopenhagen, kehidupan Andersen terlihat begitu menyedihkan.

Titik Balik Kehidupan yang Menginspirasi
Pada tahun 1822, Andersen bertemu dengan Raja Denmark, Frederick VI, yang kemudian memutuskan untuk membiayai sekolah Andersen selama lima tahun. Ia bersekolah tata bahasa di Slagelse dan Elsinore. Namun penyakit disleksia yang diidapnya membuat sekolah menjadi pengalaman yang buruk. Ia tinggal satu atap dengan kepala sekolah yang gemar menyiksa. Selain itu, ia juga sulit bergaul karena ia lebih tua dari teman-teman sekelasnya. Meskipun demikian, justru pengalaman ini memengaruhi ceritanya yang berjudul The Ugly Duckling; bayi angsa yang telah diasingkan karena hidup di antara bebek. Tetapi, angsa justru tumbuh lebih cantik dari pada para bebek.
Pasca lulus dari sekolah bahasa, Andersen melanjutkan studi ke Universitas Kopenhagen. Salah seorang direktur Royal Theater, Jonas Collin, membiayai pendidikan H.C. Andersen sampai tamat. Sembari kuliah, pada 1828, Andersen menulis kisah perjalanan yang berjudul Fodreise fra Holmens Kanal Til Ostpynten af Amager (Berjalan kaki dari Kanal Holmen ke Titik Timur Amager).
Kisah ini mendapat sambutan yang luar biasa. Andersen menggarap ceritanya dengan meminjam gaya penulisan E.T.A Hoffmann, seorang pengarang roman asal Jerman. Sejak itu, puisinya yang berjudul The Dying Child diterbitkan oleh sebuah jurnal sastra di Kopenhagen. Pada tahun 1829, Royal Theater juga mementaskan drama musik karya Andersen.
Andersen juga gemar pergi berkelana dan  Raja Frederick VI lah yang membiayai seluruh perjalanan Andersen ke Prancis, Swedia, Spanyol, Portugal, Italia, bahkan hingga Timur Tengah. Perjalanan ini pun melahirkan setumpuk kisah perjalanan.

Karya-karya Andersen
Pada awal 1835, novel pertama Andersen terbit. Sebagai novelis, ia membuat terobosan baru melalui The Improvisator. Novel berlatar Italia ini agaknya mencerminkan kisah hidupnya sendiri yaitu upaya seorang bocah miskin yang masuk dalam lingkungan masyarakat. Sejak buku ini diterbitkan, masa-masa sulit Andersen mulai berubah.
Penemuan baru-baru ini, potongan naskah yang ditulis tangan Andersen yang berjudul Tallow Candle ditemukan di dasar gedung Arsip Nasional Denmark. Naskah ini diyakini menjadi salah satu cerita pertama yang ditulis pendongeng terkenal itu.
Meskipun novel-novelnya juga mendapat sambutan yang baik, namun nama Andersen menjulang tinggi sebagai penulis dongeng anak-anak. Ia menulis hampir 160 dongeng sepanjang hidupnya baik dari cerita rakyat Denmark, maupun yang lahir dari buah pikirannya sendiri. Cerita dongengnya yang paling tersohor adalah The Little Mermaid dan Thumbelina, dan The Tinderbox. Selain itu ada Princess and The Pea, The Snow Queen, Gadis Korek Api, sangat popular di berbagai belahan dunia sebagai cerita yang didongengkan pada anak-anak. Tulisan Andersen sarat akan pesan dan nilai moral tanpa kesan menggurui.

Akhir Hayat Andersen
Pada tahun 1872, Andersen jatuh dari tempat tidurnya dan menderita cedera. Dari situlah penyakit yang dideritanya mulai terdiagnosa. Ternyata ia mengidap penyakit kanker hati. Andersen mengembuskan napas terakhirnya pada 14 Agustus 1875 di usia 70 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman khusus Kopenhagen.
Andersen sendiri pernah mengatakan bahwa, "Hidup itu sendiri adalah dongeng terbaik yang pernah ada. " Inilah dongeng kehidupan Hans Christian Andersen yang sangat menginspirasi. Semoga bisa memacu semangat kita dalam berkarya.

Selamat Hari Buku Anak Internasional 2018!

Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.





Wacana

Forum

Resensi