Berita

Wacana

Resensi

Latest Posts

(Foto/ Ery)

Semarang, KABARFREKUENSI.COM – “The Essense of Wetland For Sustainable Development Goals” menjadi tema Seminar Nasional yang diselenggarakan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia (IKAHIMBI) Sabtu, (03/02). Seminar yang berlangsung di Auditorium I Kampus I UIN Walisongo mengundang antusiasme peserta yang hadir.  Terlihat dari keriuhan tepuk tangan para peserta seminar saat pembicara selesai memaparkan materi seminarnya.
Dalam momentum tersebut, pembicara yang hadir yaitu Jafron Wasiq Hidayat sebagai pembicara pertama yang memaparkan tentang konsep rehabilitasi danau yang melibatkan peran masyarakat, dan Rusmadi sebagai pembicara kedua dengan memaparkan tentang pentingnya menjaga eksistensi lahan basah demi kehidupan yang lebih baik.
Jafron yang merupakan dosen di Universitas Diponegoro mempresentasikan penelitiannya terkait penerapan Sawah Eco-sorban dalam rangka rehabilitasi danau berbasis masyarakat. Dalam penelitiannya tersebut, ia menjelaskan pengaruh aktifitas manusia terhadap perubahan Danau Rawa Pening yang ada di Kabupaten Semarang. Ia menyebutkan mahalnya biaya untuk merehabilitasi rawa dari kerusakan bila menggunakan teknologi dengan pembiayaan dari beberapa pihak seperti pemerintah dan swasta. Solusi yang ia tawarkan adalah konsep yang memberdayakan masyarakat sekitar rawa. “Saya mengusulkan rancangan yang bernama Sawah Eco-sorban,” katanya.
Konsep sawah Eco-sorban yang memanfaatkan makhluk hidup, seperti padi untuk menyerap nutrisi terlarut dalam air sebelum masuk kedalam perairan yang lebih besar menurutnya dapat menjadi solusi rehabilitasi danau. Konsep tersebut juga menekan biaya yang harus ditanggung bila menggunakan teknologi tinggi. Namun meski demikian, ia menyatakan terdapat tantangan dalam melaksanakan konsep tersebut. “Secara social menggiring masyarakat untuk melakukan pertanian Eco-sorban itu tidak mudah,ungkap Jafron.
Rusmadi selaku pembicara kedua mengatakan, terjadinya kerusakan lahan basah itu karena kesalahan cara pandang manusia terhadap lahan tersebut. Menurutnya, sebuah kota haruslah didesain sesuai dengan cara kerja alam. “Kota itu harus Design by nature, jangan melawan kehendak alam,tegasnya.

Lebih lanjut Rusmadi yang juga dosen Biologi UIN Walisongo menyebutkan pentingnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan lahan basah.“Konservasi harus ada di alam pikiran kita,” jelasnya. (Kabar/ Ery)
(Foto/ Ery)

S
emarang, KABARFREKUENSI.COM – Dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah yang jatuh pada 2 Februari, Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi (IKAHIMBI) wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “The Essense of Wetland For Sustainable Development Goals Sabtu, (3/2). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium 1 Kampus I UIN Walisongo tersebut juga sebagai awal serangkaian kegiatan musyawarah kerja IKAHIMBI wilayah III.
Seminar tersebut menghadirkan Peneliti Lahan Basah Universitas Diponegoro, Jafron Wasiq Hidayat dan juga Pakar Ilmu Lingkungan UIN Walisongo, Rusmadi sebagai pembicara. Hadir pula Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Ruswan, dan Ketua Jurusan Pendidikan Biologi UIN Walisongo, Siti Mukhlishoh. Acara berlangsung dari pukul 08.45 – 11.45 WIB.
Meskipun kondisi cuaca sedang hujan, acara berlangsung cukup sukses. Terlihat dari banyaknya mahasiswa yang hadir baik dari berbagai jurusan di UIN Walisongo serta mahasiswa biologi dari berbagai universitas di Jawa Tengah dan DIY. (Kabar/ Ery)
Ilustrasi : Google.com

Bunuh diri  adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian pada diri sendiri. Bunuh diri merupakan penyakit gangguan jiwa yang berhubungan dengan depresi, bipolar, atau ketergantungan obat dan lain sebagainya.
Bunuh diri juga dapat dilatarbelakangi oleh keinginan meniru kasus bunuh diri sebelumnya atau disebut dengan copycat suicide . Kasus copycat suicide terbesar terjadi di daratan Eropa yang dilatarbelakangi oleh kasus seorang pemuda bernama Warther, tokoh dalam sebuah novel berjudul The Sorrow of Young Warther  karya Johan Wolfgang von Geothe. Novel ini mengisahkan seorang pemuda yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Akhir dari novel ini adalah sang pemuda Werther menembak kepalanya sendiri karena hasrat untuk memiliki wanita yang ia dambakan tak sampai.
Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1774 dan memiliki banyak penggemar di dataran Eropa. Begitu populernya novel ini di kalangan pemuda galauers Eropa pada masa itu, bahkan hampir 2000 pemuda galau Eropa melakukan bunuh diri ketika cintanya bertepuk sebelah tangan dengan cara menembakkan pistol di kepalanya.
Hingga pada tahun 1974, David Philips, peneliti yang meneliti kasus bunuh diri imitasi (copycat suicide), menamakan fenomena bunuh diri ini dengan sebutan Warther Effect atau Warther Syndrom. Karena kasus ini, banyak Negara-negara di Eropa yang melarang buku ini untuk diterbitkan. Bagi penderita sindrom Warther, ini adalah penyakit kronis yang hanya dapat disembuhkan dengan bunuh diri.
Menurut data survei WHO, tercatat 800.000 orang bunuh diri setiap tahunnya di dunia. Negara dengan angka bunuh diri tertinggi adalah Korea Selatan. Angka bunuh diri di Negara para Oppa tersebut adalah 36,8 dari 100.000 penduduk. Sedangkan, angka bunuh diri di Indonesia sendiri adalah 3,7 per 100.000 penduduk. Dengan 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam.
Berdasarkan penjelasan Agung Kusumawardhani, dokter Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, bunuh diri merupakan satu dari penyebab utama kematian pada kelompok umur 15 sampai 44 tahun dan nomor dua untuk kelompok 10 hingga 24 tahun.
Seseorang bisa melakukan bunuh diri karena rasa putus asa. Pada kondisi depresi berat seseorang cenderung memiliki pemikiran pesimis dan tidak bisa berpikir adanya upaya alternatif untuk menyelesaikan masalah. Faktor kebahagiaan merupakan faktor utama terhadap keputusan untuk melakukan bunuh diri. Menurut riset psikologi, dikutip dari @faktagoogle  mengatakan bahwa: membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah penyebab ketidakbahagiaan diri dan depresi.
Ada beberapa cara unik dari beberapa negara untuk mengobati depresi, pertama datang dari Swiss, terapi memeluk sapi untuk usia 7tahun keatas memeluk sapi dapat menenangkan fikiran dan menghilangkan depresi.
Cara kedua, terapi membungkus diri berasal dari Jepang. Ketiga Masuk ke "scream room" ruang kedap suara, terapi ini berasal dari Mesir. Berteriak di ruang kedap suara dapat melepaskan stres.
Keempat, menonton pusaran air berasal dari Norwegia. Menonton pusaran air dengan musik klasik selama 12jam dapat menenangkan diri dan mengobati depresi. Salah satu televisi swasta di Norwegia sengaja memberi siaran pusaran air untuk satu minggu sekali. Yakin mau coba cara ini??
Selanjutnya Pijatan kepala dan bahu dari India. Lalu ada Mandi suara (meditasi dengan mengandalkan suara) dari California.
Setiap individu memiliki jalan dan takdir hidup masing-masing, dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya karena Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi kemampuan hambanya.


Oleh Binti Mutammimah
Kru Magang LPM Frekuensi
Prodi Pend. Kimia
Angkatan 2017
Ilustrasi : Google.com
Oleh: Binti Mutammimah*

Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Sebuah kasih yang tak seorang pun dapat menggantikannya. Sebuah kasih yang asalnya dari jiwa terdalam, untuk kita anak-anak surga, sebagai pembimbing kelak di kemudian hari. Berjalan meratap kosongnya koridor, memikirkan sekembalinya dari gurun sahara, kesanggupannya menjadi bunga, sambil memandangi sebuah gambar tanpa warna.
Ada seorang lelaki yang sangat mirip denganmu di foto dalam dompet itu, tengah menggendong seorang bayi mungil. Lelaki itu, usianya tiga puluh lima tahun, tersenyum, dan tampak gagah dengan kemeja yang warnanya tak begitu jelas. Matanya tampak berkaca-kaca penuh haru dan harap. Tapi di balik itu, seperti ada kekhawatiran yang tertahan.
Lelaki itu ayahmu, sembilan belas tahun yang lalu. Ia ingin menyambut kehadiran adikmu. Ya, bayi mungil itu tentu saja adalah adik bungsumu. Hari itu, semestinya ayahmu ada di sana menemani detik-detik perjuangan kekasihnya melahirkan adikmu. Sayangnya, ada tugas yang tak dapat digantikan. Setelah selesai, ia terburu-buru menuju Puskesmas tempat bidan desa, adikmu akan dilahirkan. Ia tiba dengan baju yang basah karena keringat dan nafas yang tersengal-sengal.
Kisah cinta mereka adalah kisah cinta biasa. Ayahmu adalah seorang petani yang sawahnya tidak terlalu luas, sebagian hasil panen disimpan untuk makan sehari-hari, sebagian lagi dijual untuk membeli bahan makanan lain. Dan ibumu, ia seorang perias pengantin yang cukup terkenal namun penghasilannya tak seberapa. Sementara itu, sebenarnya ibumu bukanlah istri pertama ayahmu.
Allah mempersatukan mereka berdua, hingga sampailah mereka di titik ini. Salah satu titik dalam garis hidup yang mereka tunggu-tunggu. Kadar penantian mereka akan kehadiran seorang putri sudah mencapai tahap gawat. Akhirnya, setelah lebih kurang sepuluh tahun mereka menanti, dikabulkan juga doa-doa mereka di setiap malam panjang yang mereka lewati setiap hari: adikmu hadir disana, sebagai janin kecil yang diperkirakan oleh seorang dukun beranak berjenis kelamin perempuan, sangat dinantikan.
Sepuluh tahun.
Manusia mana di muka bumi ini yang merindukan seseorang sepuluh tahun lamanya, lantas merasa biasa saja ketika akhirnya bisa berjumpa dengan yang dirindukan itu? Begitu pula ayah dan ibumu. Kamu barangkali bisa membayangkannya kerinduan itu, tapi tak benar-benar bisa merasakannya.
Di tengah kekhusukan ia berdoa, terdengar suara tangis yang nyaring. Pintu terbuka, seorang perawat keluar dengan bayi mungil di tangannya. Dengan ekspresi penuh rasa bersalah menyerahkan bayi itu, seorang puteri cantik dengan hidung orang Indonesia yang cenderung pesek. Ayahmu senang bukan kepalang ia bersimpuh mengucap syukur. Putri yang dalam benaknya kelak akan merawat mereka ketika tua kelak. Tetanggamu yang bekerja sebagai wartawan dan ikut menantikan kehadiran adikmu langsung mengabadikan momen itu.
 Beberapa saat kemudian, detik-detik melambat. Sepaket dengan kalimat bidan yang diucapkan terbata-bata mengubah ekspresi wajah ayahmu dalam sekejap.
“Mohon maaf, pak," katanya sambil tertunduk, “Takdir Tuhan berkata lain, istri bapak berhasil melahirkan putri bapak dengan susah payah, namun mengalami pendarahan dan tak bisa diselamatkan.”
Ayahmu tersendak, tubuhnya gemetar. Matanya penuh dengan air mata yang tak dapat dibendung. Adikmu lantas diserahkan kembali ke pangkuan perawat. Ia berlari memeluk tubuh ibumu yang dingin tak bernyawa. Beberapa menit kemudian ia tak sadarkan diri. Kehilangan gairah dan semangat hidup untuk kali kedua bukanlah hal yang mudah.
Cukup lama ayahmu berbaring tak sadarkan diri. Kamu yang saat itu masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak tak mengerti apa yang terjadi. Rumahmu ramai, kakakmu yang sudah duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar menangis di pangkuan pamanmu. Adik lelakimu yang berusia tiga tahun digendong oleh Bude Warti, tetangga sebelah rumahmu dan adik bayimu aman bersama dengan bidan desa.
Allah menciptakan manusia untuk diuji: apakah akan tunduk kepada-Nya atau justru membangkang dengan dada membusung sambil terus berjalan menjauh dari-Nya.
Beberapa hari setelah peristiwa kelahiran yang penuh dengan darah dan air mata, ayahmu mulai tenang. Adikmu dibawa pulang ke rumah. Dibantu dengan Bik Sri, adik kandung ayahmu, kamu dan ketiga saudaramu diasuh dengan penuh kasih sayang.
Dua tahun sudah Bik Sri membantu mengurusmu dan ketiga saudaramu, hingga ia memutuskan untuk kembali lagi ke kampungnya dan hanya sekali dalam dua bulan ia berkunjung. Hal ini membuatmu dan kakakmu tumbuh menjadi mandiri. Sepulang sekolah kamu dan kakakmu bergantian mengurus kedua adikmu serta mengembala kerbau. Bahkan di usiamu yang masih belia kamu sudah bisa ngeliwet nasi, karena ayahmu tak sempat. Bersyukur kamu memiliki tetangga seperti Bude Warti yang bisa dimintai tolong untuk memasakkan sayur atau lauk untuk kalian makan.
Dua kali ditinggal oleh sang kekasih untuk selamanya membuatnya menjadi seorang pria berwatak dingin dan acuh, termasuk denganmu dan ketiga saudaramu. Kamu tumbuh sebagai anak yang kekurangan kasih sayang. Dalam benak ayahmu hanya ada kalimat “yang penting aku sudah menepati janjiku untuk membesarkan anak-anak” tanpa memikirkan bahwa kalian juga memerlukan kasih sayang dan perhatian.
Kamu beranjak dewasa, adik bayi mungilmu tumbuh menjadi gadis cantik yang sama sepertimu, penuh kemandirian. Membagi waktu untuk mengasuh adik dan mengembala kerbau, membuatmu kehilangan banyak waktu untuk mengulang pelajaran di rumah. Meski kamu bukan siswa yang pandai setidaknya kamu masih memiliki kemauan untuk belajar dan membantu adikmu belajar.
Hari itu tanggal 21 Desember. Adik perempuanmu menghampirimu, ia bertanya tentang ibu. Lantas kamu hitam, bak tangki air yang berlubang di dasarnya dan kamu mencoba menambalnya lagi dengan kertas tipis.
            Dengan terbata-bata kau bertanya,
            “kenapa dek, kok tiba-tiba tanya tentang ibu?”
Adikmu bercerita, bahwa guru Bahasa Indonesia memberi tugas untuk membuat puisi tentang ibu. Dan setiap siswa wajib membacakan puisinya di atas panggung didampingi oleh ibu masing-masing.
Kamu sela jawaban adikmu dalam rintihan, kehangatan pilu mengalir di pipimu. Adikmu terdiam memandangi wajahmu yang mememarah dengan pipi yang basah. Puisi untuk ibu? Bagaimana mungkin? Batinmu saat itu. Wajahnya saja dia hanya tahu dari foto, yang tak begitu jelas. Jangankan dia, kamu pun sudah lupa bagaimana wajah ibu. Membaca puisi didampingi ibu? Lelucon apalagi itu. Dukun mana yang harus kamu kunjungi dan dimintai tolong untuk menghidupkan kembali ibumu beberapa menit saja demi adikmu?
Saat itu kamu membenci waktu, dan merasa Allah terlalu tega terhadapmu karena ia telah mengambil ibumu. Hampir lima menit kamu menangis, lalu kamu hapus air matamu.
“Kita ke makam ibu yuk.” Ajakmu. Ucapanmu mengejutkan. Hampir sepuluh tahun kamu menutupi semuanya dan bertindak seolah semua baik-baik saja, namun hari itu kamu bertindak sabagaimana mestinya.
22 Desember, hari ibu. Ya, seharusnya ibu yang berdiri di samping adikmu bukan kamu, kakaknya. Tapi bagi adikmu itu sudah lebih dari cukup.

            Ibuku adalah kakakku
            Kakak memang tak pernah menyusuiku
            Kakak juga bukan ayahku
            Kakak juga tak membesarkanku.

            Tapi setiap pagi
            Kakak selalu menyiapkan sarapan untukku
            Mengajariku membaca dan berdoa

            Ibuku adalah kakakku
            Dia yang mengasuhku dengan kasih sayang
            Dia bagai bunga di tengah gersangnya gurun sahara

            Ibuku adalah kakakku
            Digandengnya tanganku
            Bersama kami akan pergi menyusul ibu
            Di surga nanti

Puisi singkat namun mengharukan. Guru-guru dan wali murid yang datang bertepuk tangan, sebagian lagi sibuk menyeka air mata.
*
Sifat acuh dan keras kepala ayahmu masih terus berlanjut sampai kamu lulus dari bangku sekolah menengah atas. Kemauanmu untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi ditolak mentah-mentah oleh ayahmu. Baginya sekolah sampai menengah atas itu sudah luar biasa, dibandingkan teman-teman seusiamu yang hanya lulus SMP atau bahkan SD.
Dengan tekat yang bulat dan nekat, kamu jual kerbau milik ayahmu. Kamu berangkat ke Yogyakarta, tanpa berpamitan langsung dengan ayahmu. Kamu hanya menuliskan surat berisi permintaan maaf dan doa restu, kamu juga berjanji akan menjadi orang sukses yang lebih baik dari ayahmu. Surat itu kamu titipkan adik perempuanmu yang tak berhenti mengalir air matanya.
Tujuh puluh dua jam perjalanan dari desamu menuju ke Yogyakarta, tanpa tujuan yang pasti. Kamu bersinggah di Masjid As-Salam, desa Sutopadan, kelurahan Kasian, Bantul, Yogyakarta, dekat kampusmu. Di sana kamu dipertemukan dengan seorang pria seumuran dengan ayahmu. Bapak Sabar, yang memberimu izin untuk menjadi takmir masjid.
Hidup alakadarnya, kiriman uang tak tentu datang, kamu terus berusaha untuk kuliah. Bekerja serabutan kesana-kemari, mengerjakan apa saja yang bisa kamu kerjakan untuk biaya kuliah. Semangatmu tak pernah padam karena janji yang kamu buat selalu kau ingat.
***
Hari itu kamu diwisuda. Jalanan sempit sesak dipenuhi dengan kendaraan orang tua para wisudawan-wisudawati, meski orang tuamu tak termasuk di antara mereka. Ketika yang lain didampingi oleh orang tua dan keluarga, kamu hanya didampingi oleh selembar kertas, foto ayah dan adik bungsumu sembilan belas tahun yang lalu. Sembilan semester kau tempuh untuk mendapatkan gelar S.Ag dengan indeks prestasi hanya 2,75 setidaknya kamu sudah berhasil melewati rintangan-rintangan itu.
Setelah empat setengah tahun kau merantau, tibalah saat itu kau kembali ke kampung halamanmu dengan rasa bahagia dan bangga karena telah berhasil menepati janjimu kepada ayahmu.
Kamu percepat langkahmu agar segera menemui adik dan ayahmu. Namun, seketika langkahmu justru melambat ketika sudah hampir sampai di halaman rumah. Rumahmu ramai.
Kamu teringat akan peristiwa enam belas tahun yang lalu, yang tampak samar di ingatanmu. Peristiwa ketika rumahmu ramai dan penuh dengan airmata. Langkahmu terhenti, hati begitu penuh dengan ketakutan seolah tanpa harapan. Pipimu mulai basah, becek karena air mata. Setelah hampir satu menit kau berhenti dan berpikir, lantas segera kau lari menuju rumah tanpa menghiraukan tas bawaanmu.
Dengan airmata yang belum terbendung kamu masuk ke dalam rumah. Ya, peristiwa enam belas tahun yang lalu kembali terulang. Kau peluk ayahmu dengan erat sambil menangis tersendu-sendu, hingga kau merasa lega. Rumahmu ramai dan penuh air mata.
Namun, kali ini air mata haru dan kebahagiaan. Setelah enam belas tahun, akhirnya ayahmu yang dingin dan keras kepala menemukan kehangatannya, yang melembutkan kembali hatinya. Ayahmu menikahi seorang janda. Yang kelak kau panggil ibu. Meski kau sempat merasa kecewa karena ayahmu tak memberimu kabar akan pernikahannya, kamu tetap merasa bahagia dan bersyukur karena Allah telah mengembalikan ayahmu seperti dahulu, dan adik perempuanmu kini sudah lulus dari sekolah menengah atas dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri terbaik di pulau sumatera. Tentu, dengan restu dari ayahmu.
Yakinlah bahwa segala bentuk ketertekanan yang menderamu, adalah cara Tuhan untuk membuatmu lebih kuat. Memaksamu untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada, karena setiap kita memiliki benih untuk menjadi hebat. Jadi, melangkahlah.



*)Kru Magang LPM Frekuensi
Prodi Pend. Kimia
Angkatan 2017
Ilustrasi : Google.com


Oleh : M. Arif Rahman



Kopiku masih tetap pekat sayang, tebal endapannya.
Sepekat rasa yang tertimbun sepanjang aliran darah.
Kopiku masih tetap pekat, sayang.
Namun, kali ini tanpa bibirmu yang menjamah.
Bahkan tak kubiarkan bibir lain menjamah bibir cangkir kopiku
Aku tak mau menghapus kenanganmu yang menggenang dalam cangkir kopiku
Apalagi mencoba menghapus bekas bibirmu denga bibir yang lain.

Kopiku masih tetap pekat, sayang.
Sepekat kabut tebal yang mengisi ruang oksigen dalam diri.

Tunggu dulu, Ada yang berbeda dalam kopiku kali ini.
Ia tak sepahit waktu itu
Sejak kau meninggalkan cangkir kopiku,
Rasa manis bibirmu masih selalu tersimpan dalam tiap cangkir kopi yang aku minum.

Kopiku malam ini, tak lagi kesepian
Sejak ia sadar, masih ada yang lebih sepi daripada dia yang mengendap dalam cangkir.
Malam tanpa-Nya adalah kesepian yang nyata


16/12/2017 Ruang Hujan
Ilustrasi : Google.com

Oleh : Anisa Fauziyah*


Saat luka menyayat relung hati
Kau hadir hapuskan genangan di pipi
Kau bisikan kata tanpa henti
Membuatku tak menangis lagi
Wajahmu bersinar layaknya mentari
Bibirmu menyimpan keindahan pelangi
Kau dikirim Yang Maha Suci
Sebagai malaikat dibumi
Sebagai kompas buah hatimu ini
Ibu..
Tataplah lekat mataku
Mata yang selalu mengagumi mu
Mengagumi sosok tegar sepertimu
Ajarkan aku bersabar layaknya dirimu
Ajarkan aku tersenyum diatas dukaku
Ajarkan aku meruntuhkan egoku
Ajarkan aku tertawa diatas pedih dan sendu
Ajarkan aku memainkan peranmu
Ibu...
Kulantunkan ayat-ayat suci dari kitabku
Untuk mengusir mata jahat yang memandang mu
Kusisipkan namamu disujudku
Agar Rabbku senantiasa memelukmu 

*) Crew Magang LPM Frekuensi
Prodi Pendidikan Kimia
Angkatan 2017
(Foto/ Furqon)

Semarang, KABARFREKUENSI.COMPemberian kartu parkir sebagai kebijakan peningkatan keamanan kampus di UIN Walisongo, akhir-akhir ini sudah tidak berlaku lagi. Menurut Zaenal, salah satu anggota keamanan, banyak oknum-oknum yang menyelewengkan kebijakan tersebut.

“Kartu-kartu parkir tidak dikembalikan dan habis. Banyak kartu yang tidak dikembalikan ketika keluar gerbang kampus. Mereka beralasan jika tidak diberi kartu saat masuk kampus,” ujar Zaenal, (18/12).

Mahin Arnanto selaku Katua sub bagian Rumah Tangga pun menyayangkan hal tersebut. Menurut Mahin, kartu yang telah dibuat telah mencapai 10.000 kartu dan tersebar di kampus satu sampai tiga. Namun, hingga saat ini jumlah kartu yang ada semakin berkurang.

“Ini bahaya jika disebarkan lagi,” tegas Mahin.

Penggelapan Kartu
Praktiknya, oknum-oknum tersebut mengaku tidak mendapat kartu parkir saat dilakukan pengecekan oleh satpam. Mereka pun keluar kampus dengan menunjukkan STNK. Fenomena ini kerap terjadi tiap harinya dengan berbagai motif, sehingga banyak kartu yang terus berkurang.

"Sebenarnya tidak ada niatan untuk mengoleksi. Buat jaga-jaga saja kalau lupa bawa STNK, tapi ternyata jadi kebiasaan membawa pulang kartu parkir dan tidak dikembalikan lagi,” aku salah satu mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika.

Mahasiswa tersebut mengaku jika menyimpan lima kartu parkir. Namun sekarang tersisa satu, dikarenakan sudah diberikan kepada teman-temannya yang tidak mendapatkan kartu parkir dan tidak membawa STNK.

Pro-Kontra
Sistem kartu parkir telah menuai banyak respon warga kampus. Tertibnya akses kendaraan mahasiswa menjadi salah satu keunggulan dari sistem ini. Pemantauan kendaraan menjadi lebih maksimal dikarenakan petugas dapat mengetahui siapa saja yang keluar-masuk kampus.

“Sangat baik sekali ketika mengatasi jalannya aktivitas dengan singkat dan biaya yang murah. Akhirnya semua kendaraan bisa kita deteksi saat masuk dan keluar,” tutur Mahin.

Di sisi lain, terdapat pula kelompok yang menilai jika sistem tersebut kurang efektif dari segi keamanan.

“Saya masih merasa was-was dengan sitem kartu parkir ini karena bisa jadi pencuri kerja sama dengan mahasiswa untuk mendapatkan kartu parkir,” ujar salah satu mahasiswa Pendidikan Matematika.

Menurut Mahin, ketidakdisiplinan petugas serta kurangnya kesadaran warga kampus, juga mempengaruhi  kelancaran sistem ini. Akibatnya, banyak oknum mahasiswa yang memanfaatkan kelemahan sistem ini untuk tidak mengembalikan kartu.

Akhirnya, kebijakan sistem keamanan kampus pun kembali ke sistem sebelumnya - sebelum kartu parkir - . Yakni, dengan patroli keliling kampus dan mengawasi setiap kendaraan yang keluar dari area kampus. Jika terdapat kendaraan yang dicurigai, akan dicek surat-suratnya.

Solusi
“Saya selalu mengingatkan petugas agar berkala meningkatkan keefektifan keamanan kampus. Harapan saya petugas semakin disiplin dengan jaminan keamanan bagi kita” ujar Mahin.

Pada Januari 2018, pihaknya akan menerapkan gate barrier sebagai sistem kebijakan baru. Tekniknya, mahasiswa harus punya kartu untuk membukanya, jika tidak maka tidak bisa masuk.

“Rencana ini masih dalam proses dan sudah mencapai kesiapan sebesar 70%, “ tambah kasubag Rumah Tangga itu.

Sistem ini diharapkan dapat menekan angka kejahatan kendaraan dan keamanan kampus. Petugas harus tahu di pos mana yang perlu menjadi pusat perhatian.

Pun tidak hanya motor saja, keamanan yang ada di kantor yang betul-betul vital juga perlu pengawasan,” pungkas Mahin. (Kabar/ Afifah, Puja)*


*) Crew Magang LPM Frekuensi
Prodi Pendidikan Matematika
Angkatan 2017


Wacana

Forum

Resensi

Sastra

Forum